Saturday, March 24, 2018

Pentingnya Maklumat Sabiqah

Oleh : Sunarti



Lawakan itu sedang trend, mulai dari istana raja hingga rakyat jelata. Di mana-mana banyak yang 'melawak'.
Dalam sebuah pertunjukan wayang kulit, ada dalang, ada sinden (penyanyi) , ada panjak (pemusik) dan asisten dalang. Mereka bekerja sama untuk menghadirkan tontonan yang menarik untuk pemirsa. Karena pertunjukan tidak hanya dapat dilihat, tapi juga dibuat sebuah rekaman maka mereka juga bisa menggambarkan bagaimana pendengar bisa terpuaskan dengan sajiannya. 


Dalam cerita pewayangan biasanya ada sebuah episode lawakan, disebut "goro-goro". Pada saat demikian dalang memainkan tokoh Cantrik/Ponokawan untuk melawak dan nembang (bernyanyi dengan gamelan jawa). 



Ceritanya, saat itu Sang Dalang memaksimalkan para Sindennya untuk nembang. Kebetulan ada salah satu Sinden hanya bisa berbahasa Indonesia, tapi dia piawai nembang dengan berbagai tembang jawa. Langgam, pelok, slendro, pelok slendro dengan pathetan dan masih banyak yang lain.



Pada saat pertama Sang Dalang mendengar suara Si Sinden ini, luar biasa apresiasinya. Suara yang bagus membuat Sang Dalang menyanjung habis-habisan. 
Seolah sudah menjadi kebiasaan akan adanya lawakan, Sang Dalang menyanjung dengan bahasa Jawa. 
Karena tidak begitu tahu makna dari sanjungan tersebut, Si Sinden bertanya "Itu apa artinya 'semanten', Bapak Dalang ? ", tanyanya polos. 



Usil Dalang mulai muncul "Oh itu kalau 'suantene namung semanten sampun damel karonto-ronto manah kulo', kalau diartikan bahasa Indonesia, 'suara yang sudah seperti "wedhus" itu suara yang bagus", sanjung Dalang. 


"Oh, begitu ya Pak Dalang. Iya, terimakasih sanjungannya. Kalau menurut saya, Pak Dalang itu juga Wedhus, suaranya", jawab sinden mencoba menyanjung Sang Dalang. 
"Oh, tidak begitu, wedhus itu hanya untuk penyanyi wanita yang suaranya bagus. Kalau laki-laki beda namanya'', Sang Dalang mulai merasa kena senjata juga. 



"Beda-beda ya Pak Dalang. Maaf, saya tidak tahu kalau berbeda. Sebelum tampil di panggung malam ini saya bertemu dengan istri Bapak, juga wedhus itu berati ya Pak ?", tanya penyanyi yang juga masih polos. 


Kontan penonton tertawa. 



Padahal pada faktanya, secara bahasa ''wedhus" itu artinya kambing. Karena Si Sinden memang belum tahu, maka dia ucapkan dengan percaya diri, padahal ucapannya salah. Bagi masyarakat jawa atau yang sudah mengerti bahasa Jawa, itu lawakan saja, tapi bagi yang belum tahu, itu dianggap benar. 



Mendengar satu lawakan, secara tersirat peristiwanya sama dengan yang dialami kaum muslimin saat sekarang. 


Tapi, penulis tidak akan membahas lawakan. 


Kali ini hendak dibahas tentang maklumat sabiqah/pemberitahuan sebelumnya yang diterima oleh kaum muslimin.


Secara perlahan namun pasti, semenjak runtuhnya Daulah Khilafah 1924, para pengemban ideologi sekulerisme menyebarkan maklumat ideologinya kepada penduduk bumi. Baik kaum muslimin maupun non muslim. 


Demikian juga dalam tata negara, mereka jaga getol mengkampanyekan sistem pemerintahan di luar Islam. 



Sistem demokrasi yang diemban dan dianut di berbagai belahan negeri ini juga merupakan contoh nyata. 
Yang mana dalam pelaksanaannya terdapat tumpang tindih antara aturan yang satu dengan yang lainya. Memperluas peluang terjadinya kerusakan, kejahatan dan kebebasan.



Juga dengan berbagai dalih, menyamakan bahwa sistem ini juga berasal dari Islam. Dengan berbagai argumen pula menawarkan kebaikan-kebaikan di setiap sisinya. 
Padahal telah tampak nyata perubahan yang hendak dituju bukanlah berbuah kabaikan, tapi justru kesengsaraan. 



Mereka para pengemban ideologi sekulerisme berusaha memhamkan pada umat tentang kebaikan sistemnya. Bagaikan orang asing yang belum mengerti Islam, umat menerima dengan lapang dada. Dan tidak jarang justru berada di barisan terdepan sebagai pembela sistem ini.  


Tak ayal lagi, jikalau keberhasilan juga didapat dari penyebaran maklumat sabiqah/pemberitahuan sebelumnya tentang pemikiran ini oleh para pengemben ideologi sekukerisme. 




Sungguh keuntungan yang luar biasa, bagi para pengemban ideologi sekularisme. 
Mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mulai dari kepercayaan umat, pembelaan hingga sumber daya alam yang bisa dikeruk dengan alasan kerja sama. Luar biasa memang, maklumat yang terus-menerus dihembuskan agar tujuan mereka tercapai. 
Acapkali, para pengikut justru mencibir adanya ide dari sistem Islam. Bahkan, cenderung menyalahkan ajaran Islam sebagai penyebab sekian kerusakan. Tidak disadari atau sengaja, mencitra burukkan ajaran Islam. 



Padahal semua harus tahu, bahwa sekarang yang dipakai/diterapkan bukan Sistem Islam. 
Sistem demokrasi buatan manusialah yang diterapkan. Lantas mengapa ajaran Islam yang dsalahkan ?



Maklumat tentang ajaran Islam yang secara menyeluruh tidak pernah diterima oleh umat, padahal ajaran ini dari Allah SWT, yang dibawa oleh Nabi Allah, Muhammad SAW.  
Dan akhirnya umat terbawa arus maklumat kebenaran sistem demokrasi.



Sudah saatnya kita memperbaiki mindset pemikiran kita dan seluruh umat dwngan pemikiran Islam. 
Kita bersihkan maklumat sebelumnya yang jelas-jelas salah, kita ganti dengan maklumat yang baru yaitu ajaran Islam yang shahih. 
Berasal dari Sang Pencipta, dengan segala kemaslahatannya.


Wallahu alam bisawab

Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!