Bersama di Jalan Dakwah yang Indah

Oleh: Siti Rahmah



Bicara dakwah sejatinya kita bicara cinta, cinta yang agung cinta yang berasal dari kebesaranNya. Dakwah adalah ungkapan cinta kepada sesama dengan landasan akidah dan titahNya. Siapa sich yang tidak baper ketika kita bicara cinta, jangankan remaja yang lagi masanya merajut asa, sampai emak - emak aja kadang haus dengan ungkapan tersebut. Namun yang perlu di sadari cinta tidak melulu masalah dua insan yang sedang memadu rasa. Tapi cinta pada hakikatnya adalah masalah kepedulian, rasa sayang terhadap sesama insan, sayang berlandaskan iman untuk saling menjaga. Menjaga agar di dunia selalu taat dan di akhirat bisa selamat. Itulah makna cinta yang sesunggunya.



Hanya saja hal ini masih belum menjadi kesadaran umum, banyak manusia menganggap bahwa dakwah adalah tugas khusus ulama. Dakwah hanya boleh di sampaikan oleh mereka yang mendalami ilmu agama, kemudian dakwah semakin di persempit dengan hanya membicarakan masalah yang dianggap terkait dengan agama. Semua ini berangkat dari ketidak pahaman tentang kewajiban dakwah. Dakwah bukan sekedar profesi, dakwah juga bukan tugas khusus yang di bebankan pada individu tertentu tapi dakwah adalah kewajiban yang Allah turunkan untuk semua insan yang beriman.


Dakwah adalah Kewajiban


Secara bahasa dakwah berasal dari kata Da'a (menyeru), siapa yang di seru? Tentu saja manusia, muslim ataupun non muslim. Dakwah adalah seruan kepada manusia agar berbuat khoir (baik) sesuai dengan aturan Islam. Sebagai mana firman Allah.


وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ


"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 104)


Allah SWT berfirman:


كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ


"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik."(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 110)
Allah SWT berfirman:


اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ ۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ


"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk."(QS. An-Nahl 16: Ayat 125)
Allah SWT berfirman:


وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَاۤ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ


"Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?"(QS. Fussilat 41: Ayat 33)



Selain dalil yang ada dalam nash Al Qur'an, dalil kewajiban dakwah juga terdapat dalam beberapa hadits.
Diantaranya Hadits dari Abdullah bin Umar ra menuturkan bahwasanya Rasululloh saw bersabda: " Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat". (HR. Bukhori). 



Kemudian dalam hadits lain juga di tuturkan, bahwasanya Rosululloh saw bersabda: "Siapa saja yang melihat kemungkaran hendaklah ia mencegah dengan tangannya. Jika d3ngan tanganya tidak mampu maka hendaklah ia uabah dengan lisannya; jika dengan lisannya tidak mampu maka hendaklah ia ubah dengan hatinya; dan ini adalah selemah - lemahnya iman". (HR. Muslim). 



Banyak hadits senada yang memerintahkan dakwah dan menjelaskan dakwah sebagai sebuah kewajiban. Hanya saja tentu perintah dakwah ini selain di lakukan oleh individu dakwah juga harus di emban oleh kelompok juga negara. 



Indahnya Dakwah Berjamaah


Dalam surat Al imran ayat 104 diatas tidak hanya menggambarkan kewajiban dakwah tapi juga memerintahkan dakwah berjamaah. Sehingga ayat tersebut menjadi hujjah wajibnya ada sekelompok ummat (organisasi, jamaah, golongan, partai politik), yang memiliki ciri khas dengan aktivitasnya yaitu yad'una illa alkhoir (menyeru kepada kebaikan), ya'muruna bil ma'ruf (memerintah berbuat baik), wa yanhauna 'anil munkar (mencegah dari perbuatan munkar). Ketiga aktivitas inilah yang menjadikan suatu kelompok di sebut sebagai kelompok dakwah. Dengan aktifitasnya tersebut maka kelompok ini di beri kabar gembira oleh Allah dengan sebutan orang - orang yang beruntung. Tentu saja ini adalah label terindah yang Allah sematkan bagi para pengemban dakwah yang berada dalam sebuah jamaah yang melaksanakan kewajibannya atas dorongan akidah dan keimanan.



Bicara dakwah bukan bicara sesuatu yang mudah, apa lagi di era millenial ini dimana tolak ukur manusia sudah bukan lagi Ridho Illah tapi kesenangan dunia dengan segala tipu dayanya. Manusia yang bertahan dan memilih jalan dakwah adalah manusia pilihan, atas segala konsekuensi yang siap menghadang dia tetep tegar karena di sadar dakwah bukan pilihan tapi kewajiaban. Sehingga apapun resiko kita harus mampu menghadapinya, apalagi ketika kita yakin dengan janji Allah bahwasanya orang yang melaksanakan dakwah adalah orang yang beruntung.



Selain berbuah kebaikan dan limpahan pahala dakwah berjamaah juga adalah kewajiban yang akan menghantarkan pada kemenangan yang berbuah kenikmatan. Nikmat kebersamaan, nikmat perjuangan dan tentunya akan lebih memudahkan sampai pada tujuan. Sesuatu yang berat jika di kerjakan secara bersama - sama maka akan terasa ringan. Begitupun dengan dakwah, dakwah dalam rangka perjuangan penerapan hukum - hukum Islam membutuhkan pengorbanan besar dan itu semua bisa di wujudkan dalam kebersamaan. Sebagaimana yang di contohkan Rasululloh ketika memulai dakwah di mekah, setelah para sahabat memeluk Islam kemudian Rosululloh membentuk kutlah sahabat dengan memghimpun para sahabat di rumah Al Arqom. Begitupun dalam perjuangan di era sekarang kewajiban membentuk jamaah dakwah yang konsen dalam perjuangan Islam menjadi keharusan. Ketika kita sama - sama dalam jamaah dakwah yang memiliki kesamaan visi dan misi maka kebersamaan kita akan menjadi indah dalam kerinduan mengharapkan berkahNya.
Waallahu 'alam

Post a Comment

0 Comments