Tuesday, March 13, 2018

Ghoutaku Malang


Oleh: Febri Ayu Irawati
(Siswa SMA Negeri 1 Uepai)


Dunia seakan tak pernah lepas dari peristiwa-peristiwa yang begitu memilukan hati. Penyerangan, pembantaian dan sejenisnya yang tidak manusiawi tak jarang menimpa dunia Islam khususnya, baik mereka sebagai kaum mayoritas, begitu juga sebagai kaum minoritas. Entah kapan ini akan berakhir?

Sebagaimana pada awal pekan ini, lebih dari 335 telah terbunuh di daerah kantong kelompok oposisi suriah. Sebanyak 13 warga sipil tewas dalam serangan tersebut, kamis, 22 Februari 2018. Lima hari serangan udara dan tembakan artileri yang intens oleh rezim tersebut dan sekutunya Rusia, telah membunuh 403 warga sipil, termaksud 95 anak-anak, kata observatorium suriah untuk Hak Asasi Manusia dan sebuah pernyataan yang di lansir AFP. (sindonews.com, 23/2/2018). 

Selain itu, Kata Mohammad, dokter ankologi terakhir di Ghouta Timur, “Saya punya 1.288 pasien, 37 diantaranya meninggal dunia karena kekurangan obat-obatan. Seluruh pasien saya dalam bahaya.”(cnnindonesia.com).
Beginilah keadaan saudara kita di Ghouta Timur, yang dulunya merupakan kawasan dengan sumber pangan di Damaskus, namun kini telah dikepung selama bertahun-tahun oleh pemerintah Assad dan menjadi subjek serangan kimia yang menghancurkan hingga mematikan.

Hingga saat ini, pembantaian Muslim Ghouta belum mendapat respon dari pemerintah. Di jenawa, pendanaan anak PBB mengisukan “pernyataan” kosong untuk mengekspresikan kemarahan mereka atas banyaknya korban anak-anak di suriah. Mengatakan bahwa mereka kehabisan kata-kata.

Pemerintah juga seakan tidak peduli dengan pembantaian muslim di Ghouta. Di saat umat muslim di seluruh dunia sedang merasa sedih dan berduka dengan kejadian tersebut. Penguasa malah nampak lebih peduli dengan film “Percintaan Remaja”, lebih mementingkan bapernya ke sebuah film “percintaan” di bandingkan Baper pada keadaan muslim Ghouta. Penguasa Muslim dunia pun tampak tak peduli dengan muslim Ghouta. Tentu ini merupakan gambaran lemahnya kepedulian para pemeganga kekuasaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Disamping itu penguasa Muslim juga minim dalam memberi contoh sikap “peduli” dan rasa persaudaraan atas pembantaian yang terjadi di Ghouta. Bukan tak perlu bantuan semisal makanan, obat-obatan. Tapi lebih dari itu mereka membutuhkan bantuan dalam rangka terbebas dari pihak “penjajah” yang telah merampas hak-hak mereka. Lalu dimanakah mereka yang selalu berkoar-koar tentang hak asasi manusia (HAM)?. Dimanakah mereka yang selalu menyerukan perdamaian dunia?
Masalah Ghouta adalah masalah yang sangat besar. Sebab kian hari korban makin bertambah. Tak hanya orang dewasa saja sasaranya, tetapi perempuan dan anak-anak pun tak luput dari peristiwa berdarah tersebut. Angkat bicara dan bantuan kemanusian saja tak bisa menyelesaikan masalah ini dengan tuntas. Tetapi harus ada aksi nyata dari seluruh umat di dunia dengan menghapuskan sistem imperialisme.

Dengan demikian, untuk menyelesaikan semua masalah tersebut tentu hanya dengan melakukan perlawanan demi mengembalikan hak-hak mereka. Tentu di bawah sistem dari Zat yang Maha baik yang dapat mengatur dan melindungi semua umat di seluruh dunia. Untuk itu perlu ada kesadaran bagi setiap umat muslim yang mengaku beriman untuk wajib dan bersungguh-sunggu dalam upaya menerapkan kembali aturan yang bersumber dari-Nya sehingga dapat tercapai rahmatan lil a’alamin. Wallah a’lam bi ash-shawab.

Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!