Karakteristik Pemimpin dalam Islam


Oleh: Rita Handayani S.S [ ibu rumah tangga] 



27 juni 2018 mendatang Pilkada serentak akan di selenggarakan Indonesia.
Lampung termasuk daerah yang ikut meramaikan pesta demokrasi tersebut.

Salah seorang calon gubernur tiba - tiba tersangkut kasus suap menyuap dengan anggota DPRD Lampung. Terhitung tanggal 16 Pebruari mulai bermalam di kantor KPK selama 20 hari. Namun begitu partai pengusungnya tetap bertahan untuk mengajukan calon tersebut. 

Ironis, sudah ketahuan berkasus kok masih di ajukan. Bagaimana kepemimpinan kedepannya bila sedari awal sudah bermasalah.

 Demokrasi adalah sistem yang prinsip dasarnya dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat, demokrasi ada untuk mengurusi rakyatnya. Tapi pada kenyataannya tidaklah demikian.
 Pilkada yang dilakukan setiap 5 tahun untuk membuat Indonesia lebih baik dan sejahtera, pada kenyataannya hanya ilusi. Saat ini para pemimpin Indonesia baik daerah maupun pusat hampir semuanya terlibat kasus suap menyuap, korupsi, skandal seks, pemalsuan ijazah pendidikan, dst.  

Slogan yang diusung semua partai pada kampanyenya selalu bertujuan untuk Indonesia lebih baik, maju dan sejahtera. Namun dengan standar yang tidak jelas. Sehingga gagal mencapai sejahtera.

Begitupun dalam menentukan bakal calon pemimpin, partai-partai yang ada tampak gagap dalam memilih calon yang akan diusung, karena standar yang digunakan dalam pemilihan calon adalah yang memiliki modal atau dukungan modal yang kuat. 
 
Sehingga wajar, ketika nanti memimpin, maka kebijakan yang diambil bukanlah untuk mensejahterakan rakyat, tapi untuk kesejahteraan para pemilik modal yang telah mendukungnya. 

Islam sebagai agama yang benar dan sempurna telah menetapkan standar yang baku dalam memilih seorang pemimpin. Secara spesifik pemimpin negara dalam Islam haruslah muslim,laki- laki, baligh, berakal,adil, merdeka dan mampu.
Inilah tujuh kriteria yang telah di tetapkan oleh dalil syara' sebagai kriteria yang wajib di miliki seorang pemimpin. Jika salah satu dari ketujuh ini tidak ada, maka kepemimpinan nya di nyatakan tidak sah.

Ketika kekuasaan dan pemerintahan didedikasikan untuk mengurusi urusan rakyatnya, maka seorang penguasa akan mencintai rakyatnya dengan sepenuh hati. Dia akan blusukan, bukan untuk menarik simpati, atau membangun opini. Tetapi untuk melayani dan memberi solusi bagi permasalahan rakyatnya karena cintanya kepada mereka.

Itulah tipe pemimpin yang di gambarkan dalam hadits nabi.

" Pemimpin kalian yang terbaik adalah yang mencintai kalian dan kalianpun mencintainya.Mereka mendoakan dan kalian pun mendoakan nya. 

Sebaliknya pemimpin yang paling buruk, Beliau jelaskan
"Pemimpin kalian yang terburuk adalah pemimpin yang membenci kalian.Mereka melaknat kalian,dan kalian pun melaknat mereka".

Wallahu alam.

Post a Comment

0 Comments