Cinta Membara, Membawa Petaka

Oleh : Sunarti


PANASNYA cinta hanya membakar rasa, panasnya api membakar diri hingga mati. Begitu kira-kira kata romantis yang pantas buat pasangan mengenaskan ini. 
Ngeri, miris, kasihan dan sedih juga jengkel bercampur aduk menggelayuti perasaan pembaca dan pirsawan. 
Pasangan kekasih yang membakar diri dengan bensin di kamar kost beberapa hari lalu memenuhi kabar berita di berbagai media. 

Mereka mengalami luka bakar serius. Pasangan ini ditemukan warga di rumah kos di Babatan I nomer 15, Wiyung, Surabaya, Kamis (5/4) malam, belum sadarkan diri dan masih dirawat intensif di IGD RSUD dr. Soetomo, Sabtu (7/4).
(kumparanNEWS)

Nasib naas dialami oleh Robi (34), sang pria dikabarkan meninggal dunia subuh, Sabtu (14/4/2018) setelah mendapatkan perawatan di RSUD DR Soetomo.
(TRIBUNNEWS.COM)

Di pemberitaan lain, keduanya adalah pasangan yang sudah menikah siri. Namun mereka masih sama-sama sudah berkeluarga.
Pasangan selingkuh, bahasa tepatnya. 


Memanglah cinta termasuk naluri yang Allah berikan. Secara alami akan tumbuh tanpa disuruh ataupun dipaksa. 
Cinta merasuki siapa saja, yang sudah berkeluarga maupun yang masih bujang. Ketertarikan pada lawan jenis memang fitrah manusia, semua memilikinya.
Bara api cinta membakar siapa saja yang tersentuh dengannya. 

Kondisi kehidupan dalam sistem kebebasan, memudahkan peluang untuk mencintai bukan pada pasangan halalnya. Manusia diberi kebebasan dalam mencintai siapa saja. 
Tidak ada batasan, meskipun sudah menikah. Asal suka sama suka, jadilah pasangan kekasih. 
Tidak hanya berhenti sampai di sini, hubungan berlanjut hingga menjadi pasangan mesumnya. Fenomena yang menjadi lazim di tengah-tengah masyarakat, perlahan tapi pasti. (naudzubillah)
Tak jarang kasus demi kasus perselingkuhan berakhir dengan tragis.
Namun seolah tidak ada rasa jera.


Di negeri yang mengutamakan kebebasan individu, tak ada pembatas dalam pergaulan. 
Hal ini berbeda jauh dengan sistem Islam. Meskipun mencintai lawan jenis adalah fitrah manusia, namun Islam mengajarkan penyalurannya.
Sistem pergaulan dalam Islam menempatkan penyaluran naluri ini dalam pernikahan. 
Individu yang sudah menikah diikat dengan janji suci pada Illahi. 

Demikian juga yang belum menikah, terikat dengan aturan untuk menyalurkan nalurinya. Ada anjuran untuk menundukkan pandangan dan anjuran berpuasa apabila belum mampu menikah.

Ada larangan mendekati zina, baik yang belum menikah maupun yang sudah menikah. 

Sebgaimana Allah berfirman :


وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Artinya: “Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al-Isra [17]: 32).

Ada upaya dari negara dan rakytanya untuk selalu taat akan aturan Allah. 
Penanaman perilaku menjauhi zina ditancapkan kepada individu. Sehingga rasa takut akan dosa, menyelimuti seluruh umat. 


Dalam sistem hukum Islam, pelaku zina akan nendapatkan hukuman yang berat. Bagi yang sudah dan belum menikah, laki-laki atau perempuan. 
Sebagai penebus dosa dan sebagai pemberi efek jera. 

Yang belum menikah, akan didera. 

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nur: 2)

Yang sudah menikah akan dirajam sampai mati.

Dari Abu Hurairoh ra bahwasanya Rasulullah saw pernah memberikan hukuman kepada orang yang berzina (belum menikah) dengan hukuman dibuang (diasingkan) satu tahun dan pukulan seratus kali.” (HR. Bukhori)

Rasulullah saw menanyakan kepada seorang laki-laki yang mengaku berzina,”Apakah engkau seorang muhshon (sudah menikah)? Orang itu menjawab,’Ya’. Kemudian Nabi bersabda lagi,’Bawalah orang ini dan rajamlah.” (HR Bukhori Muslim).


Dalam sistem Islam, meskipun perbuatan dilakukan oleh individu, namun tetap berada dalam hukum.
Karena semua perbuatan berlandaskan hukum Islam (yaitu hukum asal mula perbuatan kembali pada hukum syara')
Manusia tidak berbuat sesuai keinginannya, namun semata-mata dalam ketaatan kepada Allah SWT. 
Islam menjaga sistem pergaulan, sehingga kasus-kasus perselingkuhan yang berakhir tragis tidak akan terjadi secara berulang. 






Wallahu alam bisawab.

Post a Comment

0 Comments