Sunday, March 25, 2018

Partisipasi Perempuan Membangun Peradaban

Oleh : Susi Sukaeni



Perempuan, tema yang selalu menarik untuk diperbincangan. Sepanjang bulan Maret hingga April nanti, sepertinya belum sepi. Ada agenda hari perempuan Internasional 8 Maret diperingati dengan menggelar Women march 2018 yang bikin heboh dengan aneka poster dan tuntutan yang tak lazim menolak kekerasan seksual. “My Body My Choice“, “Auratku bukan urusan lho”, “Bukan bajuku yang porno, tapi otak lho”, “Rokku is my right”, dll. 



Partisipasi perempuan perspektif gender



Memasuki bulan April, perbincangan semakin panas dan memuncak menjelang peringatan Hari Kartini tanggal 21 April. Kartini telah menjadi ikon perjuangan emansipasi perempuan Indonesia agar tampil sejajar dengan pria. Kesejajaran itu kini diaruskan dengan jargon “Keadilan dan Ketaraan Gender (KKG)”. Adapun seruan emansipasi perempuan telah digaungkan dengan slogan “partisipasi perempuan dalam pembangunan”.



Partisipasi dalam KBBI diartikan peran serta dalam suatu kegiatan. Namun sayang partisipasi perempuan telah disempitkan maknanya hanya berkaitan dengan seruan keadilan dan kesejahteraan gender, pemberdayaan perempuan, kesempatan kerja dan kuota politik perempuan. Diluar itu seolah bukan partipasi yang layak diapresiasi dan didukung. 



Partisipasi perempuan dalam rangka mewujudkan KKG diarahkan untuk menghapuskan dominasi dan diskriminasi lelaki atas perempuan. Langkah yang ditempuh dengan meraih kesempatan yang seluas-luasnya di semua bidang. Bila hal ini belum tercapai, seruan partisipasi perempuan akan terus diteriakkan tanpa peduli dampak buruk terhadap keluarga dan masyarakat.



Demikian halnya dalam politik, keadilan dan kesetaraan gender akan terus didengungkan bila quota perempuan belum mencapai 50% di parlemen, kabinet dan kepala daerah. Mereka berpikir nasib perempuan hanya bisa difahami dan diperjuangkan oleh perempuan pemegang kebijakan. Padahal faktanya tidak sesederhana itu. Nasib rakyat tidak bisa dibedakan secara mutlak sebagai nasib perempuan dan nasib laki-laki. Keduanya tidak terpisahkan dan saling mempengaruhi dalam dinamika kehidupan. Lagi pula nasib rakyat lebih ditentukan oleh system ideology yang diterapkan dalam mengatur politik, ekonomi, social, budaya dan hukum, pertahanan dan keamanan, bukan oleh banyaknya perempauan atau laki-laki dalam parlemen atau pemerintahan . 



Partisipasi perempuan dalam Islam


Berbeda dengan kapitalis,Islam memahami persoalan perempuan sebagai persoalan manusia yang harus dipecahkan bersama. Namun kebersamaan ini bukan dimaknai dengan prosentase yang sama antara laki-laki dan permpuan dalam parlemen maupun pemerintahan. Melainkan laki-laki dan perempuan saling bekerjasama membangun sebuah masyarakat Islam yang berperadaban agung dan mulia. Tidak akan ditemui susana persaingan laki-laki dengan perempuan karena keduanya berperan atas perintah Allah SWT demi meraih ridlo-Nya. 




Partisipasi perempuan dalam Islam tidak ditempatkan sebagai konco wingking lelaki yang hanya berkutat di seputar sumur, dapur, dan kasur layaknya tempo dulu.. Namun tidak pula seperti kaum feminis yang mengejar kebebasan dan kesetaraan yang tanpa batas melampaui garis fitrahnya.



Partisipasi perempuan dalam Islam sangat terbuka lebar baik di lingkup domestik maupun di ruang publik. Bahkan perempuan diberi peran kunci sebagai manager keluarga dan peran strategis pendidik generasi. Bisa difahami bila nasib suatu bangsa sangat bergantung kepada besar kecilnya partisipasi perempuan. Demikian pula maju dan mundurnya suatu bangsa di masa depan sangat ditentukan oleh kualitas perempuan saat ini.


Peran perempuan sebagai manager keluarga tentu membutuhkan pengetahuan, keahlian dan keterampilan dalam mengelola, merawat, dan menjaga keluarga agar tercipta keluarga yang sakinah, mawwahdah warrohmah. Peran ini harus seiring sejalan dengan kebijakan suami sebagai kepala rumah tangga. Oleh karenanya perempuan sebagai istri adalah mitra suami dalam mewujudkan keluarga yang harmonis dan ideologis.



Peran perempuan sebagai ibu pencetak generasi mengharuskannya piawai dalam mendidik. Ibu memainkan peran penting, sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Ibu akan menanamkan dasar-dasar akidah yang kokoh, membentuk pola pikir dan pola prilaku yang islami sejak dalam kandungan hingga lahir dan dewasa nanti. 



Islam juga mendorong perempuan berpartisipasi aktif mendidik anak-anak ummat. Terlebih kondisi umat saat ini yang terupuruk membutuhkan generasi muda yang berkepribadian Islam, multi talenta, aktif, kreatif dan peduli terhadap masa depan Islam. 




Selain itu, Islam membuka kesempatan luas kepada perempuan berpartisipasi di bidang ekonomi, sosial, budaya, hukum dan politik. Perempuan dapat mengaktualisasikan dirinya dengan ilmu dan keahliannya setelah menjalankan fungsi utamanya; ibu dan manajer keluarga. Partisipasi perempuan di sektor publik bukan karena dipaksa atau terpaksa oleh keadan melainkan atas dorongan iman dan taqwa. 



Penutup


Melihat fakta saat ini tatanan kapitalisme global telah memaksa perempuan terseret dalam arus partisipasi yang menyesatkan. Perempuan telah didorong dan digerakkan terjun ke arena publik untuk mengejar materi dan karir. Sementara fungsi ibu sebagai pendidik dan manager keluarga ditinggalkan. Kalaupun masih bisa dilakukan hanyalah dengan waktu dan energi yang tersisa.       



Ini tidak boleh dibiarkan dan harus segera dihentikan. Perempuan harus memberikan partisipasinya secara penuh dalam rangka menjalankan fungsi utamanya. Adapun partisipasi perempuan di ranah publik bekerja sama dengan laki-laki membangun pilar peradaban Islam.

Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!