Belenggu Liberalisasi di Balik RUU Penghapusan Kekerasan Seksual

Oleh : Silvia Rahma (Member Revrowriter Bogor )


Ketua KPAI, Susanto, membeberkan sejumlah kasus kekerasaan terhadap anak, yang terjadi di hampir semua daerah. Pasalnya, hingga bulan Februari 2018, KPAI telah menerima 223 aduan kekerasan seksual."Pertama kasus sodomi di Aceh dengan total korban 26 anak, pelaku 40 tahun menggunakan modus bermain bersama. Lalu di Tangerang ada 45 anak usia 7-15 tahun. Kemudian di Jambi ada 50 anak laki-laki jadi korban," ujar Susanto di kantor KPAI, Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat (IDN Times 19/03/18) 

Tingginya angka kekerasan pada anak sangat memprihatinkan dari tahun ke tahun dengan berbagai modus seksual. Sungguh fakta yang sangat mencengangkan saat ini. Berbagai upaya solusi untuk meredam masalah tentang kekerasan seksual juga dilakukan oleh pemerintah. Termasuk salah satunya upaya dalam RUU PKS. Berbagai reaksi muncul berkaitan dengan rancangan undang-undang tentang Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS ) dari berbagai pihak yang pro maupun yang kontra. Bagi pihak yang pro dan kontra pastinya ada pihak yang diuntungkan dan dirugikan. 
Seksualitas adalah bentuk pemenuhan salah satu naluri (naw) yang harus dipenuhi oleh manusia. Sebagai manusia yang normal tentunya berbagai upaya dilakukan dalam pemenuhan ini. Namun, berbeda makna ketika dalam sistem yang dalam penerapanya bukan aturan Islam. Akan selalu banyak celah keuntungan yang di ambil dalam menyelesaikan masalah. Termasuk salah satunya tentang kekerasan seksual yang terjadi di negri ini. Rancangan undang undang PKS sendiri justru akan menimbulkan masalah baru. Bagaimana tidak, penyelesaian masalah kekerasan seksual dengan penghapusan kekerasan seksual. Hal ini bisa menjadi presepsi umum bahwasanya seksualitas itu boleh dan bukan kekerarasan bila didasari kerelaan. Seksualitas yang diumbar termasuk didalamnya yang mengandung LGBT pun tidak bisa dijerat oleh hukum. Lagi lagi aroma liberalisme ( kebebasan) yang diusung dalam RUU PKS kali ini.

Sebagai muslimah peduli akan generasi penulis pun merasa prihatin. Efek penyelesaian masalah yang selalu diambil oleh para pengambil kebijaksanaan selalu dibumbui dengan nuansa keuntungan dan kebebasan. Karna tidak bisa dipungkiri tingginya angka kekerasan seksualitas adalah buah dari penerapan sistem sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Termasuk didalamnya seksualitas seseorang pun tak perlu lagi mennggunakan sandaran agama. Tetapi cukup dengan aturan sesuai dengan kesepakatan yang dinilai baik menurut ukuran manusia. Maka, jika ini dibiarkan kerusakan generasi semakin nyata. Naudzubillah.

Allah berfirman :
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung (QS. Al - Araf : 96 )

Berbeda dengan Islam dalam mengatur seksualitas. Islam telah punya syariat yang baku dalam mengatur hubungan laki-laki perempuan sejak dini. Pemisahan tempat tidur, larangan menampakkan aurat ( kubro ) sekalipun dalam kehidupan khusus. Kewajiban berkhimar dan berjilbab, larangan khalwat, dan sebagainya adalah tatacara yang paling jitu untuk selesaikan masalah seksualitas. Berbagai hal yang berkaitan dengan pendidikan seksualitas diperhitungkan bahwa hal itu akan menjadi info awal (ma;lumat sabiqoh) bagi anak-anak yang belum mengerti aurat. Hubungan laki laki dan wanita yang sah satu satunya adalah dengan jalan pernikahan sesuai dengan aturan syara'. Secara individual hal tersebut yang bisa kita lakukan dalam rangka mengatasi kekerasan seksualitas yang terjadi di negri ini. 

Pastinya penyelesaian masalah ini tidak bisa hanya berhenti sampai pada tataran ini. Menjadi orang tua yang punya pemahaman bahwa Islam itu tidak hanya aspek religiusitas saja namun juga aspek politis. Tidak cukup membentengi anak dengan aqidah dan syariat Islam kaaffah saja. Karena upaya individual ini penuh keterbatasan. Tidak mampu membentengi secara penuh (ancaman, tantangan hambatan dan gangguan) yang terjadi secara sistemik di tengah gelombang seksualitas sekarang.

Negara harus punya power untuk membuat efek jera bagi para pengumbar seksualitas baik yang dilakukan dengan dasar sukarela (perzinahan), pemaksaan (pemerkosaan, sodomi, pedofil ) dan seksualitas menyimpang (LGBT). Ketiganya adalah bentuk pelanggaran syara'. Dalam Islam pelanggaran syara' ada konsekuensinya. Itu semua harus dilakukan oleh negara yang menerapkan aturan Islam. Solusi utama kekerasan seksualitas butuh payung untuk meregulasi penerapan Islam secara total. Bukan tebang pilih satu, dua atau beberapa saja. Maka itu harus ada komunitas dalam dakwah Islam untuk menyadarkan umat akan solusi hakiki dari ancaman ide kapitalis ini yaitu penerapan Islam secara kaffah. 

Post a Comment

0 Comments