Agar Ujian Semanis Cokelat

Oleh : Mulyaningsih, S. Pt (Anggota Komunitas Akademi Menulis Kreatif (AMK) Kalsel)




Setiap makhluk hidup yang bernyawa tentulah akan menemui ujian serta cobaan. Begitu juga dengan manusia, pastilah ujian tersebut akan menjadi warna-warni dalam kehidupannya. Ya, memang begitulah adanya. Remaja pun akan menemui hal tersebut, entah itu ujian dalam hal perasaan, pergaulan, atau ujian yang sesungguhnya sebagai seorang siswa. 



Ujian akhir nasional dahulu namanya, mungkin sekarang hanya berubah nama tapi esensinya sama. Yaitu ingin mengukur sejauh mana para siswa mampu menerima pelajaran yang telah disampaikan oleh para guru. Dan lewat ujian ini penentuan nasib siswa akan dipertaruhkan, mampu melanjutkan pada jenjang yang lebih tinggi atau tidak. Mungkin itulah gambarannya.
Namun, fakta yang terjadi berbicara lain. Ujian yang diselenggarakan ternyata tak membuat heboh serta kecemasan di kalangan siswa. 


Mengapa demikian? Ya, hal tersebut menjadi hal yang mungkin agak diremehkan oleh para siswa sekarang. Pasalnya, mereka dapat dengan mudahnya menemukan jawaban dari soal-soal ujian tersebut. Sebelum ujian dilakukan banyak berseliweran jawaban-jawabannya. Sehingga membuat para siswa tersebut memandang sebelah mata pada ujian akhir ini. Mungkin mereka berpikiran, pastilah semua akan lulus begitulah adanya.

Padahal sejatinya ujian itu adalah baik. Ingin mengetahui layak tidak seseorang tersebut naik level dan kelas. Seharusnya persiapan yang maksimal perlu dilakukan agar hasil yang didapatkan memuaskan. Tentu perlu pengorbanan dari berbagai sisi, baik waktu, tenaga dan pikiran kita. Jadikan ujian yang didepan mata layaknya seperti coklat, rasa manis bukan justru pahit yang didapat.
Dalam islam pun ternyata ada lho tata cara untuk mendapatkan hasil ujian yang memuaskan atau setidaknya sesuai dengan target kita. Ada beberapa tips and trik yang semestinya dilakukan oleh para siswa agar bisa melewatinya dengan lancar gemilang. 


Pertama, yang harus dilakukan adalah tawakal. Hal ini sangat diperlukan adanya. Letaknya di awal dan akhir sebuah proses, apapun itu. Dengan adanya tawakal maka kita sebagai makhluk ciptaan Allah SWT akan selalu menghadirkanNya dalam setiap aktivitas kita. Hal ini sangat penting adanya. Karena kita hanya bisa bersandarkan padaNya. Dan harus menyakini bahwa semua yang terjadi adalah atas kehendakNya.



Kemudian yang kedua adalah usaha yang maksimal. Perlu melakukan hal ini dengan cara belajar secara sungguh-sungguh dan serius seluruh materi yang akan diujikan. Termasuk pula belajar dengan teman yang menguasainya atau jika perlu bertanya kepada guru yang bersangkutan. Dengan begitu setidaknya kita punya bekal agar mampu melewati ujian tersebut. 


Selanjutnya yang ketiga adalah beribadah dan berdoa secara khusuk. Hal ini juga tak kalah pentingnya. Ketika kita sudah berusaha maksimal dengan cara belajar sungguh-sungguh maka usaha lain yang mesti kita lakukan adalah ibadah serta doa yang serius. Meminta hanya kepada Allah SWT agar kita mampu menjalani ujian yang ada di depan mata kita. Hanya Allah yang bisa membantu kita untuk kasus ini. Sehingga mintalah secara serius padaNya tanpa melakukan hal lain yang akan mengikis keimanan kita.


Hal yang terakhir dilakukan adalah konsisten dalam hal kebenaran. Berbuat jujur serta percaya diri perlu dilakukan agar kita mampu melewati ujian dengan baik. Tak menghiraukan ketika banyak jawaban yang berkeliaran di dunia maya. Jangan sekali-kali meliriknya, jika kita melakukan itu maka nantinya pasti akan tergoda. Allah tidak menyukai perbuatan-perbuatan kecurangan. Hal ini seperti yang tergambar dalam sabda Nabi SAW 


“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnyakejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatiah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim).


Mencontek juga termasuk pada salah satu sifat orang munafik.sebagaimana Sabda Nabi SAW “Tiga tanda munafik adalah jika berkata, ia dusta; jika berjanji, ia menginkari; dan ketika diberi amanat, mak ia ingkar” (HR Bukhari dan Muslim).
Mencontek ini termasuk pada berbuat curang, tanpa mau bekerja keras sebagai usaha yang nyata. Ingin mendapatkan hasil yang memuaskan atau bagus dengan cara yang tidak ma’ruf. Padahal Nabi SAW bersabda “ Barangsiapa yang menipu kami, maka ia tidak termasuk golongan kami.” (HR Muslim dari Abu Hurairah).


So, lakukan yang terbaik ya friend. Optimalisasi seluruh komponen yang ada di atas tadi, insya Allah maka semua akan berjalan sesuai dengan diinginkan. Jangan terpaku pada hasil yang bagus tetapi terpautlah pada proses yang dijalani. Dan Allah akan memberi pahala yang lebih jika proses yang kita jalani sesuai dengan kaca mata Islam. Yakinlah bahwa Allah akan menolong hambanya yang beriman. So, be the best not be asa ya friend. Jadikan ujian ini semanis dnan selezat coklat. Semoga yang mau melaksanakan ujian, Allah berikan kemudahan serta hasil yang memuaskan. Aamiin. Wallahu A’lam. [ ] 


Mulyaningsih, S. Pt
Ibu Rumah Tangga
Pemerhati masalah anak, remaja dan keluarga
Anggota Komunitas Akademi Menulis Kreatif (AMK) Kalsel

Post a Comment

0 Comments