Galau Bermartabat

Oleh : Siti Rahmah


Dear,, kata galau seolah sudah melekat dengan kehidupan remaja. Remaja galau seakan menjadi icon di zaman now. Padahal istilah galau ini tidak senantiasa berkonotasi negatif ketika tepat dalam penempatannya. Hanya saja realita tentang romantika remaja yang terjadi masa kini semakin menguatkan bahwa istilah galau itu adalah istilah yang negatif. Bagaimana tidak "kegaulan" selalu di sandingkan dengan remaja yang patah hati, remaja yang tidak memiliki pasangan, remaja dengan segudang masalah. Mulai dari masalah pacaran, prestasi, prustasi, kemerosotan nilai, harga diri, eksistensi, ekstasi sampai penemuan jati diri. 

Berkutat mengurusi masalah tersebut membuat remaja harus menguras energinya dan hal itu senantiasa mendapat porsi yang tinggi dalam konsentrasinya. Kegalauan ini demikian menggelayuti remaja ketika budaya dan standar kehidupan yang ada mengkanalisasi obsesinya. Potensi diri yang di milikipun raib dengan segenap halusinasi yang senantiasa di hembuskan ke dalam benak remaja. Prestasi, jati diri, idealisme akhirnya hanya menjadi sebuah mimpi yang seolah tidak layak di cari. Dengan kondisi yang demikian lahirlah remaja - remaja galau dengan obsesi - obsesi yang hanya bersifat duniawi tanpa memberikan kontribusi dalam membenahi dan memperbaiki generasi saat ini.
Remaja galau ini lahir dari produk penerapan peraturan yang memisahkan agama dari kehidupan. Asas ini menghasilkan remaja - remaja yang tidak tau tujuan hidup yang sesungguhnya, tidak mengetahui jati dirinya. Sehingga terombang ambing dalam arus budaya yang ada tanpa ada benteng akidah yang mengcounternya. Agama yang harusnya menjadi benteng, filter dalam memilah dan memilih aktifitas yang boleh dan tidak boleh di lakukan oleh remaja saat ini tidak berfungsi, bahkan banyak remaja menganggap agama sebagai belenggu dalam memuaskan syahwatnya dan menyalurkan keinginannya. Akhirnya lahirlah remaja yang bebas dan kebablasan dalam berekspresi tanpa mempedulikan rambu apapun. Dengan kebebasan yang mereka agungkan apakah mereka bahagia? owh no.,tentu tidak justru dengan kebebasan yang kebablasan akan menjerumuskan mereka dalam kubangan kegamangan dan kegalaun dalam bersikap.

Galaunya Sahabat Nabi

Dengan semua realita remaja galau yang menyesakan dada adakah galau yang memiliki konotasi fositif? lantas seperti apa galau yang fositif bahkan bermartabat?

Okelah Dear, pada dasarnya galau itu adalah perasaan penuh kebimbangan dan rasa bimbang ini tidak selalu dalam hal negatif. Banyak hal fositif yang adakalanya membuat bimbang dan hal ini pun tidak hanya dialami oleh manusia - manusia yang hidup di jaman now. Ketika kita melihat ke kehidupan para shohabat radiallohu anhum, para shohabatpun pernah merasakan kegalauan, hanya saja tentu kadar galaunya beda. Apa yang menjadikan galau generasi saat ini berbeda dengan kegalauan shahabat nabi?

Yups,..Dear yang membedakannya adalah filosofinya, latar belakangnya. Dulu para shahabat galau ketika mendapati kewajiban yang harus di laksanakan dalam waktu bersamaan, Shahabat galau dalam menentukan mana yanga harus di prioritaskan. Misal yang melatari belakangi (Asbabul Nuzul) turunnya Surat At Taubah ayat 122 

Allah SWT berfirman:
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَآفَّةً ۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَـتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَ لِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْۤا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ
"Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya jika mereka telah kembali agar mereka dapat menjaga dirinya."(QS. At-Taubah 9: Ayat 122).

Turunnya ayat ini menggambarkan kegalauan para shahabat ketika berhadapan dengan perintah Rasululloh untuk pergi ke medan jihad yang mereka rindukan tapi disisi lain mereka pun begitu menginginkan senantiasa selalu berada disisi Rasululloh untuk mempelajari hukum - hukum Islam. Maka kegalauan para shahabat pun terjawab dengan turunnya ayat ini, bahwasanya hendaklah dari segolangan orang ada yang berangkat untuk bejihad sedangkan golongan yang lainnya tetap tinggal bersama Rasululloh untuk mempelajari ilmu kemudian diajarkan lagi kepada para mujahid sekembalinya dari medan perang. Inilah galau bermartabat, kegalauan bukan karena ke engganan dalam pelaksanaan berbagai kewajiban tapi kegalauan yang tersebab begitu bersemangat dalam melaksanakan berbagai macam kewajiban.

Galau Berprestasi

Berkaca dari kehidupan sahabat yang memiliki kedudukan khusus di sisi Rasululloh saw, sebagai manusia yang begitu mencintai dan di cintai Rasul bahkan diantara mereka radiayallohu anhum banyak yang sudah di kabarkan di jamin surga. Tapi semua itu tidak melenakan para sahabat dalam beramal.

Harusnya kehidupan seperti inilah yang di teladani remaja jaman now dalam menjalani kehidupannya. Remaja harusnya memainkan peran strategisnya sebagai agen of change, sebagai tonggak estafet perubahan. Sehingga remaja tidak di sibukan dengan kegalauan yang tidak bermanfaat justru malah sebaliknya remaja harusnya sibuk, menghabiskan waktunya untuk mengukir prestasi menjadi bagian dari barisan perjuangan untuk mengembalikan kehidupan Islam. Remaja yang berprestasi adalah remaja yang galau dengan kondisi terkini di mana Islam terus menerus di hinakan, ajarannya termenerus di deskreditkan bahkan umatnya terus menerus di kriminalisasi. Dari kegaulauan ini lahirlah keinginan untuk bergerak dan berjuang dalam merubah keadaan. Remaja seperti inilah yang di rindukan jaman untuk membawa perubahan peradaban, kegalauannya adalah galau yang akan mengukir prestasi untuk kemajuan negeri.

Waallahu alam.

Post a Comment

0 Comments