Cinta Dibalik Tagar #KhilafahAjaranIslam



Oleh: Astia Putriana, SE
Mahasiswi Pascasarjana FEB UB Malang dan
Anggota Komunitas Penulis “Pena Langit”
 
Engkau mungkin bisa merusak bunga, tapi engkau takkan bisa mencegah datangnya musim semi – Ustadz Oemar Mita
Gema khilafah kembali terdengar di seantero nusantara pun memantul dalam tagar #KhilafahAjaranIslam dan #ReturnTheKhilafah yang merajai trending topic di twitter pada Sabtu (14/4) lalu. Bukan tanpa sebab, namun memang ini sesuai dengan momentum Rajab.
Bulan Rajab merupakan bulan yang mulia, namun kemuliaan ini tercoreng dengan peristiwa yang menjadikan umat Islam hingga saat ini terhina, yakni runtuhnya institusi perisai dan pemersatu umat Islam sedunia.
Mirisnya, bukan hanya kehancuran secara fisik, namun juga pelan tapi pasti menggerus hati dan pikiran umat Islam sendiri. Tak sedikit yang telah teracuni hingga tak mengerti. Meragukan bahkan menentang dakwah Khilafah. Sungguh ironi.
Kembali pada kalimat yang diungkapkan Ustadz Oemar Mita di awal. Para pegiat dakwah yang merupakan bunga-bunga peradaban boleh jadi mampu dihancurkan, tapi bisyarah Rasulullah akan bangkitnya kembali musim semi Khilafah tak mungkin bisa terbantahkan.

DAKWAH KHILAFAH = CINTA
            Lantai yang basah akibat genteng yang bocor tak bisa selamanya kering hanya dengan mengepelnya. Beranikanlah diri untuk memanjat dan memperbaikinya. Meski itu perlu perjuangan ekstra.
            Sudah lebih dari 90 kali bulan Rajab umat Islam sibuk mengatasi permasalahan umat dengan “mengepel” lantai kehidupan yang basah akan serangan pemikiran sekuler dengan solusi pragmatis. Terhadap solusi komprehensif, justru pasif.
            Suara lantang sebagian kaum muslim yang mengajak bersama-sama berjuang memperbaiki genteng yang bocor bukanlah merupakan suara provokasi keji. Namun sungguh, ini adalah sebuah suara penyelamatan demi kemaslahatan umat Islam secara utuh.
            Dakwah adalah cinta, pun Khilafah adalah perwujudan cinta. Pencipta yang Maha Tahu telah menganugerahkan pedoman terbaik cara memperbaiki genteng yang bocor. Kenapa justru mengambil pedoman memperbaiki kabel yang putus? Sungguh tidak selurus.
            Terlebih jika ada yang berusaha membangunkan seseorang dari tidur lelap dalam suasana kobaran api yang melahap. Lantas ia terbangun dari mimpi indah. Bisakah disebut pengganggu dan pembuat susah? Inilah yang dinamakan dakwah. Mengajak berpindah dari jahiliyyah menjadi tercerah, dari rusak menjadi bijak.
            Urgensi khilafah merupakan perihal yang ingin disampaikan kepada seluruh umat Islam. Ikhtiar dan komitmen haruslah membuncah. Aturan Islam seharusnya terterapkan secara kaffah. Bukan karena serakah, namun karena perintah agar hidup manusia lebih berkah.
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al Maidah: 50)A
            #KhilafahAjaranIslam karena memang demikian adanya. Bukan sekedar opini dan narasi. Tapi jelas tersari dalam nash-nash pasti. Kriminalisasi tidak sama sekali menghilangkan kewajiban atasnya, pun halnya berbagai cap buruk tidak menjadikan ia keluar dari esensi kebaikan darinya. Juga mengapa akhirnya penting untuk #ReturnTheKhilafah adalah bentuk konsekuensi keimanan dan kesadaran. Bukan tanpa asal usul, tapi karena inilah yang dicontohkan Rasul.
Dakwah adalah penting karena kondisi sudah sangat genting.  Jika tetap hening maka mengertilah kita kemana umat Islam akan tergiring.
“Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak sekalipun kalian pasti akan mengikuti mereka.” Kami bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR Muslim)
Oleh:
Astia Putriana, SE
Mahasiswi Pascasarjana FEB UB Malang dan
Anggota Komunitas Penulis “Pena Langit”

18 April 2018




           

Post a Comment

0 Comments