Wawancara Humas PA Jember: PERCERAIAN JEMBER TINGGI, IMAN TAQWA SOLUSI

RemajaIslamHebat.Com - Lagi-lagi berita tak sedap menghiasi media massa Jember. Kali ini pemberitaan mengenai tingginya angka perceraian di Jember. Sebagaimana diberitakan Prosalina (19/1), Jember menduduki peringkat ketiga sebagai kota dengan tingkat perceraian tertinggi se-Indonesia. Untuk mengetahui penyebabnya dan solusi yang bisa ditawarkan kepada Jember, redaksi Info Muslimah Jember mewawancarai Bapak Drs. Anwar, S.H., M.H.Es selaku Humas Pengadilan Agama Jember sekaligus Hakim Pengadilan Agama.

Jember menduduki peringkat ketiga sebagai kota dengan percerian tertinggi se Indonesia. Seperti apa data detilnya, Bapak?

Untuk tahun 2017, gugatan dan permohonan perkara di Pengadilan agama terdapat 7775. Sebanyak 5740 diantaranya adalah perceraian dan sudah keluar akte cerainya. Pada 2016, Pengadilan Agama mengeluarkan akta cerai sebanyak 5707. Artinya pada 2017 ada kenaikan jumlah perceraian.

Innalillahi, sangat tinggi ya pak. Dari ribuan kasus tersebut, apa saja penyebabnya?

Faktor tertinggi adalah ekonomi. Misalnya nafkah suami kurang mencukupi, padahal harga-harga kebutuhan baik itu sandang pangan papan, pendidikan dan ekonomi cukup tinggi.

Penyebab tertinggi kedua adalah pasangan meninggalkan salah satu pihak. Yang paling banyak meninggalkan ini adalah istri. Seringnya karena mereka tinggal kumpul dengan orangtua, tidak kerasan atau ada ketidakcocokan, sebagian karena suami kurang menafkahi jadi istri meninggalkan rumah. Sedangkan untuk hidup mandiri, belum sanggup secara ekonomi. Faktor ketiga itu adanya perselisihan dan pertengkaran. Sumbernya karena faktor ekonomi dan cemburu, ada juga yang karena suami penjudi dan pemabuk. Penyebab berikutnya adalah KDRT, dll.

Memang banyak di antara mereka yang bercerai dari kalangan usia muda dan ekonomi menengah ke bawah. Jadi belum siap secara mental, ekonomi dan ilmu. Termasuk dangkalnya pemahaman agama.

Tapi orang-orang jaman dahulu, juga menikah di usia muda, pendidikan juga rendah. Tapi tingkat perceraian rendah. Itu kenapa Bapak?

Jaman dulu media massa belum berpengaruh besar. Jaman sekarang ada globalisasi, liberalisasi tinggi. Belum lagi pengaruh sinetron-sinetron yang kurang baik. Padahal edukasi belum baik, jadinya saat ada info buruk, tak ada filter. Saat ini pemahaman agama dangkal. Meski negeri kita mayoritas Islam, tapi Islam mulai ditinggalkan. Kebanyakan hanya Islam KTP, tak memahami Islam.

Adakah kaitan antara ide keadilan dan kesetaraan gender dengan perceraian yang ada di Jember?

Sangat minim. Karena sebagian besar kasusnya dialami oleh masyarakat dengan pendidikan rendah. Sedangkan pemahaman gender itu difahami orang-orang yang berpendidikan tinggi. Tapi memang ada kasus perceraian akibat si istri bekerja, gaji lebih tinggi dari suami tapi berangkatnya dari faktor ekonomi, bukan gender secara langsung. Alasannya karena Istri nglamak (tidak menghormati) sama suami biasanya yang menggugat suami. Ada juga TKW. Ketika pulang dari sana, sudah gak mau sama suami. Padahal perempuan safar jauh tanpa mahrom itu harom. Karena dosa terus, jadinya gak barokah. Kalau suami ngizinkan, apa ga dosa suaminya? Padahal kewajiban mencari nafkah ada di tangan suami. Makanya di Alquran bagian waris laki-laki dua kali lebih besar dari perempuan.

Jember kota santri. Cukup relijius. Tapi kok perceraian sangat tinggi. Kenapa?

Kota santri, tapi nggak nyantri? Peran ulama sudah baik. Banyak ceramah dan kajian. Tapi yang datang sedikit, beda jauh sama konser. Pemahaman agama dangkal. Yang banyak bercerai nggak mondok juga. Kalaupun sekolah sampai SMP, tapi tak faham fiqh, hak-kewajiban suami-istri, dll. Ilmu secara ekonomi juga kurang. Meski sebenarnya dalam Islam tidak bisa dipisahkan ini ya. Dari segi eksternal, ada kaitan dengan pihak ketiga, faktor sistem pendidikan yang minim pengajaran agama juga. Tanggungjawab pendidik juga kurang.

Apalagi penduduknya banyak, jika dibandingkan dengan luar Jawa. Saya pernah jadi hakim di Sumatra, di Aceh dll. kasusnya tak sebanyak Jember karena penduduknya juga sangat sedikit. Apalagi disana ada hukum cambuk untuk khalwat.

Berbicara Aceh, yang disana ada hukum cambuk, dll. Apakah hukum yang seperti itu bisa mengurangi angka perceraian?

Bisa menurut saya. Karena akan menjaga akhlaq.

Saat ini sedang digarap pasal perzinahan, kumpul kebo akan dikrimanilisir meski tanpa aduan. Bagaimama pendapat Bapak?

Saya sependapat. Demi masa depan bangsa. Dan butuh edukasi sebelumnya. Sebagaimana di Alquran, mendekati zina saja haram. Seperti khalwat, pacaran. Jaman sekarang punya anak ngeri. Jika ada yang phobi terhadap Islam, sebenarnya karena gak faham Islam. Belum pernah memahami Islam, karena hanya KTP-nya Islam. Sholatnya cuma setahun dua kali. Makanya gak kenal Islam dan phobi Islam.

Memang sebagai representasi dari Pengadilan Agama bukan ranahnya untuk menawarkan solusi. Tapi kami bertanya pada Bapak dari segi keilmuan dan pengalaman bapak yang berkecimpung di ranah Ahwalus Syakhsiyah, menurut Bapak, solusi perceraian ini dalam Islam bagaimana nggih, Pak?

Kembali masalah ekonomi dulu. Jika ekonomi atau dunia kita kuat, sekolah kuat, insya Allah iman kuat. Jika ekonomi masih tergantung, padahal menuntut ilmu butuh uang. Orang Islam wajib quwwatul Iman dan ekonomi sekaligus. Makanya di Alquran juga disebutkan. Insya Allah kalo ekonomi kita kuat tidak akan mudah dikangkangi. Jika ekonomi kuat, mampu menuntut ilmu setinggi mungkin, SDM kita bisa kuat.

Peran menguatkan ekonomi rakyat siapakah itu?

Kalo kembali ke pasal 33 peran Negara. Jadi perceraian ini bukan sekedar persoalan individu. Tapi ada banyak peran, media, Negara, dll.

Solusi kuratif?

Adanya UU hukuman bagi pezina, kholwat, dll. Lha wong kita itu negara berketuhanan yang maha Esa kok. Artinya hukum kita bersumber pada hukum tuhan. Tuhan kita orang Islam, ya Allah. Ini harus diperjuangkan, karena ulama-ulama terdahulu ini yang diperjuangkan.

Terakhir, pesan apa yang ingin disampaikan untuk masyarakat Jember?

Kalau mau berumah tangga, harus memahami tentang hak-kewajiban masing-masing. Masing-masing harus menyadari kewajibannya.Jika telah memahami dan melakukan kewajibannya, insya Allah hak akan muncul. Jika kewajiban tak dilakukan sesuai Islam, ini akan menimbulkan masalah. Dan kembali pada keimanan. Kita wajib mempertebal keimanan. Ini pokok. Insya Allah jika iman kuat, akan berusaha melakukan kewajibannya.[Info Muslimah Jember ]

Post a Comment

0 Comments