Fenomena Mukbang VS Adab Makan Dalam Islam

Oleh : Rahmawati Isya (Anggota Komunitas Revowriter)



Bagi para penggiat sosial media pasti sudah tak asing lagi dengan tren yang saat ini sedang terjadi di dunia online. Di dunia yang serba online ini, tidak hanya bisa chatting, video call , bahkan makan pun bisa online. Ya, makan pun bisa online. Dengan cara menayangkan diri sendiri di depan kamera ketika sedang menyantap makanan dan biasanya disiarkan secara live. Tren ini dinamakan Mukbang.

Ada yang tahu tidak apa itu mukbang? Ya, mukbang adalah bahasa Korea yang berasal dari kata muk-ja yaitu makan dan bang-song yaitu siaran. Menayangkan diri sendiri di depan kamera saat sedang makan dan ditonton ribuan penonton internet.


Bukan hanya viral di Korea sebagai negara asal mulanya fenomena mukbang, bahkan diberbagai negara pun sudah tak lagi bisa menahan keinginan untuk melakukan tren yang sedang viral di dunia maya ini. Kini di Indonesia pun fenomena mukbang sudah mulai menjamur diberbagai kalangan. Karena siapapun dapat melakukannya walaupun bukan dari kalangan orang terkenal. 


Jika di Korea menggunakan webcast agar penonton dapat melakukan streaming secara langsung via internet. Berbeda dengan yang ada di Indonesia mereka bisa melakukannya hanya dengan bermodalkan smartphone dan tentunya makanan yang akan disantap. 


Yang membuat menarik untuk sebagian orang dari tren mukbang ini adalah gaya saat menyantap makanannya. Mereka akan mengunyah sangat keras dan menampilkan gaya yang membuat penontonnya meneteskan air liur. Bahkan jumlah porsi yang di makan itu melebihi porsi normal untuk satu orang. Mereka bisa menyantap 5 sampai 10 porsi mie instan dalam satu kali siaran. Bahkan tak segan-segan mereka memasukkan makanan sampai penuh ke dalam rongga mulut mereka.


Untuk menu makanan yang akan ditayangkan biasanya yang membuat penonton tergiur dan menggugah selera. Tapi, ternyata bukan hanya makanan yang enak dan nikmat saja yang dinikmati ketika menyiarkan tren mukbang tersebut. Semua jenis makanan, mulai dari makanan yang lazimnya dikonsumsi, sampai makanan yang tidak lazim untuk dikonsumsi. 

Salah satu contoh makanan yang tidak lazim dikonsumsi ketika melakukan siaran mukbang ini adalah memakan serangga, entah itu kalajengking, ulat, belalang dan lain-lain. Sangat menjijikan memang, tapi itulah yang mereka lakukan demi hasrat untuk melakukan tren dan juga untuk memuaskan penonton.


Tidak dipungkiri bahwa tren ini sangat menguntungkan bagi mereka yang melakukan siaran secara live. Bukan hanya dapat menikmati makanan-makanan yang lezat, mereka juga bisa mendapatkan keuntungan dari jumlah viewers yang menyaksikan siaran tersebut dan tak sedikit yang kemudian menjadi populer. Bahkan tak sedikit juga penonton yang memberikan uang secara cuma-cuma karena merasa terhibur. 


Fakta membuktikan, tidak semua orang yang melakukan tren ini mendapatkan keuntungan, karena ada juga yang hampir tewas ketika tidak hati-hati dalam melakukan tren mukbang ini. Seorang vlogger di China hampir saja membahayakan dirinya sendiri. Ia secara tidak sengaja memakan lidah buaya yang dikiranya aman saja, padahal sebenarnya beracun. Gadis itu kemudian menghentikan siaran langsung dan dilarikan ke rumah sakit karena mulutnya jadi mati rasa dan tenggorokannya seperti terbakar. (detik.com)

Lalu bagaimana menyikapi fenomena mukbang ini dalam pandangan Islam?


Sebagai muslim, ketika akan melakukan suatu perbuatan, maka ia wajib mencari pandangan hukum syara’ atas perbuatan yang akan dilakukannya. Allah SWT berfirman, “Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua. Tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Hijr ayat 92-93)


Kesempurnaan Islam salah satunya adalah dapat dilihat dari aturannya. Islam mengatur seluruh aspek dalam kehidupan manusia. Baik dari segi Ibadah, muamalah, politik, ekonomi dan lain-lain. Tak terkecuali yaitu mengatur etika dan adab ketika makan dan minum.


Dalam Islam begitu banyak ayat Al-qur’an maupun hadits yang menjelaskan perihal makanan dan tata cara makan dan minum yang baik. Dari kesimpulan fenomena mukbang diatas ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dan diambil pelajaran dari fenomena mukbang yang sedang tren di zaman now ini.


1. Menyebut Nama Allah Sebelum Makan


Sebelum makan awali dengan membaca doa dan menyebut nama Allah, sebagai bentuk syukur atas nikmat yang telah diberikan dan agar terhindar dari gangguan setan. Dalam siaran mukbang hampir tidak ada yang menyebut nama Allah, karena sebagian besar mereka beragama non Islam. Tak terbayang jika tayangan ini dilihat oleh anak-anak dan meniru setiap yang ada dalam siaran tak terkecuali berdoa sebelum makan.

2. Makan Dengan Tangan Kanan
Rasulullah SAW bersabda : “Jika salah seorang dari kalian makan, hendaklah ia makan dan minum dengan tangan kanannya. Sesungguhnya setan makan dan minum dengan tangan kiri.” (HR.Malik)
Tak sedikit orang yang menyiarkan mukbang yang menggunakan tangan kiri ketika makan, hal seperti ini pun tak patut untuk dicontoh

3. Makan Dengan Tidak Berlebihan
Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Begitupun saat makan. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa, agar menarik bagi penonton mereka tak segan makan dengan porsi yang sangat besar. Bahkan melebihi porsi normal. Hal ini pun bertentangan dengan adab makan dalam Islam.


Makan Makanan Yang Halal Dan Baik


Allah SWT berfirman dalam Al Quran surat Al-baqarah ayat 168 :
“Hai sekalian manusia makan-makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan jangan kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena syaitan musuh yang nyata bagimu.
Jika dikaitkan dengan fenomena mukbang, jelas sudah berseberangan dengan ayat ini. Karena tak sedikit yang mengkonsumsi makanan yang diharamkan dan tak baik seperti kasus yang terjadi ketika memakan lidah buaya yang beracun, jelas itu tidak baik.

Di era zaman sekarang apapun kegiatan baik kegiatan yang bersifat umum maupun yang bersifat pribadi dapat di ekspose di dunia maya. Alangkah lebih baik jika sosial media dapat dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Karena segala sesuatu akan diminta pertanggung jawabannya kelak. Jika seseorang akan melakukan segala sesuatu di dunia maya termasuk tren mukbang, hendaknya pertimbangkan sebaik mungkin. Apakah hal itu lebih banyak manfaatnya atau sebaliknya. Wallahu a’lam.





Post a Comment

0 Comments