Anak-anak Darurat Pornografi dan Pornoaksi, Apa Solusinya?

Oleh: N. Vera Khairunnisa



Sekitar dua minggu yang lalu, seorang anak perempuan tertangkap kamera sedang menonton video porno melalui telepon genggam. Ironisnya, seorang perempuan dewasa yang diduga ibunya, sedang berada di samping sang anak. Namun tampaknya si ibu tidak menyadari perilaku anak tersebut.



Video memprihatinkan itu beredar dan viral di media sosial Facebook serta Instagram yang diunggah oleh sebuah akun yang bernama Yuni Rusmini pada Rabu (tribunnews.com, 14/3/2018).



Fakta di atas hanyalah secuil contoh kasus anak-anak korban pornografi dan pornoaksi. Akan ada banyak kasus-kasus yang serupa bertebaran di luar sana, dan ini menjadi PR besar untuk para orangtua, masyarakat dan juga negara. Agar tidak lagi cuek terhadap permasalahan yang menimpa calon penerus generasi ini.



Apa penyebabnya?



Kita tahu sendiri, sekarang era semakin canggih. HP dan Internet bisa dijangkau oleh hampir semua kalangan, tak terkecuali anak-anak. Padahal, dua hal tersebut memiliki andil yang cukup besar untuk merusak, jika tidak diatur dengan aturan yang benar. Maka tidak heran, banyak para orangtua yang melempar kesalahan pada HP. Apakah benar penyebab utamanya HP? 



Pada dasarnya, HP hanyalah benda. Internet pun kalau dimanfaatkan dengan baik, justru akan membawa pada kemajuan. Sebab di sana banyak bertebaran ilmu yang itu tidak mudah kita dapat di dunia nyata. Tapi sebaliknya, akan menyebabkan masyarakat rusak, jika pemanfaatan internet menyalahi aturan syariat Islam.



Tidak sedikit orangtua yang abai terhadap anaknya. Mereka merasa jadi orangtua yang baik ketika memberikan anaknya HP. Tanpa melihat dampak buruk dari keputusannya tersebut. Rumah terasa sepi dari hangatnya bercengkrama dengan penuh kasih dan cinta, lantaran seisi rumah sibuk masing-masing dengan HPnya.


Masyarakat yang di dalamnya terdapat media, juga punya andil yang besar untuk merusak generasi. Mereka menyebarkan apa saja yang bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah, tanpa mempertimbangkan halal haram. Juga tidak mempedulikan akibat buruknya bagi generasi. 



Di sisi lain, pemerintah seolah tidak peduli terhadap masalah ini. Mereka membiarkan media bekerja tanpa diberikan batasan aturan yang jelas. Sehingga apapun yang disebarkan oleh media, meski kontennya jelas merusak, ini tidak bisa dituntut. Karena apa yang mereka lakukan tidak bertentangan dengan aturan negara.



Inilah buah dari penerapan sistem yang bukan islam, sekuler. Sistem ini menjadikan para orangtua jadi sosok materialis. Yang membuktikan kasih sayang hanya dengan memberi materi. Sistem ini membuat media rakus, sehingga mereka menjual konten apapun demi ambisinya. Sistem ini juga menciptakan negara mandul, yang tak bisa melahirkan aturan untuk membatasi media. Sebab buah dari sekuler adalah demokrasi. Dan dalam demokrasi, kebebasan berpendapat menjadi salah satu jargon kebebasan.


Maka apa solusinya?


Pertama, orangtua harus tahu bagaimana cara menjaga dan mendidik anak-anaknya. Rasa sayang dan cinta tidak diukur dengan memberi mereka materi. Mainan mahal, pakaian bagus atau makan enak bukan hal penting yang harus mereka dapatkan. Apalagi HP mahal yang diberikan pada anak yang belum mengerti kegunaan HP. Ini tentu tidak tepat.


Yang dibutuhkan anak adalah dididik dan diarahkan. Terlebih untuk anak yang masih belum baligh. Maka penguatan akidah dan memberi pemahaman tentang ilmu agama ini menjadi sesuatu yang sangat penting ditamankan pada anak. Sehingga ketika mereka keluar dari rumah, mereka tahu mana yang baik dan buruk. Mereka punya imun yang akan menjaga mereka dari penyakit sosial yang ada di lingkungan masyarakat.



Kedua, masyarakat yang peduli terhadap generasi. Mereka tidak akan membiarkan kerusakan merajalela. Media yang selalu menyebarkan konten islami, memiliki andil untuk mendidik generasi. Maka mereka tidak hanya mengedepankan materi, tapi justru selalu berpikir untuk kemajuan dan kebaikan generasi. Sebab masa depan negara dan dunia, ada di tangan mereka.



Ketiga, pemerintah membuat aturan yang jelas untuk membatasi kerja media. Pemerintah tidak boleh membiarkan media seperti pornografi dan pornoaksi bertebaran dengan seenaknya. Apakah bisa? Tentu saja. Sebagaimana mereka mampu memblokir website-website islami beberapa tahun lalu. Maka bukan hal yang sulit juga seharusnya mereka memblokir setiap media yang memiliki andil untuk merusak generasi.



Insyaallah, dengan ketiga solusi di atas, keberadaan HP dan internet tidak akan menjadi momok yang menakutkan bagi para orangtua. 

Wallahua'lam

Post a Comment

0 Comments