Hari Kartini Nggak Melulu Konde dan Kebaya




Oleh : Sri Indrianti (Pemerhati Remaja – Tulungagung)

Sobat muslimah, hingar bingar Hari Kartini udah mulai nampak nih. Semenjak beberapa hari silam, anak-anak SD dan Tk di sekitar rumah riuh membicarakan hari istimewa ini. Mereka sibuk membicarakan mau pake kebaya model bagaimana, warna apa, rambutnya mau dikasih konde atau tidak, pinjam baju dan dandan dimana, dan lain-lain. Tentu saja dengan logat khas anak-anak yang saling berebut bicara. Tak hanya kanak-kanak yang heboh, pelajar tingkat menengah pertama dan atas pun kelimpungan mencari pinjaman baju kebaya.

Biasanya di sekolah masing-masing akan digelar aneka perlombaan khas Hari Kartini yang mengedepankan konde, kebaya, dan tabarruj alias dandan. Bagaimana tanggapanmu dear ?
Sebenarnya banyak yang belum paham mengenai perjuangan Ibu Kartini. Beliau itu berjuang agar para wanita pada jamannya mendapatkan pendidikan yang setara dengan laki-laki. Karena pada jaman beliau wanita tidak boleh mengenyam pendidikan tinggi kecuali anak para bangsawan. Beliau berjuang betul-betul dengan mengerahkan segala daya yang beliau miliki.

Karena tidak paham itulah, maka peringatan Hari Kartini jauh dari esensi yang benar. Mayoritas menganggap dalam memperingati Hari Kartini cukup dengan kebaya dan konde. Berbagai perlombaan pun digelar. Mulai dari lomba masak, fashion show, sampe lomba mendandani juga ada.

Miris ya dear. Peringatan Hari Kartini yang harusnya bisa jadi momen meneladani dan memotivasi para generasi milenial, akhirnya hanya semacam seremonial. Tak ada nilai lebih yang bisa diambil. Bahkan jamak terjadi perilaku tidak pantas yang dilakukan oleh para remaja dan hal itu didukung institusi sekolah. Misalnya peragaan busana laki-laki dan wanita dengan berjalan bergandengan tangan, memakai kebaya yang menonjolkan lekuk tubuh wanita, juga tabarruj aka berdandan yang udah jadi pelengkap pakaian kebaya.

Seharusnya, Peringatan Hari Kartini diisi dengan berbagai kegiatan positif. Dimana kegiatan itu dalam rangka meneladani perjuangan Ibu Kartini. Misalnya, Lomba menulis tentang Hari Kartini, Bedah buku karya Ibu Kartini, Renungan malam mengenai perjuangan Ibu Kartini, dan aneka kegiatan positif lainnya. Tentu saja kegiatan positif itu akan mendongkrak daya berpikir para generasi milenial dan bisa memotivasi mereka dalam meneladani gigihnya perjuangan Ibu Kartini mengentaskan kebodohan.

Nah udah jadi terang benderang kan mengenai Hari Kartini. Jadi Peringatan Hari Kartini itu nggak melulu konde dan kebaya. Ternyata masih ada banyak kegiatan positif yang bisa kita lakukan tanpa menabrak aturan dari Pemilik Kehidupan. Apalagi kita sebagai muslimah nggak sepatutnya memakai baju yang menonjolkan lekuk tubuh. Pakaian muslimah itu gamis dan kerudung.

Post a Comment

0 Comments