Kala Citra Pembalut Wanita “Ternoda”

Oleh : Ammylia Rostikasari, S.S. (Akademi Menulis Kreatif dan Aktif Membina SDM Muslimah)



Bea Cukai Soekarno-Hatta bekerja sama dengan jajaran Polresta Bandara Soekarno-Hatta, menggagalkan penyelundupan methamphetamine atau sabu seberat 666 gram yang disembunyikan di dalam pembalut wanita.  



Kepala Kantor Bea Cukai Soekarno-Hatta Erwin Situmorang menjelaskan kronologi penindakan yang bermula dari analisis petugas atas data manifes penumpang pesawat KLM Royal Dutch KL 809 rute Kuala Lumpur-Jakarta, 4 Maret 2018.



Dari hasil analisis tersebut, petugas mengamankan dua penumpang wanita warga Indonesia berinisial RC (40) dan NO (20) yang mengaku sebagai ibu dan anak. Mereka diperiksa secara mendalam. Hasilnya didapati serbuk putih yang diduga methamphetamine di dalam pembalut yang mereka kenakan, dengan berat masing-masing 310 gram dan 356 gram (wartakota.tribunnews.com/Rabu, 28 Maret 2018).



Miris hidup di zaman kapitalis! kini pembalut wanita seolah tampak lekat dengan narkoba. Sebelumnya sempat heboh pemuda Karawang yang mabuk-mabukan karena menenggak air rebusan pembalut wanita. Kini giliran pembalut wanita digunakan untuk media penyelundupan Narkoba. Perlengkapan kewanitaan yang biasanya digunakan setiap kali datang bulan atau habis melahirkan ternyata pada zaman now dapat dialihfungsikan. Pembalut wanita jadi bulan-bulanan. Citranya “ternoda”.


Perpektif Islam


Islam merupakan agama dan pandangan hidup (way of life) yang sempurna. Islam memiliki kaidah syara mengenai benda juga perbuatan manusia. Untuk kaidah benda yaitu Al aslu fii asya ibahah malam yaridh dalil tahrim yang artinya setiap benda itu hukum asalnya mubah (boleh) kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Sementara kaidah perbuatan manusia adalah al aslu fil af’al taqoyudh bi ahkami syar’i artinya setiap perbuatan manusia terikat dengan hukum syara.



Berbicara mengenai pembalut wanita dan Narkoba, maka ini dihukumi berdasarkan kaidah syara tentang hukum benda. Pembalut wanita yang lazimnya digunakan untuk menampung darah haid atau nifas tidaklah ditemukan dalil pengharamannya. Selama di dalamnya tidak mengandung unsur yang diharamkan seperti lemak babi atau khamar . Serta pemanfaatannya sesuai dengan fungsi terciptanya benda tersebut (ini terkait kaidah perbuatan).



Lain pembalut wanita, lain juga Narkoba. Para ulama meng-qiyas-kan hukum mukhaddirat Narkoba pada hukum khamar. Mereka berdalil dengan hadis yang dikemukakan Umar bin Khattab RA, "Khamar adalah segala sesuatu yang menutup akal." (HR Bukhari Muslim). Jadi, narkotika masuk dalam cakupan definisi khamar seperti yang disebutkan Umar bin Khattab RA.



Imam Abu Daud meriwayatkan dari Ummu Salamah mengatakan, "Rasulullah SAW melarang segala sesuatu yang memabukkan dan melemahkan (menjadikan lemah)" (HR Abu Daud).


Adapun mengapa kini narkoba dan pembalut wanita disalahgunakan masyarakat. Baik pembalut wanita yang digunakan untuk mabuk-mabukan atau digunakan untuk menyelundupkan narkoba. Hal demikian karena ajaran aturan Islam dipisahkan dari kehidupan. Sehingga manusia abai dengan kaidah benda dan perbuatan dalam kehidupannya. Narkoba merajalela karena tingginya supply and demand yang menjadi ruh ekonomi kapitalisme. Tak hirau akan membuat generasi tergeru, yang bisa untuk segunung. Begitu pun dengan kaidah perbuatan, manusia kini dipejara dengan paham kebebasan. Tak acuh dengan keterikatan hukum syara. Padahal sejatinya kehidupan dunia ini adalah penjara bagi Mukmin dan surga bagi orang kafir seperti yang disabdakan Rasulullah SAW. 


Sekularisme telah mencengkeram tata kelola kehidupan. Sehingga masyarakat berpikir dan bertindak di luar nalar keislaman yang disyariatkan. Ide ini pun telah menjerumuskan RC (40) dan NO (20) dalam jurang kenistaan. Yang semestinya pembalut digunakan saat datang bulan, ternyata mereka kenakan untuk menyelundupkan serbuk terlarang. Pun seharusnya relasi ibu dan anak dijalin agar kompak dalam ketaatan. Yang ada malah saling sokong dalam kemaksiatan.


Sekularisme dengan derivasi kebebasan, telah mengubah yang tabu menjadi hal lumrah di masyarakat. Halal dijadikan haram. Haram dipaksakan menjadi halal karena asas kemanfaatan.


Sudah saatnya masyarakat mencampakkan sekularisme yang menjadi asas pandangan kapitalisme. Biang kerok dari segala kekacauan yang terjadi di negeri ini. Gantikan dengan Islam! Penerapan Islam yang kaffah dalam institusi Daulah Khilafah Islamiyah seperti metode kenabian. Insyaallah, hidup berkah di bawah penerapan syariah. Wallahu’alam bishowab

Post a Comment

0 Comments