Bangkrut

Oleh : Muthmainah (Komunitas Peduli Umat)



Rasulullah pernah bertanya (kepada para sahabat) : Tahukah kamu siapa muflis (orang yang bangkrut) itu?” Para sahabat menjawab, ”Muflis (orang yang bangkrut) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda/kekayaan lagi.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan : “Muflis (orang yang bangkrut) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta seseorang, menumpahkan darah seseorang, dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diambil pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, padahal belum selesai urusannya maka akan diambilkan dosa-dosa mereka dan akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka (HR Muslim).


Alangkah sayangnya jika seseorang sudah memiliki "tiket" ke Surga, namun disebut orang yang muflis (bangkrut) karena 5 perbuatan :

1. Mencaci maki orang lain, tanpa penyelesaian di dunia (meminta maaf)

2. Menuduh orang lain tanpa haq, tanpa meminta maaf di dunia.

3. Memakan harta orang lain tanpa haq (berhutang tidak dibayar, meminta riba dan memakannya, korupsi uang rakyat) dan tidak ada pertanggungjawaban di dunia sesuai syariat

4. Menumpahkan darah orang lain tanpa haq, dan tidak ada pertanggungjawaban di dunia secara syariat

5. Memukul orang lain tanpa haq, dan tidak ada pertanggungjawaban di dunia secara syari


Bisa dibayangkan jika perbuatan-perbuatan itu tidak diselesaikan secara syariat di dunia maka akan diselesaikan di akhirat dengan cara saling menuntut. Kemudian diambili amal kebaikannya. Dan jika urusannya belum selesai, dan amal kebaikannya telah habis, maka akan diambil dosa2 dari yang menuntut dan ditimpakan kepadanya hingga selesai urusannya. Na'udzubillah..

Lebih jauh lagi dalam kondisi saat ini yang tidak diterapkan hukum Allah secara kaffah sehingga persoalan-persoalan yang membutuhkan hukum pengadilan tidak bisa berfungsi sebagai jawabir (menebus dosa di akhirat) dan jawazir (tidak menimbulkan tindak kriminal baru) dan hukum publik lainnya sangat banyak yang tidak diterapkan dengan alasan ini bukan Negara Agama, maka kita pun akan dituntut di akhirat mengapa hukum-hukum Allah itu tidak dilaksanakan.

Sebenarnya adakah keyakinan dalam diri kita bahwa hukum Allah-lah yang adil? Padahal bumi dan alam semesta ini ciptaan Allah. Mengapa kita lebih yakin dengan hukum buatan manusia? Buatan Aristoteles, John Locke, atau Karl Marx?

Tanya kenapa?



Post a Comment

0 Comments