Tips Meraih Dukungan Suami Saat Memulai Hijrah

Oleh: Wati Umi Diwanti*


Bersyukur adalah yang terbaik. Terlambat lebih baik dari pada tidak sama sekali. Meski hidayah menyapa dalam usia yang tak muda lagi. Sudah tak sendiri lagi. Kadang masalahnya adalah jika keinginan hinjah hanya sebelah. Hanya kita yang mau. Tak jarang tantangan hijrah adalah pasangan.

"Kamu ngapain pakai pakaian serba panjang dan lebar gitu? Aku gak suka. Kalo mau jalan sama Ayah harus cantik, ga boleh pakaian gituan."

"Ngapain sih ma sering-sering pergi pengajian? Kayak masih single aja. Kasian anak-anak dibawa keluar terus."

"Jadi istri itu yang penting nurut sama laki. Nga usah macem-macem, biasa-biasa aja."


Nah kalo seperti itu gimana?7 Terus gimana dong? Yang harus kita lakukan bukan meratapinya. Apalagi menyerah kalah lalu berbalik arah. Tapi harus dihadapi dan disiasati agar tentangan berubah yang justru di barisan terdepan dalam setiap kebaikan.


Hal pertama dan utama adalah menyadari bahwa setiap orang beriman pasti akan diuji. Sebagaimana Allah Swt telah mengabarkan hal ini dalam firmanNya.


"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (QS. Al-Ankabut: 1-3)


Selanjutnya yang harus kita lakukan adalah memperdalam ilmu agama. Hijrah tak cukup bermodal semangat. Dengan memahami mengkaji Islam lebih dalam. Memahami dalil-dalil perintah dan larangan Allah. Niscaya niat hijrah akan semakin kuat dan terpelihara.


Tak kalah penting mencari komunitas yang sevisi. Dekatilah mereka-mereka yang telah lebih dulu dan berhasil melewati berbagai ujian. Mintalah nasehat dan tips-tips praktis meluluhkan hati suami pada mereka. Tapi ingat, jangan copy paste. Pas untuk suami orang belum tentu untul suami kita. Resapi, tiru dan modifikasi. Sesuaikan dengan karakter suami dan sikon rumah masing-masing. 


Benar dalam memilih pertemanan akan memperkokoh pilihan hijrah. Demikian sebaliknya. Teman yang salah akan membuat lemah. Sebagaimana Rasul menyampaikan bahwa pengaruh teman itu sangatlah besar.


مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)


Pendekatan pada suami adalah hal wajib. Ada baiknya kita evalusi diri lebih dulu. Kiranya apa yang membuat beliau berat menerima perubahan kita. Padahal kita sedang berusaha lebih baik. Jika tak bisa menemukan jawabannya sendiri. Tak salahnya menanyakan langsung pada pasangan. Tentu harus mencari waktu yang tepat dan pilihan bahasa yang nikmat. Agar tidak menimbulkan debat yang akhirnya justru membuat hubungan tersekat.  


Walau bagaimanapun bliau adalah pemimpin kita. Jangan sekali-kali berbicara dengan bahasa menggurui. Jika sudah terdeteksi masalahnya dimana. Perbaiki diri, penuhi yang beliau ingini. Buat beliau mampu menghilangkan segala kekhawatiran. Misalnya, beliau takut kita terseret pengajian sesat. Maka ajaklah bliau sesekali hadir di majelis ilmu yang biasa kita hadiri. Atau pertemukan dengan guru tempat kita menimba ilmu. Yang terpenting adalah tunjukan perubahan baik kita seiring pengajian yang kita ikuti. 


Perlihatkan rumah semakin rapi. Wajah semakin berseri di depan suami. Urusan anak-anak tidak terbengkalai. Bahkan sikap kita pada anak yang semakin sabar akan mampu menarik simpati suami. Jangan lupa sampaikan bahwa kita bisa begitu berkat ilmu yang kita dapat di jalan hijrah.


Perlembut tutur kata, santunkan sikap. Sering-sering tawarkan layanan plus-plus. Menyajikan makanan, menemani ngobrol, memijit dan seterusnya apa yang disukai suami kita. Tahu sendiri kan? Hee


Saat momentnya pas bicaralah dari hati bahwa semua kita lakukan agar bisa bersamanya hingga ke Syurga. Ceritakan hal-hal menyenangkan, sementara simpanlah pengalaman yang kurang menyenangkan. Yakinkan pasangan bahwa jalan inilah yang membuat kita bahagia. Dan akan lebih bahagia jika si dia turut membersamai adinda.


Tidak dipungkiri, itu semua pastinya tidak ringan untuk dilakukan. Karenanya yang harus dilakukan secara bersamaan adalah mendekatkan diri padaNya. Mintalah kekuatan dan kesabaran dengan memperbagus ibadah wajib, memperbanyak amalan sunah. Memanjangkan dzikr, melipat gandakan istigfar dan sholawat. Tentu untuk amal-amal sunah tak boleh membuat kewajiban kita pada suami dan anak terbengkalai. Mintalah izin suami jika ingin puasa sunah. Siapa tahu beliau ada 'hajat'.


Dawamkan bangun di sepertiga malam. Curhatkan semua yang yang kita rasa padaNya. Mintalah apa saja padaNya. Kekuatan, kesabaran, keistiqomahan. Niscaya semua akan diberikanNya. Insya Allah dukungan kekasih hati akan kita dapati. 


*Pengasuh MQ.Khadijah Al-Qubro, Revowriter Kalsel

Post a Comment

0 Comments