Waspada Hati



Oleh : Amalidatul Ilmi (Mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya) 

 

Langit pagi tak selalu cerah dengan hangatnya mentari. Ia dapat berkabut karena turun hujan dimalam hari dan suhu menjadi dingin atau hangat dengan munculnya mentari pagi yang menyinari bumi.  

Kata orang cuaca dapat mewakili isi hati seseorang. Misal setelah turun hujan gerimis muncul dengan warna-warninya. Itu menunjukkan bahwa bahagia datang setelah kesedihan.  

Lalu saat mendung dan turun hujan seolah menggambarkan hati sedang dirundung duka, galau, sedih dll. Padahal meskipun telah berganti cuaca belum tentu berganti pula suasana hati yang dirasa.  

Banyak faktor dari masalah hati yang dialami. Apalagi perempuan yang menjadikan rasa menjadi senjata untuk menilai apa yang dilihatnya. Tak sedikit yang bilang "perasaanku gini.." "perasaanku bukan gitu.." dsb.   

Sebenarnya itu tak salah. Namun jika menjadikan satu-satunya modal dalam menilai sesuatu apalagi menilai orang lain itu bisa bahaya. Ya karena tak semua rasa dalam hati seseorang sama. Dan tidak akan pernah sama.   

Tabayyun. Ya kroscek terlebih dahulu sebelum memutuskan. Tidak langsung menjudge yang belum tentu benar. Bagaimanapun juga hidup membutuhkan orang lain. Perbedaan itu wajar karena beda kepala pasti beda isi.   

Bukan salah keadaan jika pada akhirnya membuat retak suatu hubungan. Ibarat karena nila setitik rusak susu sebelanga. Akhirnya tak satupun kebaikan terlihat dari seseorang. Maka hal negatif selalu ditujukan tanpa perlu konfirmasi. 


Tak selamanya dapat berpura-pura meskipun mencoba ditutupi pasti kan terasa. Kembali jangan terjebak dengan dalih "perasaan." Waspada Hati karena ia bisa berbolak-balik. Komunikasi yang baik akan membantu mengubah kesalahan pahaman yang ada. 


Ya kata "maaf" dari ketulusan hati dapat mengubahnya. Meskipun tak semua orang bisa menerima kesalahan orang lain namun kata itu tak menjadikan yang meminta dan pemberi "maaf" menjadi rendah. 


Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi 'ala diinik.. Semoga Allah menjaga hati kita dari prasangka buruk yang dapat merusak amal dan hubungan antar sesama hamba-Nya. 

Ushikum wa nafsiy bitaqwallah.[]


Post a Comment

0 Comments