Hidup Tanpa Aturan


Oleh : Lia Friyanti (Member AMK)


Hari sabtu adalah waktu untuk bertemu dengan ke lima sahabatku.
Kami harus meluangkan waktu.
minimal seminggu sekali bertemu.
saling curhat, saling bertukar pikiran seperti tentang kondisi kids zaman sekarang.

Alhamdulillah..
Ke lima sahabatku, mereka berada dilingkungan pesantren yang sudah dikondisikan.
Pakaian tertutup rapi sempurna
Tidak ada interaksi laki-laki dan perempuan.

Mata dijaga dari pandangan yang diharamkan.
Selalu berkata santun nan sopan.
Tak henti melantunkan ayat suci alquran.
Bahasa arabpun sudah menjadi bahasa keseharian.

Jika ada yang melanggar aturan.
Sanksi pun harus diberikan.
Diberi pemahaman agar kesalahan tak lagi terulang.

Tapi...
Berbeda dengan kondisi kids di seberang.
Banyak kids berpacaran.
Berpakaian serba minim seperti kurang bahan.

Sudah terbisa melihat kids bergandengan tangan.
Berpelukan, bahkan ada yang benci*man.

Astagfirullah...
Urat malu seperti sudah hilang.
Katanya yang penting kekinian dan gak ketinggalan zaman.

Sinetron pun gak mau ketinggalan.
Sepasang anak muda-mudi dijadikan peran.
Mempertontonkan kemewahan,
pergaulan bebas dan tawuran.

Merasa ada tontonan, kids pun mempraktekkan.
Mencoba-coba dan ingin menuntaskan rasa penasaran.

Sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan.
Menjadikan kondisi kids seperti sekarang.
Tidak ada aturan, semua bebas mengatasnamakan  HAM.

Jika diibaratkan...
Handphone benda mati saja punya aturan.
Jika salah menggunakan.
Dipastikan akan rusak tak bisa digunakan.

Begitupun manusia.
Allah ciptakan dengan seperangkat aturan.
Agar tak salah mencari jalan.
Kebaikan ia sendiri yang akan rasakan.

Sayang seribu sayang.
Saat ini Alquran belum bisa dijadikan aturan dalam pemerintahan.
Butuh perjuangan untuk terus menyampaikan, serta memahamkan bahwa tidak ada aturan yang lebih baik bagi seluruh insan.
Kecuali aturan dalam Islam.

Jangan khawatir...
Kebaikan tidak hanya dirasakan oleh yang beragama islam.
Tapi untuk manusia seluruh alam.




Post a Comment

0 Comments