Sunday, March 18, 2018

Surga Tak Sekedar Ingin



Oleh: Hamsina Halik (Anggota Komunitas Revowriter)

Pernah lewat di sebuah pameran mobil mewah? Pernah melihat sebuah iklan smartphone yang kece dengan spesifikasi yang wow? Atau punya teman yang di sekolah dengan nilai yang sangat memuaskan, selalu juara kelas, punya banyak penghargaan sebagai siswa teladan, apa yang terpikirkan oleh kita? Mungkin dalam hati akan terbersit kata-kata ini, "Aku juga ingin". Tapi, apakah hanya sekedar berkata ingin kemudian semua itu akan terwujud? Tentu tidak, kan!.


Ada hasil ada usaha. Begitulah kira-kira kalimat yang cocok untuk menjawab keinginan ini. Tak semua hal yang terlihat kemudian takjub dan ingin meraih hanya sebatas berkata ingin saja. Tentu saja harus ada usaha yang dilakukan agar bisa terwujud hal tersebut. Ingin punya mobil dan smartphone canggih, paling tidak harus punya uang untuk bisa membelinya. Ingin sukses menjadi seorang siswa teladan yang cerdas, bukan sekedar akademik tapi juga akhlak, tentu saja harus belajar dengan sungguh-sungguh. Maka, tak ada yang instan dalam dunia ini. Meraih sesuatu tak semudah membalikkan telapak tangan.


Jika, untuk meraih keinginan di dunia ini saja tak sekedar hanya berkata "ingin", maka demikian pula di akhirat. Untuk masuk ke dalam surga-Nya  tak sekedar berkata, "saya ingin masuk surga". Tapi, ada bayaran yang harus dipenuhi sebelum memasukinya. Tak gratis. Caranya? Lakukan perniagaan dengan Allah. Pembayarannya adalah dengan terus memperbaiki diri dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Meningkatkan kualitas diri, menjadi lebih baik. Menjadikan Islam sebagai asas dalam kehidupan, bukan yang lain. Maka, ridho Allah akan diraih. Kebahagiaan pun datang menghampiri. Surga pun akan engkau masuki.

Surga itu memang luas. Dikatakan bahwa luasnya seluas langit dan bumi. Dan Allah maha pemurah kepada setiap hamba-Nya. Dalam firman-Nya:

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Ali Imran: 133)

Tak ada yang tahu kemana kaki ini akan berpijak nantinya di akhirat. Sebagai makhluk yang lemah dan terbatas, hanya bisa berikhtiar menjadi yang lebih baik. Siapapun, pasti mendambakan surga sebagai tempat tinggal terakhirnya. Siapa yang tak mau dengan kenikmatan dan keindahan surga yang tiada bandingannya dengan kenikmatan dunia?

Dalam hadits qudsi, Allah SWT berfirman:
“Aku telah persiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh kenikmatan yang tak pernah dilihat mata, tak pernah terdengar oleh telinga, dan tak pernah terbetik di hati manusia.” Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Kalau mau, silakan kalian baca:

“Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka. (TQS. as-Sajdah: 17)’.” (HR. Bukhari)

Nampaklah keagungan nikmat dan kesenangan surga ketika dibandingkan dengan kenikmatan dan kesenangan  duniawi.  Rasulullah SAW bersabda, “Tempat cemeti salah seorang kalian di surga lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. al-Bukhari)

Peningkatan kualitas diri itu akan bisa diraih dengan memperkuat akidah Islam. Bukan sekedar yakin bahwa Allah SWT adalah pencipta. Akan tetapi, mampu mengaitkan apa hubungan manusia, alam semesta dan kehidupan sebelum dan sesudah kehidupan ini. Dengan pemikiran yang menyeluruh akan didapati bahwa sebelum kehidupan ini ada pencipta, yang menciptakan segala sesuatu dan yang maha pengatur. Maka, manusia diciptakan tidak lain untuk beribadah kepada Allah SWT. Sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56).

Ibadah yang dimaksud bukan sekedar shalat, puasa dan ibadah-ibadah lainnya. Melainkan segala aktivitas yang diniatkan semata karena Allah SWT dan sesuai dengan syariah-Nya, maka itu pun termasuk ibadah. Demikian pula, ketika dipahami bahwa setelah kehidupan ini akan ada hari penghisaban (pertanggungjawaban). Di hari penghisaban ini, manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas segala aktivitasnya yang dilakukan selama hidup di dunia. Sekecil apapun kebaikan atau keburukan  itu, semua tak luput dari pertanggung jawaban.  Jadi, sebelum kehidupan ada proses penciptaan  dan sesudah kehidupan  ada penghisaban. Inilah akidah Islam dengan konsekuensinya harus terikat dengan hukum Syara'. Aturan-aturan Allah SWT yang telah ditetapkan.

Firman Allah SWT, “Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa yang telah diperbuatnya” (QS. Al-Mudatstsir: 38)

Dengan akidah yang kokoh, maka diri akan senantiasa berjalan dalam kehidupan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Menjadikan Syara' sebagai standar dalam berbuat, semata untuk meraih ridho Allah. Pun, Rasa takut dalam diri akan hadir yang akan  membuat diri menjadi lebih berhati-hati ketika berbuat. Takut akan jatuh dalam kemaksiatan. Berusaha meningkatkan ketaatan dan ketakwaan kepada Allah, inilah bayaran sesungguhnya keinginan masuk surga itu.

Wallahu a'lam.



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!