Ketika Cinta Harus Memilih

Oleh: Dwi Rahayuningsih, S.Si (Praktisi Pendidikan dan aktivis revowriter)



Semua orang pernah merasakan jatuh cinta. Rasa ini biasanya muncul saat ada pemicu, misal sering berinterkasi baik via online ataupun tatap muka. Tidak bisa dipungkiri, rasanya begitu manis awalnya. Semuanya terlihat indah di mata. Bahkan cinta ini juga mampu menjungkirbalikkan dunia pengidapnya. Ups, emangnya penyakit?


Ya, anggap saja rasa cinta ini sebagai virus yang mudah menginveksi hati manusia. Caranya melalui kontak langsung dengan penyebabnya. Jika daya tahan imannya tidak kuat maka virus merah jambu ini akan mudah masuk ke dalam hati terdalam dan mengakibatkan fall in love. Apakah ini normal? 


Tentu saja normal. Setiap manusia pernah terinveksi virus ini baik muda ataupun tua. Tidak pandang bulu, apakah masih single atau sudah double bahkan triple. Hal ini terbukti dengan makin banyaknya remaja yang terjerumus pada kehancuran gegara tidak mampu mengendalikan rasa ini. Begitu pula dengan yang tua. Meningkatnya kasus perceraian disinyalir karena adanya wanita idaman lain atau sebaliknya.



So, apa yang harus kita lakukan ketika cinta itu hadir? Cukup rasakan dan arahkan. Cinta adalah anugerah dari yang Maha Kuasa. Adanya dalam setiap diri manusia merupakan fitrah. Karena manusia telah diberikan potensi naluri nau’ oleh Allah. Naluri inilah yang Nampak dalam kehidupan sebagai manifestasi rasa suka terhadap lawan jenis, salah satunya. 
Karena sifatnya yang fitrah, maka naluri ini tidak dapat dihilangkan dari dalam diri manusia. Ia hanya bisa dikendalikan dan diarahkan supaya tidak menjerumuskan. Meskipun bersifat fitrah jika dibiarkan melakukan nalurinya dengan pemenuhan yang salah, maka hal ini akan membawa kehancuran. Disinilah dibutuhkan adanya keimanan untuk membimbing manusia ke jalan yang benar. 


Sebagai muslim sejati, menjadikan perasaan sebagai penuntun hidupnya tidaklah benar. Karena perasan mudah berubah dan mudah terpengaruh, tergantung dari pemicunya. Semakin sering interaksi terjadi, maka semakin dalam perasaan cinta menancap dalam hati. Jika demikian akan lebih susah untuk dikendalikan. Saat inilah cinta harus memilih. Memilih untuk taat atau memilih untuk maksiat.



Pilihan inilah yang akan menghantarkan pelakunya menuju dua jalan, fujur atau taqwa. Allah telah memberikan dua jalan untuk dipilih. Karena Allah juga telah menyediakan dua tempat untuk kembali, surga dan neraka. 


فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا



"maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya." (Q.S. Asy-syams: 8)



Tidak ada sedikitpun amal perbuatan yang lepas dari pembalasan Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an Surat Al-Zalzalah ayat 7-8:



فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ


"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."


وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ



"Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula."



Sebagai manusia yang beriman, keselamatan dunia dan akherat adalah cita-citanya. Dunia hanya sebagai persinggahan sementara. Jangan sampai kesenangan dunia mempersulit jalan menuju surga. Jika cinta itu datang, sementara diri belum mampu untuk menghalalkan melalui pernikahan maka jalan satu-satunya adalah dengan menutup rapat-rapat segala jalan yang bisa menjadi akses rasa itu menyusup ke hati. Perkuat keimanan sebagai banteng pertahanan dari virus merah jambu ini. Agar masa muda yang hanya sekali tidak ternodai oleh aktivitas sia-sia yang melenakan dan penuh dosa. 



Salah satu cara untuk menahan diri dari dosa maksiat pacaran adalah dengan melakukan aktivitas positif. Misalnya dengan mengikuti kajian Islam agar keimanan makin kuat, aktif dalam club belajar, dan kegiatan posistif lainnya. Kurangi pula interaksi dengan lawan jenis diluar aktivitas yang diperbolehkan oleh syara’. Ketika cinta harus memilih, pilihlah jalan menuju taqwa. Jangan biarkan hawa nafsu mengendalikan diri dan menjerumuskan pada jurang terdalam, maksiat.
      

Post a Comment

0 Comments