Cacing Diangkat Setinggi Gunung, Tak Sadar Hutang telah Setinggi Langit 

Oleh : Tri Silvia 
Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Kepulauan Riau telah mengungkap nama-nama produk makarel kaleng yang mengandung cacing (sebelumnya disebutkan sarden). Ada 16 merek produk impor dan 11 merek produk dalam negeri. Hasil pengujian menunjukkan, 27 merek (138 bets) positif mengandung parasit cacing. (Kompas.com, 27/3/2018)
.
Isu yang sangat mengejutkan, mengingat makanan tersebut sangat mudah dijumpai. Tidak hanya dijual di supermarket besar perkotaan, produk ini pun tersedia di warung-warung kecil pedesaan. 
.
Sebuah ironi tersendiri di negeri mayoritas muslim dengan populasi muslim terbesar di dunia. Bahwa ada makanan kaleng, dia familiar di tengah masyarakat dan menjadi pilihan makanan alternatif di kala sempit, yang ternyata mengandung cacing. Tidak kira-kira, ada 27 merek yang dinyatakan terpapar hal yang sama.
.
Tentunya ini bukan hal sepele, kredibilitas pemerintah menjadi taruhan. Harus ada tindak lanjut yang cepat dan sigap dalam menanganinya, solusi pasti yang tepat sangat dibutuhkan guna menuntaskan tanpa membuat masalah baru setelahnya.
.
Betul sigap, namun alih-alih menyelesaikan masalah, ibu Menkes justru banyak di bully oleh banyak netizen di media sosial. Hal ini terkait dengan pernyataan beliau, "Setahu saya itu (ikan makarel) kan enggak dimakan mentah, kita kan goreng lagi atau dimasak lagi. Cacingnya matilah. Cacing itu sebenarnya isinya protein, berbagai contoh saja tapi saya kira kalau sudah dimasak kan saya kira juga steril. Insya Allah enggak kenapa-kenapa," kata Nila di Gedung DPR RI. (Kompas.com, 29/3/2018).
.
Pernyataan beliau sontak menjadi sorotan para netizen di media sosial. Banyak cuitan-cuitan ataupun meme lucu yang tersebar disana. Diantaranya meme yang berisi kata, "Anak anda cacingan? Tidak usah khawatir, itu artinya anak anda kelebihan protein", "Kalau Cacing Protein..Ngapain ada obat cacing?", "Jodoh itu bagaikan,,, ikan sarden di laut, cacing di tanah, bertemu di dalam kaleng", "Pengen tau apakah kemudian masih ada yang doyan makarel dan sarden kalengan? Saya kok trauma sama hewan berinisial C", "Sok lah yg mau protein dari cacing makanan kaleng, kalau saya sih NO". Berbagai reaksi lucu dan polos ditambah meme yang menggelikan berhasil mengocok perut yang membacanya. 
Selain para netizen di medsos, banyak pihak lain yang juga memberikan komentar atas pernyataan ibu Menkes di atas. Diantaranya dilontarkan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) yang menyayangkan pernyataan Menteri Kesehatan (Menkes). Memang benar, beberapa jenis cacing mengandung protein sehingga hewan tak bertulang itu bisa berfungsi untuk obat dan kosmetik. Sebagai contoh cacing Lumbricus Rubellus (jenis cacing tanah) yang mengandung kadar protein tinggi sekitar 76 persen. Namun, dalam kasus parasit cacing di ikan kaleng ini, jawaban Menkes dianggap kurang tepat. Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi menilai, pernyataan tersebut tidak produktif dan tidak menyelesaikan masalah yang ada. Tulus melihat tanggapan Nila tersebut tidak mencerminkan pejabat publik yang berkompeten di bidang kesehatan.(JawaPos.com, 30/3/2018).
Adapun menurut Kepala BPOM RI Penny K Lukito, cacing parasit yang ditemukan positif dalam ikan makarel itu memang ikut mati saat diolah. Sehingga tidak ada zat yang berbahaya jika termakan. Namun akan ada efek samping bagi tubuh saat tidak sengaja mengkonsumsi cacing parasit makanan olahan itu. "Efek lain adanya alergi, karena protein cacing itu menjadi alergen, aspek higienis ini tidak memenuhi syarat," ujar Penny.(BangkaPos.com, 30/3/2018)
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita akan mencabut izin usaha bagi yang terbukti bersalah memperdagangkan ikan kalengan atau sarden makarel yang mengandung parasit cacing. Untuk itu, Kementerian Perdagangan sudah melakukan koordinasi dengan kepolisian, dimana proses hukum akan ditangani oleh pihak berwajib.
.
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menjelaskan adanya temuan cacing di ikan makarel kalengan karena adanya standar pengolahan yang tidak baik. Artinya jika perusahaan pengolahan ikan dalam kaleng ini sudah menerapkannya dengan baik tidak akan terjadi masalah seperti ini, seperti ditemukan cacing di dalam produk.
Begitulah kiranya pemberitaan mengenai cacing. Sebenarnya pihak-pihak yang berkompeten telah turun tangan untuk menangani perkara ini, namun pernyataan ibu Menkes membuat isu ini menjadi trending topik yang memenuhi lini masa setiap akun media sosial. Tak heran jika dikatakan bahwa isu cacing ini telah diangkat tinggi-tinggi hingga menjulang seperti gunung. Adapun isu lain yang lebih urgen menjadi tak tampak, bahkan tanpa disadari menghilang dari peredaran media, salah satunya terkait hutang rezim saat ini yang sudah melangit.
Utang pemerintah yang saat ini tembus Rp 4.000 triliun dianggap belum sepenuhnya tercatat. Utang pemerintah diproyeksikan tembus Rp 7.000 triliun jika dihitung dari utang pemerintah dan swasta. Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan total utang pemerintah Indonesia yang sebesar Rp 4.034,8 triliun belum termasuk dengan utang swasta dan BUMN. (detik.com, 21/3/2018)
"Total utang atau outstanding Indonesia setidaknya telah mencapai lebih dari Rp 7.000 triliun, terdiri dari total utang pemerintah dan swasta," kata Enny di kantor Indef, Jakarta, Rabu (21/3/2018).
Di saat negara lain berlomba-lomba untuk meningkatkan prestasinya di dunia internasional melalui berbagai program kesejahteraan masyarakat, negara kita justru berkubang dalam lingkaran setan yang bernama hutang. Jikalau saja keberadaan hutang tersebut mampu membawa kemajuan masyarakat, mungkin itu bisa menjadi alasan hutang yang cukup diterima. Tapi sayangnya, hutang sama sekali tidak membawa kemajuan untuk masyarakat. Pemerintah justru semakin gencar mengambil uang rakyat melalui berbagai pungutan yang ada, pajak, kenaikan bahan bakar, kenaikan tarif dasar listrik, kebijakan BPJS dan berbagai kebijakan mencekik rakyat lainnya. 
.
Adalah hal yang wajar jika masyarakat semakin sering menyuarakan aspirasinya. Tidak turun ke jalan, di media sosial pun jadi. Berbagai argumen kritis dilancarkan oleh para netizen -masyarakat- terhadap pemerintahan. Mereka menginginkan perubahan yang signifikan pada pengaturan sistem pemerintahan yang ada. 
Persoalan cacing dan hutang adalah hal yang berbeda, namun punya kesamaan. Mereka berbeda karena zat dan duduk persoalan yang tak sama. Namun secara esensi keduanya memiliki posisi yang sama sebagai masalah yang harus diselesaikan oleh pemerintah. Tidak dengan solusi parsial dan sementara saja, melainkan solusi menyeluruh yang tidak menyisakan permasalahan baru di kemudian hari.
.
"Ingatlah, tiap-tiap kalian adalah pemimpin, dan tiap-tiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya itu. Seorang amir (imam) atas manusia adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya itu..." (HR.Bukhari no 844)
Seorang imam atau pemimpin harus bertanggung jawab atas segala apa yang menimpa umatnya. Dialah yang memiliki kewajiban mengurusi segala kepentingan umat, mengambil segala kebijakan yang akan membawa kemaslahatan, serta memberikan solusi atas setiap perkara yang muncul di wilayah kekuasaannya. Termasuk permasalahan cacing dan hutang yang telah disebutkan sebelumnya. Pemerintah dalam hal ini wajib dengan segera memberikan solusi konkret yang tepat dan akurat guna menjaga masyarakat. 
Dengan tanpa menganggap remeh persoalan cacing, keduanya harus sama-sama diselesaikan. Sarden, makarel atau makanan dan minuman apapun yang mengandung zat yang tidak baik bagi tubuh harus segera dibersihkan dari pasar. Segala proses pembuatan dan penyediaannya di pasaran harus segera dihentikan. Tidak hanya mengecam dan mengancam saja, eksekusinya pun harus dilakukan sesegera mungkin.
.
Begitu pula tentang persoalan hutang. Segera selesaikan dan jangan sisakan riba sedikitpun. Islam melarang riba dan sangat membencinya. Penyelesaian hutang dengan riba akan membawa kemaslahatan bagi umat dan membentuk sistem pemerintahan yang baik, mandiri dan berdaulat. 
.
Sistem pemerintahan yang baik akan membawa kebaikan terhadap perkara-perkara lainnya dalam sebuah negara. Dan sejarah mencatat bahwa Islam memiliki sistem pemerintahan terbaik di dunia. Hal tersebut dibuktikan dengan terselenggaranya Daulah Khilafah Islamiyah selama lebih dari 15 abad lamanya, mulai dari masa kepemimpinan Rasulullah saw hingga masa Turki Utsmani. 
.
"Simpul Islam akan terlepas, satu demi satu. Setiap kali sebuah simpul yang menjadi tempat bergantungnya manusia terlepas, akan diikuti dengan terlepasnya simpul-simpul lainnya. Dan simpul pertama yang terlepas adalah (perkara) pemerintahan, sedangkan simpul terakhir (yang terlepas) adalah perkara shalat" (HR. Ahmad) 
Wallahu a'lam bis shawab

Post a Comment

0 Comments