Saturday, March 24, 2018

Jangan Abaikan Doa


Oleh: Wati Umi Diwanti*


Suatu hari kami memberikan suatu barang pada seorang teman. Dia terlihat sangat memerlukan. Bahagia rasanya bisa berbagi. Hingga suatu hari kami melihat barang itu terlihat sangat lusuh, tidak terawat. Kecewa. Suatu hari jika ingin kembali berbagi, enggan rasanya memberikan padanya lagi.



Dulu saat saya masih kecil ibu pernah memberi seseorang pakaian laik pakai. Saat kami berjunjung ke rumahnya, betapa kagetnya karena pakaian tersebut bukan dipakai malah jadi lap lantai. Mulai saat itu ibu saya lebih memilih mencari orang lain yang bisa memanfaatkan.



Apalagi jika awalnya orang itu yang meminta. Setelah diberi malah disia-sia. Wajar jika kita berpikir ulang memenuhi permintaannya jika dilain waktu ia meminta lagi. Jikapun masih ada kesempatan, pastinya tidak segampang dulu lagi. Bisa jadi bersyarat. 



Bagaimana dengan pemberian Allah Swt pada kita. Jawaban atas pinta kita dalam doa. Sudahkah kita terima dengan suka cita. Disyukuri dan diperlakukan seperti kehendakNya. Lalu Allah akan menambahnya dengan pemberian dan pengabulan pinta kita yang lainnya. Atau justru kita siakan dan Allah pun enggan mengabulkan di waktu kemudian.



“Ya Allah sukseskan usaha saya, hingga berkecukupan agar bisa lebih leluasa dalam beramal ibadah.” Setelah sukses. “Maaf banyak pesanan, karyawan harus diperhatikan, susah cari yang bisa menggantikan.” Akhirnya ibadah banyak yang tertinggal.



“Ya Allah beri hamba jodoh agar sempurna separuh agama ini.” Setelah menikah. “Maaf suami dan rumah harus diurus, ga punya waktu lagi.” Suami justru jadi alasan tak lagi hadir di majelis ilmu.



“Ya Allah beri kami keturunan, agar bisa menambah barisan pejuang agamaMu.” Sudah diberi kerepotan sendiri. "Maaf si kecil sangat aktif, saya mundur dulu dari dakwah, fokus anak-anak dulu." Anak justru jadi kambing hitam tak lagi aktif dalam kegiatan utama para pejuang Islam, dakwah.


Ibarat lagu "kau yang meminta kau yang menyiakan”. Maka “sungguh ter-la-lu". 


Jika suatu hari doa kita tak kunjung terbalaskan, bisa jadi karena kita terlalu sering menyiakan doa dan pemberianNya selama ini.



Ada satu doa istimewa yang sering kita panjatkan. Namun kadang kita tidak menyadarinya. Dan bisa jadi selama ini kita menyiakan proses pengabulan doa ini. Padahal jika doa ini dikabulkan, kitalah orang paling beruntung sedunia dan seakhirat.



اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ



“(Ya Allah). Tunjukilah kami jalan yang lurus (shiratal mustaqim), yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat “ (Al Fatihah:6-7).



Kita minta jalan yang lurus. Lalu satu per satu Allah berikan petunjukNya. Diantaranya sampainya syariat menuntut ilmu dan menutup aurat pada kita.



"Maaf saya sibuk sekali, nanti saja jika ada waktu.” “Saya masih kerja, susah berpakaian seperti itu.” Dan banyak alasan lain. Satu petunjuk sudah kita nafikan. 



Kita minta dihindarkan dari jalan orang yang dimurkai. Maka dengan berbagai caraNya yang idah pula sampai pada kita bahwa riba dan mendekati zina itu haram. Harus ditinggalkan.



“Hari gini kalau kita mau bebas riba, pasti tidak akan punya apa-apa.” “Kalau tidak pacaran, mana bisa dapat pasangan.” Lagi-lagi kita abaikan doa yang telah dikabulkan.



Meminta agar dijauhkan dari kesesatan. Maka dengan penuh rahmat Ia sampaikan pula pada kita ayat tentang seruanNya untuk masuk ke dalam Islam dengan sempurna (kaffah), dan bahwa jika tidak sempurna maka itu adalah jalan sesat, jalan setan. 



يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ


“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208)



Bahwa realisasi dari Islam kaffah adalah penerapan Islam dalam seluruh aturan kehidupan. Tak hanya masalah ibadah tetapi juga muamalah. Baik dalam sistem sosial, sistem peradilan, sistem ekonomi, sistem pendidikan, juga sistem politik.  



Apakah kita mau mengambil petunjuk ini lalu berusaha mempelajari dan mengamalkan. Juga memperjuangkan penerapannya. Atau kita menganggapnya sekedar pengetahuan. Atau malah menganggapnya sebuah kesalahan. Karena negeri ini bervarian suku, agama dan budayanya. Lalu tak ada tempat untuk Islam mengatur kehidupan. 



Padahal sadarkah kita bahwa itulah jawaban atas doa yang minimal kita pinta 17 kali sehari. Islam itu rahmatan lilalamin. Bukan sekedar rahmatan lil muslimin. Dan RahmatNya hanya akan nyata jika penerapannya secara total. Tidak dijadikan agama prasmanan.



Berhati-hatilah. Jika petunjuk itu kita sia-siakan. Allah akan menutup semua pintu doa untuk kita. Mencoret nama kita dari daftar nama hamba yang layak diberi dan dikasihi. Diakhiratpun kita menjadi hamba yang dilupakan. 



وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةًۭ ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ (124) قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِىٓ أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا (125) قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ ءَايَٰتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ ٱلْيَوْمَ تُنسَىٰ (126)ء وَكَذٰلِكَ نَجْزِيْ مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِاٰيٰتِ رَبِّهٖۗ وَلَعَذَابُ الْاٰخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقٰى (127)



"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: "Ya Robbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?". Allah berfirman: 

"Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan. Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Sungguh, azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal." (QS.Thaha:124-127)


Saatnya menyonsong doa dengan bersegera menerima setiap ilmu dan mengamalkannya. Sekuat tenaga, insya Allah tak hanya kebaikan dunia, Syurga pun menanti kita. []

*Pengasuh MQ. Khodijah Al-Qubro, Revowriter Kalsel (Martapura)

Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!