Dikira Amal Sholih, Ternyata Amal Salah

Oleh : Wati Umi Diwanti



Kemarin paket kitab tahsin tiba di rumah. 110 kitab, lumayan berat. Si Tengah bermaksud membantu. Dia seret kardus kitab itu ke ruang tamu.

"Ka diandak di mana kitabnya?" "Di lemari mi. Kotaknya Atiyya pakai mainan lah?"
"Lho, kitabnya kan banyak. Berat itu. Bisa jebol lemari kita."
"Iih lah, umaa Atiyya susun ke kotak lagi lah? Uyuh mi." Keluhnya.

Dalam hati "Siapa yang suruh. Meski niatmu baik, tapi jika caramu salah. Bisa-bisa hanya berujung lelah. Akan lebih baik jika bertanya dulu."

Tapi, ga masalah karena pelakunya anak-anak. Bisa dimaklumi. Masih bisa diapresiasi. Lagi pula cuma masalah duniawi. Masih bisa diatasi.

Bagaimana jika kita yang melakukan. Dalam perkara akhirat. Kita habiskan waktu, tenaga dan pikiran kita untuk amal yang menurut feeling kita benar. Ternyata bagi Allah smua salah. Apa ga apes?

Misalnya aja kita sebagai emak nih, pengen bantu suami dengan bekerja. Karena lelah, kita justru emosian. Merasa berjasa atas income keluarga kitapun semena-mena pada suami. 

Menjadi sulit untuk berkhidmat pada suami. Tak lagi bisa lemah lembut pada anak-anak. Padahal kewajiban utama istri adalah melayani suami dan mendidik anak-anak. Hukumnya wajib. Sedang bekerja hanya mubah. 

Mengambil yang mubah, melalaikan yang wajib adalah sebuah musibah. 

Atau para suami. Ingin membahagiakan anak istri. Akhirnya semua tawaran bisnis di ambil. Termasuk yang subhat dan nyerempet maksiyat. 

Yang begini bukannya rahmat yang di dapat justru mudharat. Bahkan bisa jadi Allah melaknat. Meski mungkin di dunia masih berasa nikmat. Itulah istidrat.

Saat melakukan yang salah hidup menjadi berkah. Maka artinya Allah akan bayar tunai semua kesalahan kita full di akhirat. Berat! Kamu ga akan kuat!

Masih banyak lagi contoh lainnya. Karenanya janganlah berbuat berdasar feeling dan niat semata. 

Amal sholeh perlu dua syarat. Niat ikhlas semata mencari ridha Allah. Dan amalnya harus berdasar apa yang ditetapkan Allah Swt.

Agar amal sholih kita sah di sisi Allah. Kajilah Islam secara kaffah dan istiqomah. Karena manusia, jikapun menghabiskan seluruh waktunya untuk belajar. Ilmunya tak akan lebih banyak dari air lautan yang membasahi jarum sebilah. 

Apalagi jika belajarnya sesuai mood dan menunggu waktu-waktu sisa aktivitas dunia saja. Renungkanlah wahai diri (ku)! 😢

-Wati Umi Diwanti-
Mtp, 19.04.18

#YukNulis
#GerakanFBuntukDakwah
#DakwahTakMeluluCeramah
#StatusmuSyurgaNerakamu

Post a Comment

0 Comments