Menepati Janti dalam Sistem Demokrasi

Oleh : Sunarti (Anggota Revowriter)



Tahun politik yang sedang berjalan dan akan terus berjalan hingga tahun 2019 mendatang agaknya menjadi tahun yang bersejarah bagi para penikmat sistem demokrasi. Hingar bingar nuansa 'pesta' tersirat di mana-mana, bahkan sampai di pelosok pedesaan. 


Mulai dari pensuasanaan yang sifatnya perlente, hingga lusuh bersama rakyat. Mulai dari pesta pora di atas panggung, di aula hotel mewah hinhga di sawah-sawah.  

Tak jarang yang sampai di lingkungan pesantren dan masjid-masjid yang konon untuk menjalin ukuwah. Bisa dipastikan juga nantinya akan merambah pada pengajian-pengajian, majelis taklim di desa-desa , sebagaimana tahun-tahun menjelang pemilihan-pemilihan (mulai pilpres , pilkada hingga pileg).  


Mulailah babak baru pencarian ajang pencari suara.  


Ibarat orang kampung membuat "bothok"/pepes yang membutuhkan "biting" untuk membungkus masakannya. Sama halnya pada waktu pemilihan presiden, pemilihan kepala daerah, pemilihan aleg dan lain sebagainya, yang membutuhkan suara rakyat untuk satu pemenang. 



Berbagai macam upaya dilakukan untuk mendapat simpati rakyat. Membangun jalan desa, membangun sarana air bersih, memyediakan kebutuhan darurat (ambulance, pemadam) , mengadakan pengajian, membagi makanan, pakaian, kerudung, sarana pertanian (sabit, capil, traktor, mesin perontok padi dll). Mengadakan pesta pora, panggung hiburan, pasar murah, khitan gratis, pengobatan gratis, dan semua yang berbau gratis. Termasuk memberikan bantuan "cuma-cuma" pada sekolah-sekolah, panti asuhan, panti jompo, para wira usaha, pondok pesantren, dan sederet bantuan yang lain. Pada tiap-tiap penyerahannya disertakan slogan-slogan yang mengandung makna "simpati" demi membuat masyarakat percaya. 


Di sisi lain, masyarakat yang sudah berpola pikir dan bermental materialistik menyambut uluran bantuan-bantuan tersebut dengan dalih, "ini yang memang dibutuhkan (materinya) ". 


Bahkan sebagian besar yang tinggalnya jauh dari perkotaan, memahami bahwa "jikalau aku bekerja sehari, tidak akan mendapatkan uang/barang sebanyak ini". Ada juga yang berpendapat "kalau waktunya pilihan-pilihan seperti ini, banyak yang memberi uang/barang-barang, ini kebetulan, anggap saja ininwaktunya panen raya". 


Tak ayal lagi jikalau pada waktu hari H pemilihan masing-masing salon mendapatkan suara sesuai dengan yang diinginkan. Fantastis memang hasilnya, namun mereka lupa bahwasannya slogan maupun suara rakyat sendiri adalah sesuatu yang "hambar".


Kosong tanpa muatan sama sekali untuk satu kebangkitan menuju arah yang lebih baik.  



Disadari atau tidak sikap masyarakat sekarang sudah berfikir pragmatis ditambah dengan kejenuhan dengan berbagai janji-janji yang tidak pernah ditepati. Slogan-sligan yang ada hanya sebagai pemanis baleho atau kampanyenya. 


Sikap para calon inilah yang sesungguhnya membawa masyarakat berfikir dangkal, "sudahlah, yang penting dapat uang/barang".


Masyarakat yang sudah kadung apatis, sudah enggan untuk memikirkan perubahan, akhirnya pesta demokrasi dinikmati saja selama mendapatkan materi. Sudahlah tak perlu berfikir lagi masalah nanti dan nanti, sekarang sedang menikmati hidangan di pestanya. Terlena akan materi yang banyak berjatuhan padanya. 


Di sinilah bagai "membakar jerami kering", seketika jerami menyala dan apinya sangat besar. Namun tidak disadari jikalau jerami ini mudah terbakar, namu juga akan cepat habis dan menjadi abu. Ketika sudah menjadi abu, tidak ada lagi panas di dalamnya. 


Sepeti inilah kondisi masyarakat menjelang pesta demokrasi. Akan cepat tersulut dengan "slogan berbau materi" namun akan padam setelah "bahan bakar materi" habis. 



Demikian pula semangat yang menggelora pada calon pimpinan dan calon anggota legislatif membara dan berkobar sebagaimana api pada jerami yang terbakar. Apinya meliuk-liuk dan panasnya menyeruak hingga kejauhan. Namun kobaran api dan panas ini hanya sebentar, sama halnya kejadian pasca pemilu. Dingin dan menjadi abu, semangat "mlempem" dan tinggal menunggu, menunggu 'pesanan' dari yang culong membatu. 


Menunjukkan betapa dangkal kondisi umat sekarang, mudah terbakar dan mudah padam. Lantas bagaimana bisa dikatakan ini jalan menuju perubahan/kebangkitan ?


Janji Manis Demokrasi


Secara keseluruhan dalam sistem demokrasi menjanjikan manis di depan dan mengundang simpati yang menawan. Tidak disadari oleh khalayak jikalau kenikmatan ini akan membawa kesengsaraan pada hari-hari berikutnya. 


Dalam sekali pemilihan, tak jarang rakyat dapat merauo materi yang melebihi pendapatannya sehari-hari. Pun akan lebih berlimpah tatkala mau menjadi team suksesnya (baca jongos). 


Harta berlimpah bahkan bisa didapat bila seseorang bersungguh-sungguh memperjuangkan calinnya (baca : tuannya). 


Setelah selesai pestanya, maka suara rakyat ditinggalkannya. Sebagaimana slogan dan janji di balehonya, dibuang dan dilupakan. 
Kembali pada komunitasnya di ranah "kotak kekuasaan" . 


Menjalankan tugas dan kewajiban yang dibebankan padanya. Sibuk sana dan sini, rapat di sana dan di sini, kunjungan ke luar dan dalam negeri. Semua dilakukan dengan niatan "amanah" rakyat.  


Namun, disadari atau tidak semua kebijakan ternyata tidak memihak rakyat yang dari semula mendukungnya. Arus yang berjalan membawa orang-orang yang mnjalankan pemerintahan menjadi jauh dari rakyat. 


Semua kebijakan berasa menjadi milik para pengusaha. Pengelolaan sumber daya alam mislanya, bukan digunakan untuk kesejahteraan rakyat, hampir seluruhnya dikelola oleh para pengusaha


Mereka yang duduk sebagai pembuat atau pelegal seolah hanya sebagai robot-robot yang dijalankan dengan mesin-mesin uang. Di mana pada waktu pemilihan mereka daoatkan dari para pengusaha. Tak terasa semua "bantuan tanpa pamrih" mengharuskan dirinya meninggalkan rakyat yang telah mendukungnya. 


Bagaikan masuk dalam satu kotak, mau tidak mau harus mau menuruti segala yang ada di dalam kotak. Pilhannya menentang aturan dalam kotak, berati siap terdepak. Patuh pada aturan dalam kotak, siap jadi kaya, selamat dan jadi nikmat. 


Di pilahan kedua menjadikan ia lupa pada rakyat, maka terjadilah "ingkar janji"dan "tidak amanah". 
Karena aturan yang ada di dalam kotak, sudah tinggal memakai. Kalauoun mau dirubah sesuai keinginan, itu membutuhkan biaya yang sangat besar dan itu hanya dimiliki oleh para oengusaha tadi. Mau tidak mau, ya harus bekerjasama dengannya. 
Untuk mengembalikan modal yang diawal untuk pemilihan dirinya. Dan sebagai balasan atas jasa pengusaha padanya. 


Janjinya menjadi "ngabar" entah ke mana, dan rakyatpun hanya bisa menggerutu dan kecewa. 
Berulang dan berulang kekecewaan mendera, bagai sumber mata air yang tak pernah berhenti mengalir. 



Islam Mengajarkan Amanah dan Menepati Janji


Dalam sistem Islam, diajarkan untuk amanah dan menepati janji. 
Sebagaimana seorang muslim yang taat, para pemangku kebijakan juga akan menjalankan amanahnya sesuai dengan yang Allah perintahkan. 



Kepemimpinan dan kewajibannya akan dipertanggung jawabkan tidak hanya di hadapan rakyat banyak, namun juga di hadpan Allah SWT. 
Sebagai pelaksana tugas-tugas negara, semua kebijakan berdasarkan pada kepentingan rakyat, tidak secara pribadi, individu maupun golongan. 
Kebijakan yang menyangkut kehiduoan orang banyak akan diselesaikan sesuai dengan yang sudah Allah tentukan. 



Misalkan saja sumber daya alam, kebijakannya tentulah kebijakan kesejahteraan rakyat. Yang mana SDA dikelola oleh negara, dan hasilnya disalurkan pada fasilitas umum milik rakyat, sekolah, laboratorium, rumah sakit, fasilitas ibadah dan lain sebagainya. 




Tidak akan didapati lagi pemimpin, mulai dari Khalifah hingga para Wali yang mengumbar janji dan mengingkarinya. 



Rakyat dan Mahkamah Madzalim akan segera memberikan sakwa apabila ditemukan penyelewengan atau ketidak puasan akan kinerja pimpinannya (Khalifah dan Wali). 
Para penguasa menyadari betul amanah yang diembannya, sehingga ketakutan akan pertanggungbjawaban di hadapan Allah SWT akan lebih dia prioritaskan. 


Islam mengajarkan sikap amanah dan menepati janji dalam anjura berakhlak baik kepada seluruh warga negara (termasuk penguasa). Adapun sikap amanah dan menepati janji, tidak semata-mata untuk mendapatkan simpati umat, akan tetapi lebih kepada dorongan ketaatan kepada Allah SWT. Jikalau orang lain atau rakyat simpati, itu efek sampibg saja, yang utama adalah oerbuatannya mendapatkan ridhlo Allah semata. 
​Allah Subhanahu wa Ta’aalaa berfirman yang artinya :


“ Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad (janji-janji) itu ”(Al-Maidah: 1)


Dalam ayat lain, Allah juga berfirman yg artinya :


“ Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji.” (An-Nahl: 91)


Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yg artinya ::


“ Ciri-ciri orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia tidak menepati, dan apabila diberi amanah ia berkhianat .” (HR Al-Bukhari dan Muslim). 


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabdayg artinya :


“ Ciri-ciri orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia tidak menepati, dan apabila diberi amanah ia berkhianat .” (HR Al-Bukhari dan Muslim)


“Ada empat (perkara) jika terdapat pada diri seseorang, dia adalah orang munafik murni. Dan barangsiapa yang melakukan salah satu perkara itu, maka padanya terdapat bagian dari sifat munafik, hingga ia meninggalkannya. Empat perkara itu adalah apabila berbicara ia dusta, apabila berjanji ia ingkar, dan apabila diberi amanat (dipercaya) ia berkhianat, dan apabila bermusuhan dia aniaya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasai)


Waallahu alam bisawab. 

Post a Comment

0 Comments