Bukan Sekedar Niat, Tapi Juga Ketaatan

Oleh: Hamsina Halik (Anggota Komunitas Revowriter)



Adalah suatu kebanggan sendiri ketika sudah menutup aurat. Berangkat dari perjuangan batin ketika berniat berhijrah. Antara menutup aurat atau tetap dengan pakaian serba terbuka. Antara ketaatan atau kemaksiatan pada Allah, Sang Maha Pengatur. Meninggalkan dunia gemerlap dengan segala kenikmatannya yang semu. Apalagi ketika memantapkan diri untuk mengenakan cadar. Ada rasa nyaman, terasa terlindungi dari pandangan laki-laki jahil tak bertanggung jawab. 

Tapi, sayang beribu sayang diluar sana terdapat fakta yang sangat membuat hati miris. Ada seorang muslimah bercadar, tapi bisa dikatakan cadar yang dikenakan hanya sekedar penghias busana diri. Dari luar nampak sebagai muslimah yang taat, tapi faktanya sangat jauh berbeda. Serasa paling paham, tapi ketaatannya dipertanyakan. Tak jarang orang seperti ini, hanya saja tak nampak ke permukaan. Tak ada yang memviralkannya.
Dengan dalih kasih sayang kepada hewan, yang juga merupakan makhluk ciptaan Allah SWT, maka sewajarnyalah sebagai manusia untuk menolong hewan yang konon katanya lagi tersesat, memberikan makan padanya. Kasihan. Tak tanggung-tanggung hewan yang dimaksud adalah anjing, jumlahnya pun hingga 11 ekor. Hewan yang jika kena air liurnya musti disucikan hingga 7 kali basuhan, salah satu caranya dengan menggunakan tanah. Keharaman untuk memeliharanya pun sangat jelas. Jika ia muslimah yang taat, yakin saja bahwa tak mungkin mau memelihara anjing karena sudah jelas keharamannya.

Hukum Memelihara Anjing

Islam tidak memperkenankan seorang muslim untuk memelihara anjing di rumahnya, kecuali untuk hal yang diperlukan sesuai dengan syariat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Rumah mana saja yang memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak atau anjing untuk berburu, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak dua qiroth (satu qiroth adalah sebesar gunung uhud).” (HR Muslim: 23, Kitab al-Masaqoh).

Menurut Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin, Ia mengatakan, “Adapun memelihara anjing dihukumi haram bahkan perbuatan semacam ini termasuk dosa besar –Wal ‘iyadzu billah–. Karena seseorang yang memelihara anjing selain anjing yang dikecualikan (sebagaimana disebutkan dalam hadits), maka akan berkurang pahalanya dalam setiap harinya sebanyak 2 qiroth (satu qiroth = sebesar gunung Uhud).” (Syarh Riyadhus Shalihin, pada Bab “Haramnya Memelihara Anjing Selain Untuk Berburu, Menjaga Hewan Ternak atau Menjaga Tanaman”)

Lalu, bagaimana dengan bercadar tadi yang memelihara anjing sebanyak 11 ekor di rumahnya? Jelas, masuk dalam kategori yang diharamkan. Karena, anjingnya itu seperti anjing peliharaan bukan diperuntukkan sebagaimana yang disebutkan dalam hadist diatas. Bahkan, jika keterusan bisa berujung menjadi hobi dengan dalih rasa kasih sayang terhadap hewan. Muslimah yang taat itu tak akan mungkin mau memelihara anjing karena hukumnya keharamannya sudah jelas. Jika demikian, berarti bukan muslimah taat. Karena, seorang muslimah yang taat tentu tak akan melakukan perkara haram. Jika cadar saja yang mubah (pendapat sebagian ulama) dikerjakan tentu lebih-lebih yang haram akan ditinggalkan. Untuk apa dikerjakan jika hanya akan menambah tabungan dosa?.

Waspadai Niat Terselubung

Perkara cadar terangkat kepermukaan bukan kali ini saja. Sebelumnya, muslimah bercadar berstatus mahasiswi di sebuah perguruan tinggi Islam, didiskriminasi dengan alasan yang tak masuk akal. Padahal itu adalah kebaikan. Para mahasiswa bercadar hanya menjalankan ajaran agamanya, memilih bercadar untuk lebih menjaga diri. Juga, di kampus itu dalam rangka memenuhi kewajiban menuntut ilmu. 
Tapi, ketika muslimah bercadar itu memelihara anjing dengan dalih kasih sayang kepada hewan, justru diapresiasi dengan mengundangnya sebagai bintang tamu dalam sebuah acara di TV. Orang-orang pun memuji dan menyanjung dirinya. Katanya, inilah contoh yang patut ditiru, sikapnya yang penyayang binatang. Tak melihat jenis binatangnya, meskipun haram. Ini adalah bentuk kemaksiatan.

Sungguh, suatu respon yang sangat berbeda. Padahal, keduanya sama-sama bercadar. Hanya beda kasus. Jika, bercadarnya itu dikaitkan dengan kebaikan (yang sebenarnya), dianggap itu berbahaya. Melekatkan segala cap yang tak pantas, teroris, radikal, fundamental dan kawan-kawannya. Sebaliknya, jika bercadarnya itu dikaitkan dengan kemaksiatan akan dianggap itu adalah prestasi yang luar biasa. 
Inilah yang ingin disampaikan ke tengah-tengah masyarakat. Sebuah opini yang sesat, menggiring masyarakat untuk menerima dan memaklumi segala hal kemaksiatan jika dipandang itu memiliki manfaat. Sebagaimana muslimah bercadar yang memelihara anjing, agar sikapnya diterima ditengah-tengah masyarakat atas nama kemanusiaan dan kasih sayang. Meskipun itu nyata melanggar syariat. Masyarakat pun, akhirnya tak lagi bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk
.

Oleh sebab itu, bagi seorang muslim jika menjadikan Islam sebagai poros hidup, janganlah mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian syariat Allah. Buktikan ketaatan itu dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Tak sekedar niat, tapi disertai dengan ketaatan.
"Dan tidaklah pantas bagi seorang mukmin dan juga muslimah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, mereka punya pilihan sendiri dalam urusan mereka Barangsiapa durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata." (TQS. al Ahzab: 36).

Post a Comment

0 Comments