Gunakan Akal, Dunia Akhirat Selamat



Oleh : Mulyaningsih, S.Pt
 
Semua benda yang ada di muka bumi ini adalah ciptaan Allah SWT. Hewan, tumbuhan, manusia, gunung, laut, sungai, danau, bintang, bulan dan yang lainnya adalah makhluk allah. Kelebihan dan kekurangan pastilah ada pada makhluk, sebab ia diciptakan. Sebagaimana manusia, ada kelebihan dan banyak sekali kekurangan.
Allah menciptakan manusia berbeda dengan makhluk ciptaan yang lain. Kelebihan yang dimilikinya adalah adanya akal, naluri (gharizah) serta kebutuhan jasmani. Dengan ketiga kelebihan tersebut maka manusia dipandang lebih tinggi derajatnya, namun tak sedikit masalah yang muncul dari kelebihan tersebut. Sebut saja, bahwa manusia banyak mengelak alias ingkar terhadap perintah-perintah Allah. Sebagai contoh adalah orang masih saja sulit untuk melaksanakan shalat fardhu, wanita masih enggan untuk berbusana layaknya seorang muslimah, maraknya orang mengkonsumsi barang-barang yang haram. Seperti minuman keras (miras oplosan) dan narkoba serta masih banyak yang lainnya. Padahal manusia tadi diberikan akal yang berfungsi untuk memahami serta mampu membedakan mana yang baik dan buruk berdasarkan Islam.
Pertanyaan yang muncul adalah apakah salah si naluri dan kebutuhan jamani tadi? Atau manusianya yang tidak mau belajar sehingga dia tidak tau hukum yang ada? Ataukah seperti apa? Mungkin itu pertanyaan yang akhirnya muncul dalam benak kita?
Pandangan Islam
Islam adalah jalan hidup yang khas (unik), berbeda dengan jalan hidup yang lainnya. Pemeluknya diwajibkan untuk hidup dalam pola tertentu dengan konsisten, tidak berubah dan berganti. Baik karena alasan kondisi atau situasi. Islam mengharuskan mereka untuk selalu mengikat diri dengan pola kehidupan islam, sesuai dengan hukum Islam.
Dalam kesehariannya manusia pastilah dihinggapi berbagai masalah, baik yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan jasmani ataupun memenuhi ketiga naluri yang Allah  berikan padanya. Semua itu tentulah harus bisa diselesaikan dengan baik dan sempurna. Artinya kita harus melihat, merujuk serta melaksanakan apa yang telah digambarkan oleh Islam, tanpa adanya pengecualian.
Sebagai contoh adalah wajibnya seoarang wanita menutup auratnya ketika berada di luar rumah. Ini adalah salah satu contoh perintah Allah terhadap kaum hawa. Hal ini tercantum dalam Al Qur’an pada Surat An Nur ayat 31 dan Al Ahzab 59. Ketika sudah ada perintah seperti itu maka yang harus dilakukan oleh kaum hawa ini adalah taat dan patuh serta melaksanakannya. Jika masih ada pelanggaran, masih menundanya serta mencari-cari alasan maka kita mengingkari perintah Allah dan kita telah berbuat maksiat. Tanpa kita sadari ternyata kita telah dzolim pada diri kita sendiri.
Maksiat adalah perbuatan yang melanggar perintah Allah, perbuatan dosa (buruk, tercela dan lain sebagainya). Banyak hal yang ditimbulkan ketika kita telah berbuat maksiat. Sadar atau tidak, pengaruh negatif pasti akan selalu mewarnai hidup kita. Akibat dari berbuat maksiat maka setidaknya ada enam efek yang bisa dirasakan oleh kita.
Yang pertama adalah menghalangi diri dari ketaatan. “Mengerjakan ketaatan mengakibatkan seseorang akan meninggalkan maksiat. Begitupula pula meninggalkan kemaksiatan mengakibatkan seseorang akan melakukan ketaatan. Karenanya shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan munkar. Karenanya shalat mengakibatkan seseorang itu akan tercegah dari melakukan dosa dan seseorang akan terus mengingat Allah.” (Majmu’ Al-Fatawa(10: 753), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah)
Kedua adalah mengundang manusia untuk melakukan kemaksiatan yang lainnya. iJka seorang hamba melakukan kebaikan, maka hal tersebut akan mendorongnya untuk melakukan kebaikan yang lain dan seterusnya. Dan jika seorang hamba melakukan keburukan, maka dia akan cenderung untuk melakukan keburukan yang lain sehingga keburukan itu menjadi kebiasaan bagi pelakunya.
Yang selanjutnya adalah ternodanya hati. “Seorang mukmin jika berbuat satu dosa, maka ternodalah hatinya dengan senoktah warna hitam, jika ia bertaubat dan beristigfar, hatinya akan kembali putih bersih. Jika ditambah dengan dosa lain, noktah itupun bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah karat yang disebut-sebut Allah dalam ayat. ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka” (HR Tirmidzi).
Efek yang selanjutnya adalah membuat jarak dengan Allah. “Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya ” (TQS Jin 23). Menyulitkan urusan manusia itu sendiri. sebagaimana firman Allah dalam Surat Ath-Thalaq 2-3 yang berbunyi: “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.”
Yang terakhir adalah menghalangi diri dari ilmu. “Aku pernah mengadukan kepada Waki tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat (I’anatuth Tholibin 2: 190).
Berbekal potensi yang Allah berikan kepada manusia, berupa akal tadi maka sudah selayaknya kita gunakan dengan sebaik-baiknya. Gunakan akal untuk memikirkan dan mempelajari Islam agar kita menjadi tahu apa saja perintah dan larangan Allah SWT. Karena nanti semua akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di hari penghisaban. Wallahu A’lam [ ]
Mulyaningsih, S.Pt
Ibu Rumah Tangga
Pemerhati keluarga, anak dan remaja
Anggota Akademi Menulis Kreatif (AMK) Kalsel

Post a Comment

0 Comments