Tantangan Dibalik Peluang Trend Hijab Syar’i



Oleh: Wati Umi Diwanti*
Pengasuh MQ.Khadijah Al-Qubro, Revowriter Kalsel-Martapura


Saat ini berhijab syar’i tak tabu lagi. Tak sulit bagi siapapun untuk memulai berpenampilan menutup aurat. Bahkan langsung dengan pakaian serba lebar paketan gamis dan kerudung sekalipun. Selain sudah menjadi pemandangan umum keseharian. Memperoleh stok pakaiannya pun sudah sangat gampang. Suka pilih sesuaikan dengan keuangan dan model yang diinginkan. Harga mulai puluhan ribu hingga jutaan. Modelnya pun bervarian, mulai dari pakaian rumahan, kantoran hingga untuk berenang pun sudah tersedia.

Berbeda dengan belasan tahun silam. Saat hijab hanya menjadi pilihan satu dua orang saja dalam sebuah RT atau komplek. Hanya di komunitas tertentu saja pemakai hijab berseliweran. Di tempat lain, akan menjadi pusat perhatian. Bahkan tak jarang akan dipersilakan untuk duduk saat kereta penuh karena dikira sedang hamil. Xixixii..

Karenanya dulu setiap yang ingin merubah penampilan menggunakan hijab syar’i mestilah mencari penguatan dan ilmu sana sini. Karena pasti banyak yang komplen dan bertanya. Jika tak cukup bekal ilmu dan kesabaran pastilah tak sampai sebulan sudah bubar jalan. Alias back to pakaian lama.

Maka sungguh trend hijab syar’i saat ini merupakan peluang yang harus disyukuri dan segera dimanfaatkan. Hanya saja tentu ada tantangan tersendiri dibalik mudahnya merubah penampilan saat ini. Jangan sampai perubahan kita hanya sekedar mengikuti trend.

Coba kita perhatikan model hijab saat ini. Mulai dari jilbab alias gamis, kerudung hingga ciput alias dalaman kerudung modelnya aneka rupa. Mulai dari yang biasa sampai yang luar biasa. Yang semarak bak pakaian pesta pun ada. Sudah tak bisa dibendakan mana hijab mana gaun. Mana penutup aurat yang harusnya menutupi kecantikan, mana yang justru mengumbar kecantikan. Kita harus waspada menyikapinya.

Inilah pentingnya ilmu menyertai amal. Memakai hijab syar’i tentunya bagian dari amal sholih. Perkara yang diperintahkan Allah. Hanya saja memakainya tidak otomatis membuat kita berpahala. Karena pahala amal sholih diberikan jika memenuhi dua syarat. Niat dan caranya harus benar.

Memakai penutup aurat dengan hijab syar’i harus diniatkan untuk melaksanakan seruan Allah dalam surah Al-Ahzab ayat 51 tentang jilbab, dan surah An-Nur ayat 31 tentang kerudung. Lillah semata karena Allah. Bukan karena sedang trend mode, sekedar kebetulan cocok di badan. Apalagi jika untuk menutupi gelambir perut yang kian berlipat. Oh.. Big no!

Selanjutnya harus dipahami bahwa hijab syar’i bukan sekedar merk pakaian. Atau sekedar tampilan luar yang serba panjang dan lebar. Kita harus tahu hijab syar'i dalam makna yang sebenarnya. Selain terdiri dari jilbab dan kerudung. Cara memakaiannya adalah ditimpakan/ditumpukan di atas pakaian rumah. Jika tanpa memakai pakaian rumah di dalamnya maka belum sempurna.

Selain itu jilbab itu sendiri tidak boleh transparan dan kentat. “Asma’ binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam dengan memakai pakaian yang tipis. Maka Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam pun berpaling darinya dan bersabda, “wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haidh (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini”, beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya.” (HR. Abu Daud)

Makna kata ‘tidak boleh terlihat dari dirinya’ itu melingkupi lekuk dan warna tubuh wanita. sehingga pakaian ketat dan transparant bukanlah penutup aurat yang syar’i. Meskipun bagian luar akan tertutup oleh kerudung ekstra lebar tetaplah tidak menjadikan jilbab yang kentat atau transparan itu menjadi syar'i.

Tidak kalah penting untuk dipahami adalah hijab syar'i ditujukan untuk melindungi kecantikan wanita. Yang diperuntukan hanya untuk suaminya. Maka jika berhijab syar'i justru menonjolkan kecantikan maka jelas terjadi kesalahan. Semisal jilbab atau kerudung yang modelnya nyentrik di luar kebiasaan. Apalagi jika sampai membuat orang lain terperangah. Bisa jadi malah terkategori tabarruj. Dan ini salah satu larangan bagi wanita.

Oleh karena itu agar hijrah kita ke hijab syar'i benar-benar mengundang ridho Illahi. Sederhanakan dan sesuaikan dengan ketentuan syariat. Ikutilah perubahan pakaian kita dengan melajari Islam lebih mendalam. Bertemanlah dengan orang-orang sholih, yang hanya mengharap ridho Allah. Sehingga, andai suatu saat nanti trend pakaian ini berubah lagi kita tetap istiqomah menjalani yang sudah dipahami. Kokoh berpijak pada aturan Allah. Insya Allah berkah.

Post a Comment

0 Comments