Azan vs Kidung

Oleh : Sunarti




Salah satu sahabat Rasulullah SAW, Bilal bin Rabah (Muazin Rasulullah SAW). 
Siapa yang tidak mengenal kisahnya Bilal, berarti belum pernah membaca kisahnya di sirah shobat atau di tulisan-tulisan lepas. 

Kisah Bilal ra, sangat populer di kalangan kaum muslimin. 
Maka akan aneh apabila tidak ada yang mengenalnya. 

Bilal ra, adalah sosok budak yang tangguh mempertahankan aqidahnya. 
Dengan berbagai siksaan yang dibuat Umayyah bin Khalaf, tokoh penting kaum kafir. 
Umayyah bin Khalaf tidak menyukai apabila Bilal berada pada keIslaman. Lantas berbagai cara dia lakukan bersama para algojonya agar Bilal mengikuti tuannya, menyembah berhala. 

Siksaan pada Bilal terhenti ketika dirinya dibeli oleh Abu Bakar ra. 
Dengan menaikkan harga, Umayyah berusaha agar Abu Bakar ra tidak mampu membelinya. 
Namun, karena kuatnya Bilal memegang aqidahnya, membuat Abu Bakar ra jatuh hati untuk membebaskannya.
Dibelilah Bilal dengan harga yang tinggi yang sudah ditawarkan Umayyah. 
Walau harus mengeluarkan banyak keping emas, namun bagi Abu Bakar ra tidak sebanding dengan cintanya kepada Bilal. Maka bebaslah Bilal sebagai individu yang merdeka. 
Ini bukti cinta seorang hamba yang sama-sama di jalan Islam. 

Eh, tunggu sebentar, 
Di sini dihadirkan nama Abu Bakar ra, kira-kira pada tahu apa tidak siapa Abu Bakar, ya ?
(intermezo) 

Setelah Rasulullah mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, maka turut sertalah Bilal ra.     
Ia tinggal serumah dengan Abu Bakar dan 'Amir bin Fihr. 
Segenap perhatian Bilal tercurah kepada Rasulullah SAW. 
Ia selalu menyertai di mana Rasulullah berada, baik pada waktu sholat maupun pergi berjihad. 
Kebersamaan Bilal dengan Rasulullah bagai bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya. 

Ketika Rasulullah saw selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan Rosulullah menetapkan azan, maka Bilal ditunjuk sebagai muazin dan Bilal adalah orang yang pertama kali ditunjuk untuk mengumandangkan azan oleh Rasulullah. Jadilah Bilal muazin pertama dalam sejarah Islam. 

Bilal, setelah mengumandangkan azan, selalu bediri di depan rumah Rasulullah seraya berseru :
   حي علي الصلاة حي علي الفلاة
"mari melaksanakan sholat, mari meraih keuntungan"

Lalu ketika Rosulullah saw keluar dari rumah dan Bilal melihat Beliau, Bilal segera melantunkan iqamat. 
(Disarikan dari buku 65 Manusia Langit, DR. abdurrahman Ra'afat al Basya) 


Kisah ini tidak hanya berada di dalam satu buku saja. 
Banyak para alim ulama menggoreskan kisah Bilal sebagai muazin yang pertama. 
Dan (atas izin Allah), seluruh kaum muslimin sepakat akan azan sebagai peringatan datangnya sholat, baik yang masih awam maupun yang sudah faham, baik yang menunaikan sholat atau belum. 

Lantas apakah layak jikalau azan diposisikan tak lebih indah dari kidung ? 
Apabila sedikit saja mau belajar, akan lebih mendalam lagi makna bahasa dalam kalimat azan. 
Namun, rasa tidak suka terhadap Islam telah menutup hati untuk tertarik pada syariatNya. 
Jadilah perkataan yang justru menunjukkan sedalam apa pemikiran orang yang menganggap azan tak lebih indah dari kidung. 


Rasul SAW juga bersabda :
”Dosa orang yang berilmu itu satu, sementara dosa orang bodoh itu dua.” (HR ad-Dailami).

Yang dimaksud dari hadits di atas ialah orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya akan mendapatkan satu dosa. Dengan kata lain, dia telah gugur dari dosa menuntut ilmu, tetapi tetap berdosa karena tidak mengamalkan ilmunya.

Sedangkan bagi orang yang bodoh, akan mendapatkan dua dosa. Dosa karena tidak menuntut ilmu, sehingga menjadikan dirinya bodoh, dan dosa karena dia tidak beramal. Sebab, bagaimana dia akan beramal, atau apa yang mau ia amalkan, sementara dia tidak berilmu.


Maka belajarlah !

Minimal menggugurkan satu kewajiban, yaitu "menuntut ilmu".
Agar tidak menjadi "orang yang tidak mengerti Syari'at".

Post a Comment

0 Comments