Sunday, March 18, 2018

Feminisme: Bebas yang Bablas



Oleh: Nur Khamidah (Mahasiswa Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya dan Anggota Komunitas Revowriter)

Feminisme semakin menunjukkan eksistensinya. Sebuah gerakan yang menuntut kesamaan dan keadilan hak perempuan dengan laki-laki. Mengatasnamakan “empati” akan nasib perempuan yang katanya tertindas akibat ketidakadilan sosial. Lahirlah perjuangan mengangkat derajat perempuan, agar derajatnya setara dengan laki-laki. Akhirnya, banyak perempuan berbondong-bondong menuntut haknya untuk bisa dibebaskan beraktifitas di luar rumah.


Perempuan seakan terkungkung dengan amanah mulia yang dipikulnya di rumah. Amanah  sebagai ibu dan mengatur rumah tangga juga seakan mendiskriminasi perempuan. Perempuan ingin menunjukkan bahwa ia juga bisa diandalkan dalam aktiftas di luar rumah. Jika sudah demikian, maka aktifitas rumah tak lagi diminati perempuan. Mengasuh dan mendidik anak seolah beban. Lebih parah lagi, kini feminisme tidak hanya menuntut kesetaraan gender. Ia menuntut agar LBGT tak didiskriminasi dan aurat perempuan yang wajib ditutupi tak lagi digubris. Sebab aurat perempuan adalah hak masing-masing individu. Padahal, Islam mewajibkan perempuan untuk menutup auratnya dengan kerudung dan jilbab. Yang namanya wajib berarti gak ada pilihan, selain dilakukan.


Jika perempuan merenung sejenak, maka slogan-slogan (kesetaraan gender dan keadilan) yang didengungkan kaum feminis tidak lebih menjerumuskan perempuan ke dalam jurang kehancuran, bukan kemuliaan. Lihatlah lebih dekat, maka engkau (perempuan) tak akan pernah menuntut kesetaraan dengan laki-laki. Jika ibu sibuk bekerja di luar rumah, siapa yang akan mengasuh dan mendidik anak. Siapa yang akan mengajarkan anak tentang kebaikan dan keburukan, jika bukan ibu. Sebab ibulah tempat pendidikan pertama seorang anak. Jika ibu sibuk dengan aktifitas di luar rumah, siapa yang akan memastikan kasih sayang yang dibutuhkan anak telah terpenuhi. Bagaimana tumbuh kembang seorang anak. Khususnya anak yang menuju masa dewasa, maka ia butuh perhatian dan pendampingan ekstra seorang ibu. Agar anak tak terjerumus ke dalam pergaulan bebas yang akan menghancurkan hidupnya. Nah, jika sudah begitu, apakah ibu rela anaknya hancur karena egonya? Masihkah perempuan menuntut kesetaraan dengan laki-laki?


Allah berfirman dalam Surat At-Taubah ayat 71, artinya “Orang-orang mukmin laki-laki dn perempuan, sebagian mereka adalah penolong/awliya bagi sebagian yang lain. Mereka melakukan amar makruf nahi mungkar”. Dari ayat tersebut jelas banget, bahwa dalam Islam laki-laki dan perempuan itu saling berdampingan, saling menolong, saling bersanding, bukan saling bersaing. Sebab laki-laki dan perempuan punya porsinya masing-masing dalam meraih ridho Allah. Jika laki-laki memperoleh kemuliaan dengan bekerja. Maka, perempuan memperoleh kemuliaan dengan menjadi (ibu dan pengatur rumah tangga). Ummu wa robbatul bait menempatkan perempuan menjadi ratu, ia akan terjaga kehormatannya, dan terhindar dari fitnah.




Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!