Tuesday, March 13, 2018

Lonceng Kematian Dunia Anak


                                                             Oleh : Kholda Naajiyah

                         Jangankan di medan perang, di bumi damai pun nyawa anak terancam.


Aroma kematian menyeruak di bumi Ghouta Timur, pinggiran Damaskus, Suriah. Bom, kekurangan obat dan kelaparan, siap mencabut nyawa setiap saat, termasuk anak-anak. Aktivis di Ghouta Media Center, Ghouta Timur, seperti dilansir CNN melaporkan, situasi sangat mencekam. Bayi kembar prematur lahir dalam kepanikan. Tangis kelahiran Mohammad dan Ammar, tenggelam di tengah raungan pesawat yang menderu di angkasa, diikuti ledakan susul menyusul.
.
.
Ayah mereka, Nabil Al Askhar menyebut, kedua bayi harus diinkubator. Fasilitas ini harus bersembunyi lantaran banyak rumah sakit menjadi sasaran serangan. Perkembangan kedua bayi pun melambat sejak dipindahkan dari inkubator, bergantian dengan bayi-bayi lainnya. "Kami hanya memiliki delapan inkubator, dan satu ruang perawatan intensif. Kadang-kadang kami menaruh anak-anak di kursi," kata seorang perawat, Reem Abu Ahmad, seperti dilaporkan CNN, Kamis (22/2).
.
.
Sementara itu, seorang ibu, Maya, menyaksikan dua anak-anaknya cacat karena kelaparan. Harga makanan pokok, seperti roti, bahkan kebutuhan paling mendasar, tidak terjangkau. Dengan sedih, Maya berharap, jika toh kematian datang, semoga perut anaknya dalam kondisi kenyang (CNNIndonesia).
.
.
DERITA PAPUA
.
.
Lonceng kematian yang sama juga menunggu anak-anak di Papua. Jika anak-anak di Suriah sudah lama hidup dalam penderitaan sejak perang berkecamuk, anak-anak suku Asmat dilanda malnutrisi hebat. Krsisi gizi dan campak. Demikian ulasan media Inggris, BBC, berjudul “Anak-anak Provinsi Papua Indonesia Kelaparan di Tanah Emas”.
.
.
Dilaporkan, setidaknya 72 orang, kebanyakan anak-anak tewas. Padahal Papua adalah tambang emas terbesar di dunia. Salah satu anak yang terancam mati adalah Yulita Atap. BBC menyebut, bayi berumur dua bulan ini mengalami nasib “sangat brutal”. Ibunya meninggal saat melahirkan.
.
.
Dalam kesedihan, ayahnya ingin memukul, mengubur dengan ibunya. Beruntung dicegah sang paman, Ruben Atap. ”Saya bilang, jangan lakukan itu, Tuhan akan marah, dia menjadi tenang dan bersyukur karena kami ingin menjaganya, tapi sekarang kami berjuang untuk membuatnya tetap hidup.”
.
.
DUNIA BISU
.
.
Kita sungguh menyesalkan kasus-kasus kelaparan dan kesehatan yang melanda anak-anak itu. Mengapa di zaman modern seperti ini, masih ada anak-anak tak berdosa yang kelaparan? Bukankah aneka rekayasa di bidang pangan sudah sangat canggih? Seharusnya tidak ada alasan ada anak lapar.
.
.
Lantas, ada apa dengan orang dewasa? Mengapa mereka tak sanggup memenuhi hak anak-anaknya? Tidakkah mereka buta dan tuli atas semua tragedi ini? Hm, barangkali mereka bergerak, tapi sangat kecil artinya. Buktinya, meski punya lembaga yang mengurusi pangan, FAO, tapi, tidak mampu menanggulangi dan bahkan mencegah kasus kelaparan dan malnutrisi.
.
.
Kenapa? Karena perang terus diciptakan. Dan, PBB-lah yang menyetujui perang itu sendiri. Sejak PBB ada, jumlah perang pasca Perang Dunia usai, bukannya berhenti malah naik. Perang Afghanistan, Perang Irak-Iran, Invasi Iraq, pencaplokan wilayah Palestina, juga perang di Suriah. Rupanya, perang ini sengaja didesain untuk genocida.
.
.
Lihatlah, akibat perang, anak-anak mati kelaparan. Tak heran jika keberadaan PBB justru menimbulkan instabilitas dunia. PBB hanya menjadi stempel kebijakan-kebijakan tidak manusiawi oleh lembaga-lembaga lain bentukannya. Hanya menguntungkan negara-negara tertentu saja. Anak-anak pun menjadi korban tak terkira.
.
.
KEJAMNYA KAPITALIS
.
.
Selain perang, penjajahan kapitalisme juga biang kerok kelaparan. Kapitalisme sebagai sebuah ideologi, bertanggungjawab atas derita kelaparan anak-anak secara global. Di Papua, kerakusan PT Freeport mengeruk kekayaan, sangat kontras dengan derita balita Yulita Atap yang di ambang kematian di tanah emas.
.
.
Kapitalisme ini pula biang kerok buruknya pengelolaan dunia dengan sistem ekonomi global bak lintah darat. Hingga, masalah malnutrisi atau gangguan kesehatan lainnya, melanda anak-anak secara global. Kenapa? Sumber daya alam hanya bisa diakses kalangan-kalangan pemilik modal. Tidak merata. Akibatnya, antara belahan dunia yang satu dengan belahan bumi lainnya tidak seimbang.
.
.
Di medan perang, anak-anak putus harapan menjemput ajal dengan perut lapar. Sementara di belahan bumi lainnya, anak-anak obesitas karena dimanjakan jajanan yang sekadar numpang lezat di lidah. Sehingga, terkadang hal itupun mengancam nyawanya. Sebagai contoh, kematian anak kecil karena diabetes saat ini cenderung meningkat.
.
.
Di medan perang, anak-anak kelaparan luar biasa, sementara di negara-negara sekuler, anak-anak dan bahkan orang dewasa menghambur-hamburkan uang demi makanan. Ketika makanan didapat, mereka menyia-nyiakannya. Membuang apa yang mereka tidak suka. Tidak memiliki penghargaan yang baik terhadap makanan. Kurang bersyukur.
.
.
Demikianlah buruknya ideologi kapitalisme yang bercita-cita menjajah seluruh dunia. Untuk memuluskan rencana jahatnya, ideologi ini menghalalkan segala cara. Termasuk, menciptakan perang demi perang dalam rangka melakukan depopulasi alias pengendalian populasi penduduk. Perang dipilih sebagai alat genocida. Membasmi manusia baik dengan bom maupun kelaparan.
.
.
ISLAM MENYELAMATKAN
.
.
Islam mengenal khazanah perang dalam syraiahnya. Pasalnya, perang memang akan selalu ada sepanjang zaman. Namun, perang ini bukan untuk menjajah. Bukan pula untuk membasmi manusia atau genocida. Perang ditegakkan fisabilillah, jihad untuk Islam. Membebaskan umat manusia dari kekejaman kapitalisme. Jihad fisabilillah haram menciptakan kesengsaraan pada umatnya. Tidak boleh anak-anak ditelantarkan dan dibiarkan dalam kondisi lapar.
.
.
Maka, tanpa penjajahan, niscaya tidak ada kelaparan. Baik penjajahan secara fisik, maupun penjajahan ekonomi dan bidang lainnya. Tanpa kerakusan, nicaya sumber daya alam cukup untuk seluruh umat manusia. Sebab, Allah SWT menciptakan alam beserta isinya ini pasti cukup dimanfaatkan manusia hingga akhir zaman.
.
.
Jadi, Islam datang demi menyelamatkan umat manusia. Sebab, Islam mengajarkan cara pengelolaan dunia global dengan aturan terbaiknya. Sehingga, dengan itu, mampu mengatasi segala persoalan, termasuk kelaparan. Negara wajib menyediakan bahan makanan yang murah, mudah dan bergizi.(*)
#saveGhouta
#mediaumat
#kelaparan

Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!