Thursday, March 15, 2018

Bunda, Engkaulah Pendidik Utamanya!



Oleh    : Khotimah Ayu Maduratna (Mahasiswi STAIN Pamekasan)

Pada era zaman now, zaman yang menuntut semuanya ada dan zaman yang meminta semuanya berjalan sesuai dengan trend membuat semua orang kelimpungan dalam merealisasikan ekspektasi mereka yang tak lain hanya sebatas nafsu saja, tak terkecuali perempuan. Perempuan yang dihukumi mubah dalam bekerja malah menjadikannya sebagai sebuah keharusan sehingga peran utamanya sebagai seorang pendidik utama untuk anak-anaknya menjadi tersisihkan bahkan terabaikan hingga tak jarang para perempuan sosialita zaman now menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah dan guru les. Mereka rela merogoh kocek hingga jutaan rupiah untuk mencarikan sekolah dan guru les terbaik untuk anak-anaknya dengan begitu anaknya bisa tertangani dalam hal pendidikan. Bila dirumah ia menyerahkan urusan anak sepenuhnya kepada asisten rumah tangga sementara ia sibuk dengan urusan eksistensinya diluar rumah.

Fenomena seperti ini sangat banyak ditemui di Negara-negara kapitalis-sekuler dan tak terkecuali Indonesia. Alasan para perempuan memberikan ruang penuh diluar urusan domestic adalah selain karena ingin unjuk eksistensi mereka, juga karena tak lain sebagian besar ingin meringankan beban ekonomi keluarga. Harga kebutuhan bahan pokok yang begitu membengkak, listrik yang terus meroket, bahan bakar yang semakin tak terjangkau bagi kalangan bawah dan ditambah dengan biaya pendidikan yang lumayan high class membuat kaum perempuan semakin mantap untuk ikut unjuk eksistensi keluar. Ini semua tak lain karena akibat dari penerapan system yang telah bobrok didalam negeri ini. Wajar saja bila ditemui banyak sekali kenakalan remaja, tindakan criminal pada anak dan perempuan, perselingkuhan, hingga seabrek kasus lain yang tek pernah berujung. Perempuan yang seharusnya melakoni perannya sebagai sekolah pertama dan pendidik utama bagi anak-anaknya kini telah berubah menjadi budak kaum kapitalis. Mereka rela digerus energi, potensi, kecerdasan untuk kepentingan kaum kapitalis dengan iming-iming eksistensi yang tak kalah hebat dengan kaum adam dan keuntungan materi yang sangat menggiurkan, hingga telah banyak para perempuan yang menghilangkan fitrahnya sebagai pendidik utama bagi anak-anak mereka.

Negara yang menganut dan menjadikan sekulerisme sebagai ideology mereka dalam menjalankan segala urusan-urusan mereka, tak akan segan-segan terus mendorong dan mencecar habis-habisan kaum hawa untuk unjuk eksistensi, hal itu mereka lakukan karena tak lain hanya ingin menjadikan anak-anak mereka jauh dari pemahaman Islam. Selain itu, Negara semacam ini sejatinya blingsatan dan sangat ketakutan bila para perempuan mendidik anak-anak mereka dengan aqidah islam dan tsaqofah Islam yang benar karena para penguasa liberal-sekuler kapitalis paham bahwa anak adalah tinggak berdirinya sebuah peradaban besar. Mereka mengerti bahwa sesungguhnya anak bagaikan tongkat estafet untuk membongkar kebobrokan para kaum kapitalis-sekuler ini. Maka dari itu, gencarlah mereka untuk memberikan ruang elite bagi perempuan untuk meningkatkan eksistensi mereka.

Sehingga hal ini sangat berbeda sekali dengan Islam. Islam yang tidak hanya sebagai agama tapi juga sebagai ideology yang telah memiliki segenap aturan lengkap untuk para penganutnya mulai dari aspekpaling kecil hingga keaspek urusan tata pemerintah dimana Islam memposisikan perempuan sesuai dengan fitrahnya. Dalam islam hukum bekerja bagi perempuan adalah mubah (boleh). Sehingga para kaum hawa ini focus kembali untuk melahirkan dan mendidik anak-anak mereka dengan syakhsiyah Islam dan tsaqofah-tsaqofah Islam. Menjadikannya sebagai pejuang Islam digarda terdepan. Dan Islam pun memiliki segenap aturan dalam hal perekonomian, dimana sumber daya alam dikelola penuh oleh Negara dan dikembalikan lagi secara penuh kepada rakyat sehingga tak ada harga-harga yang meroket, harga bahan bakar dan tariff dasar listrik yang membengkak, alhasil kesejahteraan akan dapat diwujudkan.

Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!