Pemuda dalam Pandangan Islam

Oleh : Mulyaningsih, S.Pt ( Anggota Akademi Menulis Kreatif (AMK Kalsel) )



Dunia pendidikan kembali digegerkan lewat berita penganiayaan terhadap guru. Hal tersebut terjadi pada Senin, 22 Januari 2018. Kejadian bermula dari dua orang siswa SMKN V Semarang (kelas X jurusan Teknik Komputer dan Jaringan) keduanya berumur 15 (IBR) dan 16 (DIR) tahun. Mereka berani melakukan perbuatan yang tak pantas dilakukan oleh seorang pelajar. Perbuatan tersebut adalah membunuh dengan cara menggorok leher korban sampai meninggal dunia. Korbannya adalah bapak sopir taksi online yang bernama Deni Setiawan.



Awal kejadian bermula dari salah seorang dari pelaku yang berinisial  IBR. Pada hari Sabtu, 20 Januari 2018 memesan taksi online dengan tujuan ke daerah Sambiroto Tembalangan. Ketika sampai di daerah Citra Grand mereka mulai melakukan eksekusi. Satu orang duduk di samping sopir dan yang satu lagi berada dibelakangnya. Yang duduk di samping sopir (DIR) bertugas mengajak ngobrol si korban dan IBR yang berada di belakang bertugas mengeksekusi korban dengan cara menggorok leher dengan belati yang sudah dipersiapkannya.



Tak cukup itu, kabar yang tak kalah menghebohkan kembali datang dari daerah Sampang, Madura. Masih seputar pelajar, kali ini korbannya adalah gurunya sendiri. Kejadiannya terjadi pada hari Kamis, 1  Februari 2018. Pelaku berinisial HI adalah murid SMA Negeri 1 Torjun yang tega menganiaya gurunya sendiri hingga tewas. Awal mula kejadiannya yaitu pada saat guru Budi Cahyono sedang mengajar bidang studi kesenian. Pada saat itu HI tertidur di kelas. Melihat HI yang sedang tertidur guru Budi mendatangi dan mencoret mukanya dengan tinta. Tak terima mukanya dicoret, HI-pun dengan seketika langsung memukul sang guru di bagian belakang kepala. Merasa tak puas dengan kejadian di kelas tadi, maka HI mencegat dan memukuli guru Budi kembali setelah pulang sekolah. Ia kembali memukuli gurunya secraa brutal. Sesampainya di rumah, korban langsung pingsan dan dirujuk ke RS Dr Soetomo di Surabaya. Namun, sang guru tak dapat diselamatkan, beliau meninggal di Rumah Sakit. 



Fakta lain juga terjadi di wilayah Pontianak. Sang guru telah dipukuli muridnya sendiri hanya karena beliau menegurnya ketika sedang asyik bermain game online saat waktu belajar. Sungguh diluar nalar, para pelajar dengan arogansinya tega menganiaya gurunya sendiri. Tak ada tata karma atau etika lagi.
Dari kejadian di atas tadi maka patutlah kita merasa marah dan geram terhadap sikap para siswa zaman now. Mereka sungguh tak punya rasa takut dan malu lagi. Tak adakah keimanan yang melekat pada diri-diri mereka?



Sangat jauh berbeda ketika Islam sudah melekat dalam jiwa-jiwa para pemuda. Mereka ibarat buku-buku yang berjalan. Banyak karya-karya yang mereka hasilkan di masa mudanya. Dengan keislamannya Itu, mereka seperti mutiara yang memancarkan cahaya kemilaunya nan indah. 


Banyak sekali kisah yang dapat kita ambil hikmahnya. Yang sepatutnya bisa ditiru oleh para pemuda di zaman now. Rasa ketakutan terhadap Allah SWT menjadi hal yang utama dan pertama. Ditambah juga ketaatan yang sangat luar biasa mengkristal pada diri-diri pemuda Islam. Sebagaimana cerita yang telah tercatat dalam sejarah. Ada tujuh pemuda bersembunyi di gua. Mereka itulah Ashabul Kahfi, yang dengan keberaniannya menolak untuk kembali pada ajaran agama nenek moyang. Mereka dengan tegasnya mau mempertahankan agama yang sedang dianutnya. Keberanian mereka tercantum dalam Al Qur’an Surat Al Kahfi ayat 10 dan 26.


Contoh yang sangat nyata dan sudah semestinya dapat kita contoh adalah ketika Rasulullah SAW berdakwah. Pada saat itu, generasi pertama yang mau menerima dakwah Rasul mayoritas adalah pemuda. Mereka selalu ada pada garda terdepan untuk menjaga dan melindungi Islam. Pasukan perang yang ada juga dipenuhi oleh para pemuda. Begitu pula dengan utusan Rasulullah untuk berdakwah adalah pemuda. 


Mush’ab bin ‘Umair, beliau diminta oleh Rasulullah untuk berdakwah ke Madinah. Ia menjadi duta Islam yang pertama, mau meninggalkan segala kebanggaan dunia dan menggantikannya dengan kemuliaan hakiki. Berkat kiprah dan kerja keras Mush’ab, dalam tempo kurang dari satu tahun hampir seluruh penduduk Madinah memeluk Islam.

Dari gambaran contoh nyata diatas dapat ditarik satu kesimpulan bahwa posisi seperti itulah yang semestinya harus ada pada para pemuda Muslim kita. Mereka adalah pengemban dakwah Islam yang terpercaya, duta-duta propaganda syariah Islam yang akan menjadi rahmat bagi seluruh penduduk bumi jika Islam diterapkan secara kâffah dalam bingkai sebuah negara.


Posisi dan fungsi vital pemuda inilah yang harus kita kembalikan agar sesuai dengan tuntutan Islam. Oleh karena itu harus ada sebuah gerakan penyadaran kepada para pemuda Muslim yang dilakukan oleh semua pihak, khususnya partai politik Islam yang berpijak pada mabda’ (ide dan metode) Islam. Sejatinya peran penting pemuda akan teroptimalisasi dalam masyarakat yang menerapkan Islam secara kâffah. 


Negara akan menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk pemberdayaan pemuda. Sistem pendidikan, pergaulan, sosial, sistem ekonomi dan politik yang akan diterapkan negara mendukung pemberdayaan potensial para pemuda sebagai penjaga dan pelindung Islam terpercaya. Akal dan hati mereka akan senantiasa ditambatkan pada Islam dan kejayaan umatnya. Wallahu A’lam.[ ]

Mulyaningsih, S.Pt
Ibu Rumah Tangga
Pemerhati masalah anak, remaja dan keluarga
Anggota Akademi Menulis Kreatif (AMK Kalsel)


Post a Comment

0 Comments