Harapan Seorang Ibu

Oleh : Yulia Elisa


MENINGGALKAN masa-masa remaja menuju dewasa dan mendapatkan pasangan hidup (belahan jiwa) merupakan sesuatu hal yang membahagiakan. Berkasih sayang, bermanja-manja, menumpahkan rasa kepada yang tercinta dengan mengarungi mahligai rumah tangga lewat pernikahan.

Salah satu tujuan dari pernikahan adalah melestarikan keturunan. Alangkah bergembiranya disaat mendapat kabar baik bahwa buah hati dalam rahim yang dinanti sudah mulai tumbuh. Tendangan dari gerakan dalam kandungan menjadi hiburan tersendiri bagi wanita yang berstatus istri menapaki menjadi seorang ibu. Baginya anak adalah amanah yang panjang namun menyenangkan.

Dalam setiap waktu, dalam setiap aktivitas selalu dibawanya dalam kandungan dengan tak pernah mengeluh. Walau rasa lidah tak menentu, tubuh terasa penuh berisi dari waktu ke waktu menghilangkan kata sexy. Tetap calon ibu mengharapkan si buah hati lahir ke dunia dalam kondisi yang sehat dan penuh dengan keberkahan dari ilahi.

Hari berganti hari menjadi Minggu, menjadi bulan sampailah waktu 9 bulan 10 hari waktu untuk berjuang melahirkan si buah hati dengan taruhannya mati tetap akan dijalani dengan senang hati. Rasa sakitnya melahirkan seolah-olah sirna ketika mendengar tangis mu. Namun tak cukup dari situ sajalah perjuangan seorang ibu karena akan menghadapi si buah hati yang perlu asi, menyusui pagi, siang sampai malam hari tak sempat memikirkan lelahnya diri sendiri.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Luqman ayat 14 yang artinya :

"Dan kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada orang tuanya, ibunya telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kalian kepada Allah dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada Allah lah kalian kembali". (Q.S. Luqman :14)

Anak juga merupakan penerus generasi bagi tiap keluarga bahkan bagi negara. Alangkah bergembira nya jika dalam sebuah keluarga telah dikaruniakan titipan berharga di dunia hingga akhirat sana. Karena anak yang berbakti dan bertakwa dapat menyelamatkan kedua orangtuanya namun anak yang durhaka kepada pencipta juga bisa membawa malapetaka bagi keduanya.

"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS. Luqman: 13).

Tahukah engkau wahai buah hati?. Saat-saat terlemah seorang ibu ialah bukan ketika mengandung, menyusui dan melahirkan mu namun saat mendapati kamu tersesat dalam jalan yang berliku tidak mengikuti aturan-aturan pemilik waktu yaitu Allah SWT yang satu. Karena berharap di akhirat engkau adalah penolongku.

Post a Comment

0 Comments