#Renungan Tentang PANAS



Oleh: Wati Umi Diwanti-Revowriter Kalsel

Bukan panas matahari atau panas kompor. Ada panas lain yang bikin para emak lebih terbakar. Bisa lakukan apapun.

Tetangga beli motor baru. "Wah kudu beli juga nih." Teman sekolah sudah punya rumah. "Gak boleh kalah, harus punya yang lebih mewah." Rival kantor sering tamasya ke luar kota. "Saya harus ke luar negeri."

"Itu lho adek kelasku, kemarin ketemu pas reuni. Suaminya nganterin pake mercy, udah gitu emasnya sampe kaki. Lha saya udah puluhan tahun cuma bisa begini."

"Wah pake ilmu apa ya dia, baru juga beberapa bulan ini jualan kok orderanya udah kayak air bah gitu. Aku yang sudah bertahun-tahun, omset malah melorot."

Ya, panas! Ga enak banget liat orang lain lebih dari kita. Survey membuktikan kebanyakan manusia itu, "Susah liat orang senang, senang liat orang susah." Betul apa benar? 😄

Hebatnya panas ini bisa membakar semangat untuk berjuang mendapatkan yang sama. Bahkan kalo bisa lebih diatasnya. Ga apa-apa sih. Asal jangan sampai halalkan segala cara. Tidak sampai jatuh pada dengki dan hasad.

Berupaya menghilangkan apa yang dimiliki orang lain. Apalagi kalau sudah sampai melanggar norma agama. Ini berbahaya! Capek sendiri tentunya. Dan rugi jika semua tersita hanya untuk mencari dunia.

Hakikat dunia hanyalah fatamorgana. Seperti air laut. Semakin diminum semakin haus, semakin berjuang semakin berasa kurang.

Gimana kalo panas liat orang lain bisa hafal qur'an? Panas liat emak lain anaknya banyak, ngajinya juga banyak? Panas liat emak lain kerjanya beres, rumahnya kinclong, anak terurus, majelis ilmu ga pernah bolos.

Panas sama yang bisnisnya getol dakwahnya pun selalu gas pol. Panas liat teman satu grup nulis tiap hari setor tulisan yang menyeru kebenaran. Tiap hari ada saja yang taklukan media.

Panas liat teman yang dulunya ga bisa apa-apa sekarang pinter bahasa arab, pinter ngaji bahkan sering jadi pemateri.

Panas! Lalu terbakar, semangat pun membara ingin lakukan yang sama. That's good! Panas yang ini kudu!

Hingga akhirnya diam-diam kita menyelinap di jalan yang pernah mereka lalui. Mendatangi para guru yang mereka pun berguru di situ. Kepo in gimana caranya mereka atur waktu. Pelan-pelan ikut latihan apa yang selama ini sudah mereka rutinkan.

Panaslah! Dan berlombalah dalam kebaikan! Lakukan berbagai upaya untuk bisa dapatkan yang sama. Jikapun tak mampu menandingi dalam karya, paling tidak ada kesempatan sama dalam pahala. Karena Allah tidak membalasi hasilnya, namun senantiasa mencatat setiap jengkal prosesnya.

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ (22) عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ (23) تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ (24) يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُومٍ (25) خِتَامُهُ مِسْكٌ وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ (26)

“Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam keni’matan yang besar (syurga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh keni’matan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al Muthaffifin: 22-26)

Post a Comment

0 Comments