Diantara Gouta dan Runtuhnya Khilafah


Oleh: Hany Handayani Primantara (Pemerhati Politik dan anggota komunitas Revowriter)



Sudah tau kondisi wilayah Ghouta timur Suriah saat ini? Wilayah ini termasuk kawasan negeri muslim di timur tengah. Berbagai media melansir kondisi Ghouta timur yang menyesakkan dada. Ada apa di sana? Kaum muslim yang terdiri dari pria, wanita, lanjut usia hingga bayi tergolong rakyat sipil menjadi korban keganasan rezim Bassar Assad, pemerintahnya sendiri. Bom dan peluru setiap detik menghujani wilayah mereka.


Beragam media menyampaikan kondisi disana bagai neraka di bumi. Neraka yang kita tahu selama ini hanya ada di akhirat digambarkan mengerikan, tidak nyaman bahkan penuh dengan penyiksaan. Siapa yang mau menetap di sana? Membayangkannya saja sudah merasa takut. Maka tak bisa dilukiskan bagaimana nasib saudara kita, sesama muslim yang saat ini sedang berada di sana.



Jujur saja, saya tak tega melihat foto-foto korban keganasan rezim Bassar Assad yang bertebaran di dunia maya. Ada bayi-bayi mungil yang terlepas kepalanya, tangannya putus, kakinya buntung hingga wajahnya hancur akibat bom dan senjata yang menghabisi nyawa mereka. Belum lagi kondisi para wanitanya, yang juga tak jauh beda nasibnya. Bagai sudah mengambil nomer antrian, kaum muslim di sana satu demi satu dimusnahkan.
Bagi yang masih hidup, hidupnya pun terkatung-katung. Sekitar 400.000 orang terjebak dalam gua-gua gelap lagi sempit. Terisolir di sana tanpa makanan, minuman maupun bantuan obat-obatan. Sulit menembus area tersebut untuk mengirimkan bantuan yang dibutuhkan. Ditambah lagi kondisi cuaca di sana saat ini sedang turun hujan es. Hal ini memperburuk kondisi kesehatan mereka.
Bassar Assad begitu kuat karena didukung oleh Rusia, Jerman dan AS. Pasukan Assad dan militer Rusia diterjunkan untuk memerangi kelompok teroris seperti Front Nusra, ISIS, dan Alqaidah yang berada di wilayah Ghouta. Pertempuran itu tidak bisa dihentikan karena yang diperangi mereka adalah kelompok ekstremisme. 


PBB tak bisa berbuat banyak dalam kasus ini karena hak veto pun digunakan oleh Rusia untuk melindungi Bassar Assad dari kejahatan perang. Lengkap sudah penderitaan kaum Muslim di Ghouta. Saudara sesama muslim yang berada dekat wilayah tersebut pun tak bergerak menurunkan bantuan militer karena terjebak dengan ikatan nasionalisme dan kepentingan negara tersebut. 


Peristiwa yang terjadi di Ghouta bukanlah perang melainkan pembantaian, bagaimana mungkin hal ini bisa dinyatakan perang padahal sasaran korbannya adalah rakyat sipil. Sama halnya dengan tragedi sebelumnya di Myanmar (Burma), Xinjiang, Cina, Afrika, Irak dan tentu di Palestina yang telah puluhan tahun dijajah oleh Israel dengan dukungan AS dan Eropa.


Tepat tanggal 3 Maret 1924 (28 Rajab 1342) adalah peristiwa keruntuhan Daulah Khilafah yang dulu berpusat di Istanbul Turki Utsmani. Kaum muslim dulu pernah berjaya, kaum muslim dulu terpelihara. Berjaya dan terpelihara dalam naungan Daulah khilafah, dipimpin oleh seorang Khalifah dalam satu kepemimpinan. Terjamin segala kebutuhannya mulai dari pangan, papan, sandang, kesehatan juga pendidikan amat sangat diperhatikan oleh seorang Khalifah sebagai pemimpin negara pada saat itu.


Khilafah Islamiah dibubarkan oleh Mustafa Kamal at-Taturk seorang keturunan Yahudi agen Inggris. Sejak saat itu kaum muslimin tercerai-berai menjadi lebih dari 50 negara bagian (nation state) hingga sekarang ini. Kaum muslimin menjadi lemah tanpa khilafah sebagai jantung spiritualnya. Bagai anak ayam yang kehilangan induk, tak tahu hendak kemana mencari perlindungan.


Hal ini persis seperti apa yang dikabarkan oleh Rasulullah kepada para sahabat bahwa "kalian akan diperebutkan seperti makanan dalam piring, padahal jumlah kalian banyak seperti buih di lautan, hal itu bisa terjadi karena Allah mencabut rasa takut pada musuh-musuhmu dan menjangkitkan penyakit wahn didalam hatimu" (HR.Ahmad, Baihaqi, Abu Daud)


Seakan berbanding terbalik kejadian di Gouta hari ini dengan kondisi kaum Muslim saat khilafah masih ada. Tak ada satu muslim pun yang mampu mengatasi problem Ghouta, begitu pun yang mengklaim sebagai organisasi perdamaian dunia. Ketika Daulah khilafah masih ada, jangankan satu negeri muslim, sejengkal saja kaum kafir menyentuh satu orang muslim maka berbondong-bondong perintah Khalifah untuk menjaga serta membuat gentar musuh.


Sembilan puluh empat tahun sudah kaum muslim tak lagi dinaungi khilafah, selama itu pula banyak perkara-perkara yang tak mampu diselesaikan oleh kaum muslim tanpa kehadiran khilafah termasuk salah satunya adalah peristiwa yang terjadi di Ghouta. Maka dari itu dimomen yang tepat ini tak bisa kah kita beri kesempatan bagi khilafah untuk bangkit dan menjelma jadi perisai umat lagi seperti waktu dulu?
Kehadiran khilafah islamiah bukan hanya sebagai kewajiban yang telah dibebankan oleh Allah kepada kaum muslim melainkan juga kebutuhan kaum Muslim saat ini. Masihkah kita merasa congkak tak mau menerima kenyataan ini? Masihkah ada harapan dalam sistem sekarang ini setelah apa yang terjadi di negeri kita dan belahan bumi negeri Muslim lainnya akibat penerapan sistem serba boleh yang dijunjung tinggi oleh barat sebagai negara adidaya?
Para malaikat akan mencatat jawaban-jawaban kita atas berbagai pertanyaan tadi. Semoga jawaban kita adalah jawaban yang bisa menambah amal baik kita didunia bukan malah sebaliknya. Janji Allah tentang kemenangan kaum muslim dan kebangkitan khilafah pasti akan terbukti. Tapi masalahnya, maukah kita jadi bagian yang akan membuktikan janji Allah tersebut?


Wa'allahualam bhi showab

Post a Comment

0 Comments