Saturday, March 24, 2018

Asam Manis Dakwah




Oleh : Minah, S.Pd.I
(Pengajar, Pemerhati Remaja dan Anggota Komunitas Revowriter)

Dakwah itu…. Suatu kewajiban bagi setiap Muslim
Dakwah itu…. Menyampaikan kebenaran Islam
Dakwah itu….Butuh perjuangan, butuh pengorbanan
Dakwah itu… butuh kesabaran dan keistiqomahan
Dakwah itu… Disampaikan oleh orang yang memiliki sikap yang dapat di teladani
Dakwah itu…. Disampaikan oleh orang yang mempunyai lisan yang penuh makna dan hikmah yang dapat diikuti
Dakwah itu… Disampaikan oleh orang yang pemikirannya dapat mencerahkan.  

Dakwah adakalanya asam dan manis. Asam or kecut, tapi tetap enak bila bener-bener diresapi. Dibalik asamnya pun akan tersimpan manis yang berjuta rasanya. Pokoknya manis hingga tetes terakhir. Sama halnya dengan dakwah, akan ada asam dan manis dalam berdakwah. Namun, dipenghujungnya akan ada kemanisan yakni Allah limpahkan kebahagiaan baik dunia maupun akhirat. Keren kan….

Di zaman now, arus informasi makin pesat, gadget maupun internet telah memberikan nuansa baru. Informasi cepat didapat, yang bisa menguntungkan sekaligus merugikan. Parahnya kita sampai ngelus-ngelus dada. Kenapa? Kenyataan yang harus dihadapi dan dirasakan yakni semakin melunturnya nilai ajaran Islam. Akibat informasi rusak yang telah meracuni pemikiran dan persaaan kita, utamanya para remaja. Kita bisa saksikan langsung, banyak remaja yang terjerumus, tergoda dengan rayuan peradapan yang rusak, pergaulan bebas merajalela, seks bebas, narkoba, beragam kriminalitas dll, Miris!

Coba deh, apa kamu nggak risih dengan maraknya pergaulan bebas dikalangan remaja? Apa nggak kesel melihat tingkah remaja yang hidupnya serba bebas jauh dari ajaran Islam?

 So, sobat remaja, yuk kerahkan tenaga, harta, waktu maupun nyawa kita untuk menegakkan agama Allah. Apa yang mesti dilakukan? Yakni dengan berdakwah.

Dakwah itu sangat penting. Itu sebabnya, kita kudu melakukan aktivitas mulia ini, sebagai bukti kasih sayang kita kepada saudara yang lain. Rasulullah saw. bersabda: Perumpamaan keadaan suatu kaum atau masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Allah (mencegah kemungkaran) adalah ibarat satu rombongan yang naik sebuah kapal. Lalu mereka membagi tempat duduknya masing-masing, ada yang di bagian atas dan sebagian di bagian bawah. Dan bila ada orang yang di bagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang yang duduk di bagian atasnya. Sehingga orang yang di bawah tadi berkata: “Seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku tidak mengganggu orang lain di atas.” Bila mereka (para penumpang lain) membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa.” (HR Bukhari)

Namun, dalam dakwah tidak semudah kita bayangkan, karena akan ada asam dan manis dalam dakwah, yakni ujian dan cobaan. Tapi jika dia terus berdakwah, maka akan terasa manisnya. Allah beri dengan SurgaNya. Subhanallah.

Sobat remaja muslim, aktivitas mulia ini ternyata akan berhadapan dengan segala resiko. Resiko yang nggak jarang membuat sebagian dari kita berguguran di tengah jalan. Nggak kuat nahan bebannya. Itu sebabnya, kesabaran dan keimanan yang mantap sangat dibutuhkan dalam mengarungi medan dakwah ini. Para pendahulu kita juga pernah mengalami hal demikian. Allah Swt. mengabadikannya dalam al-Quran: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS al-Baqarah [2]: 214)

Coba ingat kisah sahabat Rasulullah, gimana menderitanya Amar bin Yasir yang disiksa oleh para pembesar Quraisy ketika awal-awal Islam berkembang di kota Mekkah. Nggak hanya itu, beliau harus rela menyaksikan kedua orangtuanya gugur sebagai syuhada di depan mata kepalanya sendiri. Kita juga bisa meneladani bagaimana pula pengorbanan Bilal bin Rabbah yang rela dijemur di siang hari yang panas dan tubuhnya ditindih batu, sementara pasir di bawahnya terasa membakar kulitnya. Tapi, subhanallah, Bilal sanggup melewatinya dengan kesabaran dan keimanan yang tetap menancap di hatinya.

Akankah kita seperti sosok Mush’ab bin Umair? Ia adalah seorang pemuda yang tampan, rapi penampilannya, pakaiannya yang terbaik dan orangtuanya yang sangat menyayanginya serta ibunya yang kaya raya. Namun, ketika Mush’ab bin Umair masuk Islam dan memiliki keimanan yang kokoh kepada Allah dan RasulNya. Ibunya sangat kecewa bahkan mengancam tidak akan makan dan minum serta terus berdiri tanpa naungan, baik di siang hari yang terik atau di malam yang dingin, namun hal itu tidak menggoyah keimanan mush’ab. Mush’ab pun ditangkap oleh keluarganya dan dikurung di tempat mereka serta menyiksa mush’ab, ibunya yang dulu sangat menyayanginya, dan kini tega melakukan penyiksaan terhadapnya. Warna kulitnya berubah karena luka-luka siksaan. Tubuhnya yang dulu berisi, terlihat kurus.
 
Boleh dibilang, di balik manisnya aktivitas dakwah, ternyata menyimpan rasa asam yang amat sangat. Tapi ini sebuah pilihan. Dan setiap pilihan ada resikonya. Rasulullah saw. pun pernah berkata kepada pamannya, pada saat ia meminta beliau untuk mengurangi kegiatan dakwahnya,: “(Paman), demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan (dakwah) ini, aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah meme­nangkan agama ini atau aku hancur karenanya.” (dalam Sirah Ibnu Hisyam)

Nah itulah asam manis dalam dakwah, adakalanya dakwah diterima bahkan ditolak, oleh karena itu dakwah butuh perjuangan. Hanya orang-orang yang kuat imannya yang mampu untuk terus mendakwahkan Islam. Bukti sayang dan peduli terhadap sesama. Karena yang kita inginkan adalah ridho Allah dan demi kemuliaan Islam.

Sobat remaja juga kudu memiliki Kesabaran dan istiqomah dalam mendakwahkan Islam. Karena Allah menjanjikan kenikmatan dalam bentuk lain. Firman Allah Swt yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan menga­takan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergem­biralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS Fushilat [41]: 30)

Jadi, mulai saat ini siapkanlah diri kita untuk menghadapi semua itu. Ingatlah, Allah “Membeli” kita dengan SurgaNya. Nyalakan terus semangatmu untuk berdakwah. Apa pun yang bakal terjadi. Ini pilihan hidup kita. Jalan yang insya Allah Allah akan ridho dan bisa mengantarkan kebangkitan Islam dan umatnya. Tetep semangat sobat!

Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!