(AADC Sarden) Ada Apa Dengan Cacing Sarden

Oleh: Hany Handayani Primantara (Ummahat Peduli Ummat)


Siapa tak kenal dengan produk makanan instan kalengan? Bagi masyarakat zaman now yang sebagian waktunya habis dengan aktivitas rutin yang padat maka makanan instan bisa jadi penyelamat dari perut keroncongan. Makanan instan adalah solusi praktis karena penyajian pun gampang hanya tinggal menumis, tak perlu tunggu lama makanan pun langsung habis. Namun heboh ada cacing dalam produk makanan instan kalengan akhir-akhir ini. Tepatnya terjadi di wilayah pakanbaru Riau. Membuat resah para penggemar makanan instan kalengan.

Dikutip dari media TEMPO.CO, Jakarta - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Kota Pekanbaru merilis hasil uji laboratorium bahwa ada tiga produk impor ikan makarel kaleng yang terbukti mengandung cacing. Dengan begitu, lembaga yang berada di bawah koordinasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) itu menyerukan produk impor ikan tersebut harus segera ditarik dari peredaran dan masyarakat agar tidak mengonsumsinya. "Ada tiga produk ikan makarel, yaitu merek IO, Farmer Jack, dan HOKI," kata Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Kota Pekanbaru, Muhammad Kashuri, di Pekanbaru, Riau, Rabu, 21 Maret 2018.

Melihat ada kasus demikian rasa mual serta jijik menyerebak dalam diri saya. Walau saya bukan orang yang terkategori sering konsumsi makanan instan kalengan namun setidaknya saya pernah makan produk tersebut. Tak terbayang dalam makanan yang hendak kita konsumsi justru ada cacing (hewan yang menggelikan menurut saya) hadir mewarnai makanan yang tersaji. Walau memang ada sebagian besar menilai bahwa cacing itu justru mengandung protein tinggi dari sisi kesehatan sebagaimana yang diutarakan Menkes kita, tapi tak benar demikian adanya jika itu hadir dalam makanan instan.

Karena bisa jadi justru cacing tersebut adalah berupa parasit yang berbahaya bagi tubuh manusia jika dikonsumsi. Setelah dilakukan penelitian terhadap produk yang bermasalah ternyata terindikasi hadirnya cacing-cacing dalam produk makanan instan tersebut bukan lantaran produk yang telah rusak atau kadaluarsa. Hal itu terjadi karena memang dari semenjak awal produk ikan tersebut telah mengandung cacing sebelum dikemas dalam kaleng.

Dalam Islam jelas ini merupakan kecurangan namanya. Produk yang jelas-jelas telah rusak namun tetap diperjualbelikan oleh produsen makanan demi meraih keuntungan semata. Begitulah tabiat orang yang hanya berporos pada materi hidupnya, ia akan mencari keuntungan dengan berbagai cara termasuk dengan cara yang curang seperti itu. Tak peduli pada efek yang ditimbulkan karenanya bisa merugikan konsumen bahkan merenggut nyawa orang lain.

Bagaimana pemerintah bisa kecolongan makanan impor yang tak layak konsumsi seperti ini? Lagi-lagi rakyat yang kena imbas, perlindungan terhadap konsumen atas makanan yang beredar dipasaran seakan tak ada. Masyarakat saat ini harus lebih selektif sendiri dalam meneliti produk yang hendak ia konsumsi sebelum membeli. Jika hanya sekedar kadaluarsa dan rusak kemasan masih bisa dilihat secara kasat mata. Jika kasus seperti ini bagaimana bisa masyarakat umum mendeteksinya?

Dalam urusan jual beli, Rasul sampai berpesan kepada para pedagang agar tak boleh berbuat curang. Baik itu mengurangi timbangan atau menjual barang dengan harga yang bagus padahal kualitasnya jelek. Pernah suatu kali Rasul mendapati seorang pedagang kurma yang menjual kurma dengan menyimpan kurma basah di bagian bawah dan kurma kering di bagian atas, langsung pedagang tersebut ditegur oleh Rasul agar tak boleh berbuat curang dalam berdagang. 

Seakan kembali ke zaman kejahiliahan, produsen sekarang pun masih melakukan kecurangan dalam aktivitas jual beli. Jika tak ditopang oleh sebuah sistem yang melindungi hak-hak konsumen maka aktivitas kecurangan ini akan senantiasa berulang bak gunung es. Tak akan ada sifat jera, tak akan ada rasa takut dalam melakukan kecurangan jika pelaku kecurangan tak ditindak tegas oleh penguasa yang berkewajiban melindungi masyarakatnya.

Maka perlu hadir seorang penguasa yang berani untuk menghukum pelaku kecurangan agar timbul efek jera bagi si pelaku juga efek takut bagi masyarakat umum yang hendak melakukan kecurangan. Begitu pula perlu adanya sebuah sistem yang mampu melindungi para konsumen dari makanan yang berbahaya. Apalagi bagi kaum muslimnya, makanan yang dikonsumsi harus masuk katagori halal dan toyib bukan lagi sekedar tidak berbahaya. Mampukah penguasa saat ini melakukaannya?

Melihat kondisi saat ini serba sulit dari sisi ekonomi makin mendorong banyak pedagang berbuat curang. Maka makin sulit pula bagi konsumen agar bisa terlindungi dari serbuan makanan yang terjamin aman dari sisi kesehatan. Setali tiga uang, ada oknum pedagang yang curang berkoalisi dengan oknum penguasa yang berkepentingan. Maka rakyat kecil lah yang jadi korban. Korban keganasan sebuah sistem tak manusiawi, membuat yang lemah kian sengsara dan yang kuat dari sisi ekonomi kian jumawa.

Maka terjawab sudah pertanyaan banyak orang tentang "Ada Apa Dengan Cacing Sarden?" Jawabnya ada praktik kecurangan dilakukan sebagian golongan yang punya kepentingan. Bukan demi kepentingan rakyat namun hanya demi kepentingan segelintir orang yang justru merugikan banyak orang.

Penulis merupakan salah satu pemerhati politik dan sosial serta aktif dalam komunitas menulis Revowriter yang tinggal di Tangerang.

Post a Comment

0 Comments