Aku Bukan Pewaris Budaya Corat- Coret

Oleh : Sri Purweni (Pengajar, Pemerhati masalah sosial dan remaja, anggota Revowriter) 



Hai sobat yang dikelas akhir.... !Kelas sembilan dan kelas dua belas... 

Pastinya kamu lagi serius buat pantengin ujian atau kalo ada yang sudah berakhir tentunya bikin kamu deg-degan nunggu pengumuman kelulusan. 

Moga aja ujian ini dapat dilewati dengan baik dan nggak lupa....jujur is the best lho. Jangan demi mencapai nilai tinggi lantas menghalalkan segala cara. Nggak kan? 

Remaja alias ABG (bukan Angkatan Babe Gue kok) adalah saat yang indah gitu sob? Tapi setelah pengumuman kelulusan itu memberikan kabar bahagia lantas wajarkah jika lalu berpesta pora? Tak lupa ritual warisan corat-coret disertai konvoi kendaraan keliling kota, wajarkah?

Berita bahagia kelulusan sekolah kita itu bukan puncak dari kehidupan kita sob, masih panjang likunya. 

"Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar"-(Q. S An-Nisa:49)

Seorang cendikiawan arab menceritakan tentang langkah menghancurkan sebuah peradaban adalah menghancurkan tatanan keluarga, menghancurkan pendidikan dan menghancurkan keteladanan dari para tokoh dan rohaniawan. 

Nggak mau kan kita sebagai generasi yang harusnya bisa nerima tongkat estafet kepemimpinan dikatakan generasi yang rapuh karena mewarisi budaya corat-coret? 

Luapan kegembiraan kita setelah melewati ujian dan mendapatkan selembar kertas pengumuman yang tertulis kata "LULUS" adalah sujud syukur pada Allah SWT atas karunia itu, bukan malah hura-hura. Sejatinya kita baru akan menapaki tangga kehidupan berikutnya. 

Singkirkan keinginan berkonvoi kendaraan karena mengganggu suara bisingnya, kita kan bukan geng motor... Iya kan sob? 

Begitu juga alat corat-corat yang hanya mengotori lingkungan apalagi baju lebih baik disedekahkan pada orang, karena masih banyak yang memerlukan. 

Kesadaran inilah yang harus kita tumbuhkan agar tudingan bahwa kita sebagai generasi muda tidak sekedar berhura-hura. Kita sebagai generasi yang dapat diamanahi mengisi kursi-kursi kepemimpinan negeri. Dan kitalah generasi yang akan berdiri diatas mimbar menyuarakan Islam. Karena kita bukan generasi yang angkuh dan menyombongkan kebodohan dengan mewarisi budaya corat-coret. 

Jika terus mewarisi budaya konvoi dan corat-coret, kasihan pendidik kita akan selalu mempertanyakan mengapa tradisi yang mempertontonkan kebodohan selalu terulang? 

Haruslah kita buktikan bahwa kita siap menjejakkan kaki tuk mengisi bangku-bangku kuliah. Kita siap membangun bangsa dan agama.
Karena itu kita buktikan kalau kita tidak mewarisi kedunguan dengan budaya corat-coret! 

Kita harus sadar bahwa pendidikan Islam mengajarkan untuk tidak membuang-buang yang ada, karena Islam membenci pemborosan. Islam mengajarkan untuk berlaku sederhana dan tepat bersikap. Islam mengajarkan tidak mengganggu masyarakat dan membuat mereka terusik dengan suara bising knalpot kendaraan yang berkonvoi. 

Buya Hamka menuturkan, "Kalau tuan-tuan merasa lemah untuk mperbaiki otak generasi yang sekarang, sebab telah terlalu rusak, perbaikilah otak generasi yang akan datang yaitu pemuda-pemuda. "

Hai sob, kitalah pemuda itu. Mulai dari generasi kitalah yang dapat menyelamatkan bangsa ini untuk melakukan pembaharuan, atau sering dibilang agent of change. Yuk sobat kita buktikan pada dunia kalau dipundak kitalah harapan perubahan itu diamanatkan! 

Semoga kita adalah generasi yang kuat menjawab tantangan jaman. Generasi pembaharuan yang diharapkan. Aamiin!

Post a Comment

0 Comments