Generasi Masa Kini Kian Sensi


Oleh : Annisa Afriliani Hana


SADIS! Video viral 2 gadis remaja mengeroyok seorang siswi SMP di Tangerang bikin miris. Di sebuah rumah kosong, seorang gadis berkerudung dipukuli, ditendang sambil dicaci maki. "Sakit kan? Sakitan mana sama gue, cowo gue direbut!" kata seorang pelaku sambil menendang kepala korban.

Tidak sampai 24 jam, pelaku berhasil diamankan oleh pihak kepolisian. 
Hanya karena urusan cinta, seseorang berubah beringas. Tak punya hati, yang ada hanyalah benci. Sungguh pergulatan konyol, memperebutkan cinta sesaat ala remaja puber.
Generasi masa kini rupanya kian sensi. Mudah tersulut emosi pada hal-hal yang remeh temeh belaka. Lalu berani membully, menyiksa, bahkan menghabisi nyawa. Inilah wajah generasi di sistem yang tak menjadikan agama sebagai pondasi.
Di rumah tak dibekali pendidikan akidah karena orangtua minim ilmunya, ada juga yang terlalu sibuk bekerja di luar sehingga anak-anak menjadi dewasa tanpa dibersamai orangtuanya. Kasih sayang tak terhantar sempurna ke dalam jiwa anak. Akhirnya banyak anak yang menjadi yatim piatu padahal kedua orangtuanya masih ada. Mereka bertumbuh dalam didikan lingkungan yang tanpa filter sama sekali. Aneka pemikiran dan pemahaman rusak meresap ke dalam jiwanya. Wajar, jika banyak terlahir generasi rapuh yang mudah galau hanya karena perkara cinta.
Pun di sekolah. Kurikulum sekolah tak mendukung terwujudkan karakter anak didik yang bersyakhsiyah Islamiyah (berkepribadian Islam). Bagaimana tidak, anak didik sengaja dijadikan sibuk mengejar nilai akademik demi sebuah pencapaian yang sejak lama dipatenkan "sekolah tinggi, dapat ijazah, kemudian lulus nanti bisa bekerja di tempat yang bergengsi, gaji besar.)
Ukuran kesuksesan dilukis sebatas pencapaian materi, karier, dan jabatan. Wajar, jika generasi masa kini mengecap bangku pendidikan, tapi moral dan imannya tak terdidik. Jauh dari yang dibanggakan. Liberalisme-sekuler telah mengisi benak generasi dan menjadikannya lupa diri. Lupa bahwa dirinya adalah seorang hamba yang diciptakan untuk beribadah. 
Hari ini sungguh kita merindu generasi berkepribadian Islam, bermental pejuang, dan bertakwa kepada Allah seperti Muhammad Al-Fatih. Di usianya yang baru 21thn menjadi panglima perang untuk menakhlukkan Konstantinopel. Beda dengan generasi hari ini, bukan panglima perang tapi mereka bangga menjadi panglima geng motor dan anak nongkrong. Ah, padahal hanya generasi seperti Muhammad Al-Fatih lah yang manpu menjadi tumpuan harapan demi terciptanya peradaban yang gemilang.

#KompakNulis
#OpeyDay1
#OPEYPart6
#OnePostEveryday
#CatatanAnnisa

Post a Comment

0 Comments