Saturday, March 24, 2018

Tak Kenal Maka Menyerang

Oleh: Wati Umi Diwanti*




Dengan wajah riang dan panggilan kesayangan pada si bungsu, sang nenek memasuki rumah anaknya sambil membawa sebuah laba-laba mainan untuk cucunya. Laba-laba itu bisa bergerak naik turun sendiri. Seraya mengatraksikan gerak mainan tersebut nenek menyodorkannya sambil mengatakan “nah ini untuk cucu kesayangan nenek, baguskan?” Tak disangka si cucu justru menjauh ketakutan dan berteriak “atut, atuut, nenek nakal” sambil menunjuk ke arah sang nenek. Spechless Nenek bermuram seketika, kecewa yang terjadi tak sesuai rencana. 

*****


Begitulah kiranya jika seseorang belum tau hakikat apa yang dia terima, hanya melihat sekilas dan langsung berkesimpulan. Sesuatu yang seharusnya menyenangkannya, bahkan bisa jadi yang sebenarnya dia cari selama ini. Justru dia tolak mentah-mentah. Bahkan tak sekedar menolak tapi dia juga melafazkan sesuatu yang menghakimi . Bahkan bisa mempengaruhi orang lain untuk turut membenci dan menolaknya.



Demikianlah fakta yang ada sekarang banyak, serangan terhadap kebangkitan Islam mulai terjadi secara masal. Pembubaran pengajian, kriminalisasi ulama dan fitnahan terhadap ajaran Islam kian marak. Mulai dari tuduhan ekstrim, radikal, intoleran, makar, hingga perusak NKRI. Atas nama memelihara keberagaman banyak pihak sudah terang-terangan menolak Islam dijadikan rujukan dalam membahas setiap permasalahan.



Penolakan memilukan semacam ini bisa jadi disebabkan ketidak tahuan pada hakikat penerapan syariat Islam. Mereka menyangka penerapan Islam hanya berpihak pada umat Islam seperti halnya sekarang, saat sitem kapitalis diterapkan maka hanya kapitalis saja yang diuntungkan. Mereka menyangka saat Islam diterapkan banyak tangan yang akan penggal. Padahal tidak akan ada potong tangan sebelum adanya jaminan kebutuhan. Dan mungkin masih banyak sangkaan lain yang membuat mereka mencari aman dengan melakukan penolakan.



Padahal Allah Swt sudah menyampaikan bahwa Islam merupakah rahmat bagi seluruh alam (QS. al-Anbiya:107). Dan sepanjang sejarah penerapan Islam hal ini bukanlah isapan jempol semata, melainkan nyata. Sebagaimana sejarahwan Barat, Will Durant dengan jujur mengungkapkan dalam bukunya The Story of Civilization. ” Para Kholifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para Kholifah telah mempersiapkan berbagai kesempatan bagi saiapun yang memerlukannya dan meratakan kesejahteraan selama berabad-abad dalam luasan wilayah yang belum pernah tercatatkan lagi fenomena seperti itu setalah masa mereka ”



Ini semua bisa terjadi karena Islam mewajibkan negara menjadi penjaga harta, jiwa bahkan agama setiap warga negaranya. Dan memberikan jaminan kesejahteraan pada setiap yang memilih Khilafah sebagai kewarganegaraannya. Apakah dia muslim atau bukan. Sandang, pangan, dan papan dijaminkan melalui aturan penafkahan pada para wali, jika berdasar urutan penafkahan tidak ditemui yang mempu menanggungkan maka negaralah yang mencukupinya dari harta baitul maal (kas negara). Adapun kebutuhan kolektif seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan maka ini langsung ditanggung oleh negara. Semua warga negara mendapatkannya secara cuma-cuma tidak hanya kaum tak berpunya tetapi juga bagi yang kaya.


Tentunya hal tersebut mustahil dilakukan dalam kondisi negara seperti saat ini dimana, pajak menjadi pemasukan utama. Sementara lahan-lahan beserta isinya bebas dieksploitasi oleh para kapitalis baik Asing, Aseng maupun Asong. Saat Islam diterapkan nanti, pengelolaan sumber daya alam akan dialihkan pada negara secara total, dari sanalah kesejateraan yang menjadi hak rakyat dapat diwujudkan.



Maka sudah barang tentu para pengusung ideologi kapitalis inilah yang akan dirugikan oleh penerapan Islam, bukan rakyat baik ia muslim ataupun non muslim. Penerapan syariat Islam kafah otomatis membuat mereka kehilangan lahan jajahan. Maka sesungguhnya dapat terlihat jelas merekalah yang sangat berkepentingan menentang kebangkitan Islam. Sudah pasti merekalah yang berada dibalik layar upaya kriminalisasi ajaran Islam saat ini. Dalang semua serangan dan penolakan. Dan tentunya akan sangat efektif bagi mereka jika menggunakan sesama muslim sebagai corongnya. 



Karenanya kita sebagai warga negara apalagi muslim harus berhati-hati. Senantiasa waspada atas upaya adu domba yang mereka lakoni. Kenalilah baik-baik agama ini dan kenali pula saudara muslim sendiri. Salah dalam mengenali siapa kawan dan siapa lawan akan membuat kita merugi. Tak hanya di dunia, selamanya kita hidup sebagai objek jajahan dan eksploitasi. Tapi juga kerugian besar di akhirat. Allah telah memberi peringatan keras pada umat yang tak mau menerima aturan yang telah ditetapkannya. Juga bagi yang menerima sebagian tetapi menolak sebagian lainnya. Berhati-hatilah.



Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. al-Ahzab: 36)

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, ‘Kami beriman kepada sebagian (dari rasul-rasul itu), dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain),’ serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (lain) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, ke lak Allah akan memberikan kepada mereka pahala. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisaa’ ayat 150-152)

*Pengasuh MQ. Khodijah Al-Qubro, Revowriter Kalsel 

Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!