Emak Jadilah Tauladan, Bukan Komandan !

Oleh : Sunarti


PAGI itu bergegas Emak bangun, berteriak sembari menggedor-gedor pintu kamar anak-anaknya. 
"ayo, semua bangun, sholat subuh! " katanya, seraya pergi kamar mandi. 
Seperti biasa Emak langsung ke dapurnya, membuat masakan ini dan itu. Tapi agaknya Emak tidak melaksanakan sholat subuh pagi itu. 

"Ayo anak-anak bersihkan kamar kalian !" teriaknya lagi dar dapur. 
Emak lanjut ngomel-ngomel "Bangun pada siang, gak mau sholat, gak mau bersihkan kamar. Emang kalian gak kasian Emak apa?  

Emak ini, sudah banyak tugas, sudah ngerjakan kewajiban. Kalian kerjaannya apa, ya ?" sambil liat anak-anaknya yang sebenarnya sudah pada gak ada di kamar. Tinggal satu anak yang masih kelas empat SD tinggal di kamar.


"Kamu lagi, kenapa tidak bangun pagi? Kamu gak sholat? " tanya Emak melotot. 

"Ehm, eh, oh, anu Mak, sa sa say saya sudah sholat, Mak. Sudah beraihkan kamar. 


Eng, saya demam Mak", jawab si anak terbata. 


"Heleh, alasan saja, coba lihat kamarmu bersih apa belum? 


Coba lihat badanmu, beneran panas apa tidak? 


Jangan-jangan alasan saja sakitmu, biar gak bisa bantu Emak", Emak ngomel terus. 


Dengan tertunduk, si anak meneyeskan air matanya. Si anak terduduk diam tak bersuara. 
Sementara si Emak masih dengan omelannya. 

"Kamu, kemarin gak bersih-bersih, gak sholat, gak belajar", lanjut Emak. 

"Saya belajar Mak, karena kepala saya pusing saya belajarnya sebentar. Saya sholat koq Mak. Malah Emak yang gak sholat", kawab si anak, mungkin agak dongkol

 "Eh, malah ngeles sama Emak. Aku ini orang tua lho, aku ini sesepuhmu. Nanti kamu berdosa gak percaya sama Emak", jawab Emak marah-marah. 

"Emak, boleh gak saya pagi ini izin gak sekolah. Sy panas dan pusing. Ini PR juga belum selesai, Mak. Saya lemes! " rengek si anak. 

"Enggak, kamu itu alasan saja. Kamu itu hanya gak bisa ngatur waktu, gak pandai management waktu, akhornya kamu sakit", jawab Emak sewot. 

Emak ini mempunyai 5 anak. Masing-masing sudah usia SD. Anak-anaknya sudah mandiri. Semua urusan rumah dan ibadah sudah pada mahir, meskipun ada yang masih kelas satu. Cuman si Emak tidak ada rasa percaya sedikitpun pada anak-anaknya. Sukanya perintah saja, tidak pernah mau mengerti keadaan anaknya. Tidak suka diingatkan juga oleh anak-anaknya waktu dia bersalah. 


Kalau menurut orang Jawa "Kacang Kapri alias kakean cangkem, kakean perintah" (banyak bicara dan banyak perintah). Orang seperti ini bicaranya banyak, tapi sedikit kerjanya. Memiliki rasa ketidakpercayaan pada orang-orang yang dia beri tugas. 



Sahabat, seandainya dalam satu keluarga terdapat kejadian seperti ini, apa yang akan terjadi kira-kira? 
Ketidaknyamanan, pasti. 
Meskipun sebenarnya dirasa nyaman atau tidak nyaman, sebuah keluarga harus terus berjalan.
Agar tidak terjadi ketimpangan perasaan diantara anggota keluarganya. Semua urusan akan dirasa sebagai beban, bukan sebagai amanah.
Perasaan, punya peran penting dalam keluarga. Dalam berkeluarga banyak amanah, kalau dianggap beban akan sia-sia.  

Kenapa? 

Rasa ikhlas tidak bisa muncul ketika melakukan satu atau banyak aktivitas. 


Lantas bagaimana cara mengatasinya? 

Tanamkan pola pikir yang sama dia antara anggota keluarga. Kalau polanya berbeda maka bahan jadinya juga akan berbeda. Satukan pemikiran dengan pemikiran Islam. Ketaatan pada Allah, menjadikan pemikiran mendasar dalam satu keluarga.

Kesatuan visi misi. 
Agar tujuan seluruh keluarga menjadi sama (seiring sejalan).
Yaitu mengembalikan hukum Islam di tengah-tengah kehidupan. 
Siapkan anak-anak sejak dini untuk menjadi generasi penerus. Mereka aset pertama dan yang utama. 
Meskipun secara tehnik berbeda, tapi tetap berada pada jalan yang sama.
Selama tidak melanggar/bermaksiat pada Allah, dan tidak merugikan seluruh keluarga. 

Berikan kepercayaan kepada mereka untuk suatu amanah. Dimulai hal-hal ringan dalam rumah. 

Meskipun diperbolehkan mendetaili pelaksanaan tugas. Namun, tidak dilepaskan begitu saja dengan satu atau beberapa amanah.
Upayakan kontrol yang ma'ruf kepada anak-anak. Evaluasi hasil, itu harus. Untuk perbaikan ke depan menghadapi masalah dan bukan ajang pelampiasan amarah. 


Manusia memiliki baqa' yang sama.
Hargai semua usaha anak-anak, tidak dicerca ataupun dicaci. 
Bila perlu, berikan sanjungan. Namun, sebagai bentuk perhatian atas apa yang sudah dia lakukan.
Seburuk apapun selama kesungguhan telah tumbuh dalam benaknya, maka itu yang harus dipertimbangkan dan dihargai.
Masing-masing anak memiliki kemampuan yang berbeda. Banyak atau sedikit aktifitasnya, semua ada nilainya di hadapan Allah, bukan di hadapan manusia. Mengajarkan anak bertanggungbjawab atas amanahnya. Jika tak bisa seperti yang diperintahkan/diajarkan maka cari cara lain yang anak tersebut mampu. 

Arahkan sesuai kemampuan, berikan motivasi yang ma'ruf hingga tersentuh, bukan yang membuat tersinggung. Sesuaikan juga amanah dengan usia mereka. 


Berikan keteladanan yang baik terutama kepada anak-anak.
Libatkan dalam aktivitas yang belum pernah mereka lakukan. 
Lakukan dengan bahasa mengajak bukan menyuruh, hingga merasa pekerjaan itu tanggung jawab bersama. Upayakan tidak mudah marah. Terlebih saat kita/emak diingatkan anggota keluarga yang lain. Apabila memang kita yang salah, segera minta maaf, perbaiki perilaku dan perkataan. Nantinya tidak akan muncul keluh kesah, tapi rasa percaya diri dan "legowo".



Waallahu alam bisawab

Post a Comment

0 Comments