Andaikan Allah Mengadakan Akreditasi

Oleh : Henyk nur widaryanti (dosen dan pemerhati remaja) 



SERING sekali kita mendengar istilah akreditasi. Mulai dari institusi pendidikan, kesehatan dan yang lainnya selalu mengalami akreditasi. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, akreditasi adalah pengakuan terhadap lembaga pendidikan yang diberikan oleh badan yang berwenang setelah dinilai bahwa lembaga itu memenuhi syarat kebakuan atau kriteria tertentu. Yups... Bagi kita yang terjun dalam dunia pendidikan, tidak akan pernah luput dari akreditasi. 

Apa yang terjadi saat akreditasi? Lembaga pendidikan akan berjuang, mengumpulkan data, mengolah data, mengerjakan dan menyiapkan segala data yang diperlukan untuk akreditasi. Mereka akan rela menghabiskan banyak biaya demi keberhasilan akreditasi. Sebagaimana pengalaman, para pendidik yang menyiapkan akreditasi akan semakin sibuk. Berangkat pagi pulang petang, kadang di rumah pun masih lembur kerjaan. Seakan akan hidup mati institusi ada ditangan akreditasi. 

Jika difikirkan, memang benar banget. Hidup matinya institusi ada ditangan akreditasi. Terutama institusi pendidikan swasta, untuk mencari akreditasi C atau status diakui saja butuh persiapan bertahun - tahun. Akreditasi mereka jadikan modal untuk menarik massa. Anak sekolahan jaman "now" kalau dipromisikan universitas yang bukan negeri pasti bertanya "akreditasi jurusan dan kampus nya apa?" jadi bagi suatu institusi pendidikan, akreditasi adalah nyawa. Sehingga tak heran jika semua civitas akademika sibuk dan menomor duakan yang lainnya. Bahkan bisa jadi ada yang rela tidak tidur berhari - hari demi mengejar akreditasi. Mungkin nanti tangan akan jadi kaki dan kaki akan jadi tangan karena standart akreditasi akan dinaikkan. Sekarang saja sudah bikin pusing kepala, apalagi yang akan datang? 

Kepikiran tidak ya jika saja Allah memberikan akreditasi? Hasilnya langsung kelihatan di dunia. Status diakui makhluk Allah telah lulus akreditasi langsung tersemat di atas kepala. Trus bagi yang lulus akreditasi langsung ada tulisan B dan A di jidadnya. Nilai itu jadi tiket masuk surga. Pastinya akan banyak manusia berlomba - lomba mengikuti akreditasi dari Allah. Mereka tidak akan berhenti beribadah agar grafik pahalanya terus naik. Bagi koruptor, pengedar narkoba, pengikut pergaulan bebas, pelaksana riba, dan maksiat yang lain akan "stagnan". Mereka tak akan berani melakukan kemaksiatan. Setiap kali melakukan kemaksiatan grafik dosanya meningkat. Pasti seru!!! Tidak ada masjid yang kosong. Tidak ada yang suka gibah lagi. De el el. Semua akan taat syariat demi pencitraan. Malu jika dijidadnya tertulis "ahli neraka". 

Sayangnya tidak semua orang bisa melihat akreditasi Allah. Dan tidak ada satupun yang tahu dirinya lulus akreditasi atau tidak. Setelah sangkakala ditiupkan, barulah kelihatan hasil kerja selama di dunia. Visitasi akreditasi langsung dipimpin oleh Allah di Padang Mahsyar. Bagi yang mendapatkan catatan akreditasi ditangan kanan, dia adalah orang yang beruntung. Tapi bagi yang mendapatkan catatan akreditasi di tangan kiri, dia adalah orang yang rugi. Sebagaimana firman Allah 

فَأَمَّا مَنْ أُوْتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِيْنِهِ (7) فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيْرًا (8) وَيَنْقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُوْرًا (9)

“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.” (QS. Al-Insyiqaaq: 7-9)

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُوْلُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوْتَ كِتَابِيَهْ (25) وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ (26) يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ (27) مَا أَغْنَى عَنِّي مَالِيَهْ (28) هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ (29)

“Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang pula kekuasaanku daripadaku.”(QS. Al-Haqqoh: 25-29)

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ (10) فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُوْرًا (11)

“Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku.” (QS. Al-Insyiqaaq: 10-11)

Bagaimana sekarang? Jika untuk mendapatkan akreditasi di dunia saja kita bisa mati-matian menyiapkan. Berarti untuk akreditasi akhirat harusnya lebih giat lagi. Ingatlah dunia itu sementara sedangkan akhirat itu selama - lamanya.

Post a Comment

0 Comments