Saturday, March 17, 2018

Dear Feminis, Begini Loh Kenapa Kita Harus Taat pada Allah.



Oleh : Helmiyatul Hidayati
(Seorang Blogger Profesional dan Anggota Komunitas Menulis Revowriter)
.
.
Maret ini terbayang-bayang oleh para feminis yang bergentayangan di media sosial. Seruannya juga lebih horror dari film Suzanna manapun, apalagi kalau bukan menuntut ‘kesamaan’ dan ‘keadilan’ hak dengan pria. Sebenarnya, apa dan siapakah mereka?
..
Feminisme mulai muncul pada tahun 60-70an, melalui gerakan women’s liberation movement atau feminist movement di AS, UK, Ireland yang terjadi akibat ideologi barat sekuler yang menempatkan perempuan sebagai objek dan sumber eksploitasi untuk diperas keringatnya atau sebagai pemuas nafsu syahwat. Juga tak memiliki hak suara dan tak bisa mengelola hartanya.
..
Selain itu, gerakan dan tuntutan-tuntutan para feminis ini tercipta karena pahitnya masa lalu yang tidak masuk akal. Budaya Sati di India misalnya, mengharuskan istri harus ikut dibakar bila suaminya meninggal. Pada zaman Yunani dan Romawi kuno, perempuan bisa diperjual belikan dengan bebas seperti barang dagangan di pasar.
..
Abad berganti, dagangan mereka tetap sama. Menuntut kebebasan dan penghapusan ketimpangan gender yang mereka anggap sebagai sumber masalah bagi kesengsaraan perempuan. Hukum agama yang membatasi kiprah perempuan di ranah publik dianggap sebagai salah satu hambatan mereka dalam penuntutan ini.
..
Terhadap Islam, feminis telah memberikan ‘black list’-nya. Kenapa? Karena banyak syariat Islam yang menurut mereka menindas perempuan. Kebolehan poligami dimana pria bisa beristri sampai 4 (empat), hak waris laki-laki lebih besar dari perempuan, peran utama perempuan sebagai ummun wa robbatul bait –seorang ibu bagi anak-anak dan pengurus rumah tangga bagi suaminya-, perempuan dilarang menjadi pemimpin politik, dan bahwa laki-laki sebagai pemimpin –qowwam- bagi perempuan. Bahkan urusan menutup aurat dan memakai hijab yang merupakan kewajiban muslimah pun tidak lepas dari sorotan.
..
Beberapa hari yang lalu di beberapa daerah para feminis telah melakukan aksinya, mengkampanyekan tuntutan mereka atas kesetaraan gender. Hal menarik dari aksi ini adalah spanduk-spanduk provokatif yang mereka bawa. Antara lain “Berhijab Oke, Ga Berhijab juga Kece”
..
Dilihat dari kalimatnya saja, maka jelas pikiran kaum feminis hanya mampu berpikir hijab sebagai penampilan saja. Tanpa bisa berpikir lebih jauh lagi alasan di balik kewajiban seorang muslimah memakai hijab.
..
Memakai hijab bagi setiap muslimah itu hukumnya wajib, sama seperti wajibnya shalat, puasa di bulan Ramadhan dll. Keharaman tidak memakainya sama seperti keharaman memakan daging babi. Namun bila kita lihat hari ini banyak muslimah yang tidak memakainya, itu karena kosakata ‘aurat’ sangat jauh dari kehidupan kita. Dari kecil kebanyakan muslim diajarkan tentang sholat tapi tidak tentang berpakaian. Ketentuan pakaian sesuai dengan tuntunan syariat menjadi ekslusif seakan hanya jadi komoditas yang dipakai pada hari besar keagamaan seperti hari raya idul fitri, idul adha atau hari penting seperti akad pernikahan. Setelah itu dalam kehidupan sehari-hari akan ditinggalkan.
..
Kakak-kakak cantik yang tergabung dalam gerakan feminis mungkin merasa ‘panas’ dengan kemunculan Gen-M (Generasi Muslim) sejak awal 90-an, dimana trend yang berbau keagamaan mulai dicari oleh setiap muslim di Indonesia. Termasuk trend pakaian syar’i. Semua ini tidak lepas dari dakwah yang terus digulirkan oleh para ulama selama lebih dari dua dekade terakhir. Tentu ada banyak lika-liku di dalamnya.
..
Memang baiknya bila seorang muslimah memakai hijab itu bukan berdasarkan sebuah trend, namun karena ketaatannya pada Allah SWT. Tapi jelas ini lebih baik daripada menanggalkannya.
..
Langkah awal untuk menemukan ketaatan, setiap muslimah harus bisa menjawab tiga pertanyaan mendasar dalam hidup yang sering terlupakan, bahkan mungkin banyak orang yang tidak tahu. Ketiga pertanyaan itu harus mencakup realitas (sebelum) kehidupan, (semasa) menjalani hidup, dan kemana (setelah) hidup berakhir. Jadi, pertanyaan-pertanyaan itu adalah darimana kita berasal?; untuk apa kita hidup?; dan kemana kita setelah mati?
..
Jawaban yang menenangkan hati dan memuaskan akal untuk ketiga pertanyaan itu harus berciri menyambung antara satu dan lainnya. Jawaban pertanyaan pertama harus logis untuk menjadi alasan jawaban kedua. Jawaban untuk pertanyaan kedua harus logis untuk menjadi alasan jawaban ketiga.
..
Islam menjawab pertanyaan ini dengan pemikiran yang cemerlang. Dengan mengakui bahwa kehidupan ini berawal dari penciptaan tuhan, termasuk keberadaan manusia –kita- (Jawaban pertanyaan pertama); maka perjalanan hidup harus sesuai dengan tuntunan Sang Maha Pencipta sebagai pemilik hak pada mahluk yang diciptakannya (Jawaban pertanyaan kedua); karena hidup pun telah memiliki pengaturan dari sang Maha Pencipta, maka ketika mati pun kita akan di’evaluasi’ kembali atas kehidupan yang telah kita nikmati, apakah menuruti ketentuan yang telah ditetapkan atau tidak.
..
Namun, pemikiran feminis tidak bisa menjawab ketiga pertanyaan itu. Bisa saja masih mengakui tuhan sebagai pencipta, namun melupakan bahwa setiap pencipta pasti memiliki “panduan/cara pakai” untuk setiap mahluk yang diciptakannya. Panduan menjalani kehidupan dengan seenaknya dibuat sendiri tanpa memperhatikan kanan dan kiri. Karena itu muncul pernyataan dari mereka seperti “Aurat Gue Bukan Urusan Loe”; “Selangkanganku Selangkanganku, Selangkanganmu Selangkanganmu”. Jika ada cacat jawaban untuk pertanyaan 1 dan 2, maka diragukan sekali apakah mereka tahu atau merasa penting untuk mengetahui jawaban ketiga seperti seharusnya.
..
Analogi sederhananya bisa kita lihat pada barang-barang di rumah kita seperti kulkas, magic com, kipas angin dll. Barang-barang tersebut jika baru dibeli dari distributor akan mendapat buku panduan pemakaian dari produsennya. Jika tidak dipakai sesuai buku panduannya, maka ia akan rusak, suatu barang rusak sekalipun diperbaiki tidak akan bisa kembali seperti baru, hingga akhirnya dia pun akan dibuang di tempat sampah atau dihancurkan.  Begitu juga dengan manusia, tidak mungkin diciptakan oleh Tuhan tanpa disertai buku panduan untuk hidup. Jangan sampai kita menjadi rusak karena tidak mengikuti buku panduan itu, karena bila itu terjadi tempat kita dihancurkan adalah di Neraka. Buku panduan itu adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah.
..
Langkah selanjutnya untuk menemukan ketaatan adalah memiliki rasa cinta. Cinta kepada sang Maha Pencipta. Bila ini terlalu sulit dimengerti oleh kaum feminis, maka bisa di analogikan dengan cinta istri kepada suaminya, dimana sang istri begitu menginginkan liburan bersama yang tidak pernah mereka dapatkan. Suami memberikan syarat menyiapkan masakan tertentu sebagai imbalannya. Maka sang istri pun bersungguh-sungguh melaksanakan keinginan suaminya karena ia mempercayai suaminya.
..
Cinta kepada Allah adalah nikmat, yang tidak bisa di dapat bila objek cinta hanya ditujukan kepada dunia dan kebebasan tak tentu arah yang sangat banyak digaungkan.
..
Jember, 17 Maret 2018
Helmiyatul Hidayati

Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!