Akal Menuntunmu Menuju Jalan Iman



Oleh: Nor Aniyah, S.Pd

Banyak terjadi orang ragu dan bingung dengan agamanya sendiri. Apakah keputusan menjadi muslim sudah benar? Ataukah hanya sekadar diwariskan dari orang tua. Atau karena kebetulan saja?

Keyakinan yang Benar
Perlu mencari tahu standar keyakinan yang benar. Ada beberapa pengukur kebenaran. Yakni, sesuai dengan fitrah, memuaskan akal dan menentramkan jiwa.
Apakah sudah sesuai dengan fitrah sebagai manusia? Manusia itu secara alaminya lemah, terbatas, dan perlu berlindung pada yang kuat. Minta tolong pada yang dianggap punya kuasa, yang diagungkan. Itulah, manusia punya naluri untuk menyembah kepada sesuatu. Karenanya, manusia pengen punya Tuhan dan beragama.
Apakah keyakinan sudah memuaskan akal? Akal manusia bisa memutuskan pilihan. Misalnya, nggak mungkin kan kita menyembah pada pohon yang suatu saat pasti ditebang atau roboh dengan sendirinya. Apalagi batu yang tidak bisa berbuat apa-apa, ditabrak mobil pun tak bisa mengelak ataupun menyelamatkan dirinya sendiri. Memang nggak masuk akal benda yang bisa hancur dijadikan sesembahan. Berarti yang layak disebut Pencipta itu, bukanlah makhluk atau segala benda yang ada di alam semesta. Karena, semuanya akan mati, binasa, dan hancur.
Apakah bisa menentramkan sudah jiwa? Jadi keingat saat di ruang ujian sekolah. Biasanya nih, yang tidak benar alias berbuat curang keliatan dari sikapnya. Grasak-grusuk. Toleh kanan toleh kiri, tidak karuan. Soalnya, takut ketahuan sudah berbuat salah. Ya itu akibat tidak jujur, tidak menjawab dengan cara yang dibenarkan.
Kurang lebih seperti itu juga kalau yang hal diyakini tidak sesuai kebenaran. Hidupnya sering galau, serasa banyak masalah. Tidak ada solusi tepat, berdasarkan pandangan hidup yang dia punya. Bingung mencari jawaban atas berbagai problem kehidupan.
Padahal semua masalah dalam hidup secara umum tercakup dalam tiga simpul masalah saja. Tiga simpul ini membutuhkan pula tiga kunci jawaban pemecahannya. Masalah kita, sebenarnya bisa terwakili oleh pertanyaan pertama Dari mana aku berasal? Kedua, Untuk apa aku hidup? dan ketiga Akan ke mana setelah hidup ini? Jika tiga pertanyaan besar itu terjawab dengan benar maka gampang untuk menyelesaikan soal yang kecil. Coba dijawab sama-sama agar mudah.
Oke. Untuk pertanyaan yang pertama. Jelas, kita tidak ada dengan sendirinya. Atau menciptakan diri sendiri. Membuat robot tiruan lalat yang kecil saja tidak bisa, apalagi membuat manusia sejati pakai mesin. Atau kayak anggapan ikan yang terbentuk dari rendaman jerami di sawah.Teori itu sangatlah mustahil. Karena itu, pasti ada yang telah menciptakan, Dia-lah Maha Pencipta.
Hidup di dunia untuk bersenang-senang saja. Tapi, setelah dipikir capek juga, nggak ada manusia yang tetap awet muda. Lama-kelamaan akan menua, keriput dan mati. Terus, apakah kita setelah mati tidak diapa-apakan lagi? Atau kita langsung masuk surga? Enak benar dong orang yang mencuri, menipu, dan berbuat jahat. Tentu, secara manusiawi tidak bisa menerima. Sebab, setiap perbuatan harus ada balasan dan tanggungjawab. Biar adil.

Akidah dan Tauhid, Harus Klop!
Bersyukurlah, kita diberikan akal sehat sehingga bisa menuntun pada kebenaran. Mendekatkan pada keimanan terhadap Pencipta.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (TQS. Ali Imran: 190).
Islam adalah dien yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw untuk mengatur kehidupan umat manusia, baik hubungannya dengan Pencipta, hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dan hubungannya dengan manusia lain.
Jadi, Islam tidak sekadar akidah ruhiyah yaitu tentang hubungan manusia dengan Allah (Al-Khaliq). Namun, juga meliputi akidah siyasiyah, sebagai pedoman hidup (way of life) untuk kehidupan sehari-hari. Singkatnya, mulai dari mengatur mulai bangun tidur sampai urusan kita bangun negara. Tidak boleh setengah, apalagi sengaja dipisah. Keduanya harus bersisian, biar klop!

Bahaya Salah Mencari Jalan
Harus hati-hati ya, banyak lho yang salah paham. Bahkan gagal paham dalam keimanan. Menyamakan semua agama. Sampai nggak mau pakai agama dari kehidupan. Istilah populernya, berkaitan dengan -isme.
Yang cukup sering terdengar oleh kita adalah sekularisme. Yakni, paham memisahkan agama dari kehidupan. Contohnya, di dalam pergaulan kebanyakan remaja Muslim, tapi malah pacaran, bergandengan tangan sama non-mahram, sampai berbuat zina (seks bebas). Padahalkan, jelas hukum pacaran itu haram, tidak boleh. Jangan sampai ketika sholat saja kita taat sama Allah, dalam pergaulan dengan sadar bermaksiat.
Ada lagi kesalahan orang meyakini liberalisme. Yaitu paham kebebasan. Bebas semuanya semaunya. Sekehendak hati, asalkan kamu bahagia. Contohnya, banyak remaja yang ketika mau makan tidak memperhatikan halal atau thayyib (baik). Yang penting kenyang. Yang penting enak. Sehingga seperti biasa saja saat mengonsumsi narkoba dan menenggak minuman keras.
Kemudian, datang lagi bahaya terambil pluralisme, paham menganggap semua agama sama. Sesungguhnya, sudah jelas yang dirihoi hanya Islam saja. Tidak pernah ada paksaan untuk memeluk Islam. Dalam Islam juga diajarkan untuk toleransi, membiarkan orang lain ketika mau beribadah sesuai agama mereka. Tidak boleh mengolok-olok atau menghina pribadi atau syariat orang lain.
Namun, justru saat ini kaum Muslim diminta menerima paham pluralisme yang keliru. Sehingga ketika ada yang menghina agama Islam, kita malah seperti dilarang untuk membela. Diharapkan untuk memaafkan saja. Jelas, tidak bisa dibiarkan begitu saja, jika yang dihina adalah berkenaan dengan agama, ulama, Rasulullah saw, dan syariah Islam yang mulia.
Hidup adalah pilihan. Dalam hidup ada hal-hal bisa kita pilih dan tentukan dengan pertimbangan akal kita. Beriman harus melalui proses pemikiran.
Ingatlah, ada daerah yang dapat dikuasai oleh manusia dalam memilih perbuatannya. Kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa saja yang dipilih. Jika sudah mantab memilih Islam, jadikanlah Islam sebagai jalan hidup (way of life). Islam harus diyakini dengan sepenuh hati. Ajarannya disampaikan dengan lisan. Kemudian seluruh aturan syariah-Nya diamalkan dan diterapkan dalam segenap aspek kehidupan.[]




*) Pemerhati Masalah Sosial dan Remaja, Penulis dari Komunitas “Muslimah Banua Menulis.” Berdomisili di Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalsel.

Post a Comment

0 Comments