Sulawesi Tenggara Darurat Kekerasan Seksual


Oleh : Mikbariah ,A.Md



Kasus kekerasan seksual terhadap anak perempuan makin memperhatinkan di Sulawesi Tenggara. Ironisnya pelaku rata-rata dilakukan orang terdekat, orang tua kandung dan orang tua tiri , Menurut Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Sulawesi Tenggara, Zuhunuddin Kasim melalui media lenterasultra.com mengungkapkan, Kekerasan seksual anak sepanjang tahun 2017 sebanyak 126 kasus di Sulawesi Tenggara. Data itu berlum termasuk bulan desember 2017. 

Sementara untuk tahun 2018 yang baru berjalan 2 bulan kasus ini sudah dalam penanganan kepolisian. Diantaranya jajaran kepolisian Resort (POLRES) kendari menahan tersangka FD (27 tahun) yang diduga  melakukan pencabulan terhadap anak tirinya sendiri dengan inisial GN (6 tahun),FD yang merupakan warga kelurahan kadia,itu awalnya diproses oleh kepolisian sector kadia pada hari sabtu  tanggal 27 januari 2018 , tersangka melampiaskan nafsu bejatnya itu sebanyak 2 kali (zonasultra.com).

Contoh lain seorang laki-laki berinisial JN (38 tahun)  yang merupakan warga Desa Bandaeha, kecamatan Molawe, kabupaten konawe Utara (Konut) Sulawesi tenggara juga akhirnya harus berurusan dengan pihak berwajib, JN terancam mendapatkan hukuman 15 tahun penjara dan denda Rp 5 miliar, hal setelah JN dilaporkan  tanggal  26 januari 2018,  ini karena JN  disangkakan  kasus dugaan tindak  pidana persetubuhan dan pencabulan anak dibawah umur, dengan cara memaksa serta melakukan ancaman pembunuhan, dan yang menjadi korban kebejatan pelaku adalah  anak tirinya yang masih dibawah umur yakni  SI (14 tahun), semestinya  apakah JN ataukah DF meskipun bukan sebagai ayah kandung namun semestinya menjadi orang yang bertanggung jawab dengan melindungi  SI dan GN.

Kasus diatas bukan cuman terjadi di Konut atau di Kendari saja namun juga terjadi dikabupaten yang lain seperti Bau-bau ,Konawe,Konawe selatan, Buton tengah ,Muna,dan juga Kolaka. Maka tidak heran banyak yang menyatakan bahwa Sulawesi Tenggara darurat kekerasan seksual.

Kekerasan Seksual; Buah Busuk Kapitalisme

Psikolog dari Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Teddy Hidayat menyebut kasus kekerasan seksual terjadi karena beberapa faktor. Saya pikir masalah kekerasan seksual itu sama dengan masalah-masalah lain seperti narkotika misalnya. Itu semuanya dilatarbelakangi tiga hal yaitu lingkungan, individu, dan penegakkan hukum," kata Teddy kepada Okezone, Jumat (13/5/2016). 

Di antara tiga hal itu, faktor individu jadi pendorong utama kasus kekerasan seksual. Sebab kontrol utama untuk melakukan kekerasan seksual atau tidak bergantung dari individu masing-masing.Adapun soal lingkungan, hal itu juga jadi penunjang kasus kekerasan seksual.

Faktor lingkungan dan pergaulan bisa membuat seseorang terdorong menjadi penjahat seksual. Begitu juga dengan persoalan hukum. Hal itu juga memicu kasus kekerasan seksual berulang-ulang terjadi.

Sebab sejauh ini yang dilakukan pemerintah hanya sebatas tindakan represif dengan mengedepankan tindakan hukum. Sebaliknya, faktor pencegahan belum betul-betul dimaksimalkan.selama ini  "Upaya penanggulangan itu hanya sebatas tindak represif, begitu ada kejadian, ditangkap, dihukum, tidak pernah melakukan langkah preventif yang betul-betul sistematis, komprehensif, dan dilakukan secara terprogram.

Kekerasan seksual  ini pada dasarnya dipicu oleh hasrat dan dorongan seks  yang membuncah. Hasrat dan dorongan seks ini lahir dari naluri seksual  yang ada pada diri manusia. Naluri ini sebenarnya merupakan fitrah dalam diri manusia, yang bisa terangsang lalu menuntut dipenuhi. Rangsangan muncul karena dua faktor:

Pertama, pemikiran, termasuk fantasi  dan khayalan .Kedua, fakta (lawan jenis) bagi masing-masing pria dan wanita.
Maraknya perempuan yang berpakaian minim, dan mengumbar aurat, bukan hanya rambut dan leher, tetapi juga dada dan bagian lain yang mestinya ditutup justru dinampakkan, semuanya itu merupakan fakta yang bisa merangsang kaum pria.Dan diperparah lagi maraknya gambar, film, tayangan dan jejaring sosial yang menayangkan adegan seks.

Semuanya ini tentu menjadi pemicu lahirnya rangsangan seks yang begitu kuat. Rangsangan ini kemudian diikuti fantasi seks hingga mendorong tindakan. Tindakan ini bisa menjerumuskan pelakunya dalam kejahatan seks, mulai dari pelecehan hingga perkosaan.

Harus diakui, ini merupakan dampak dari sistem sosial Kapitalis yang menjadikan sekularisme sebagai asas dalam kehidupan dimana urusan kehidupan tidak boleh membawa agama didalamnya, yang akhirnya membuka kebebasan bertingkah laku, dimana hubungan antara pria dan wanita begitu bebas, hingga tanpa batas. Hubungan bebas pria dan wanita tanpa batas ini melengkapi komoditas, fakta dan fantasi seks yang ada. Bagi orang-orang yang berduit mungkin bisa memenuhinya dengan kencan semalam, tetapi bagi yang tidak, maka tindakan yang bisa dilakukan akan memangsa korban yang lemah. Terjadilah tindak perkosaan  itu.

Syariah; Solusi Hakiki Penanggulangan Kekerasan Seksual

Kasus kekerasan seksual yang terus meningkat menunjukan bahwa hari ini aturan buatan manusia  telah terbukti gagal dalam menyelesaikan kasus kekerasan seksual,oleh karena itu semestinya kita tidak menyandarkan penyelesaiannya pada manusia,namun mengembalikannya kepada pencipta manusia yakni Allah SWT, sesungguhnya syariah islam adalah aturan yang berasal dari Allah dimana aturannya sudah sempurna dan menyeluruh dan mampu untuk menyelesaikan semua hal termasuk kasus meningkatnya kekerasan seksual.

Dalam islam  penyelesaian kekerasan seksual  bisa dikembalikan kepada tiga pihak: individu, masyarakat dan negara.

Dengan diterapkannya sistem Islam, dan dijadikannya Islam sebagai dasar kehidupan, baik dalam bermasyarakat maupun bernegara, maka fakta hingga fantasi seksual sebagaimana yang marak saat ini tidak akan ada lagi. Interaksi di tengah-tengah masyarakat yang melibatkan pria dan wanita juga diatur sedemikian, sehingga berbagai pintu pelecehan, perzinaan hingga perkosaan tersebut akan tertutup rapat. Selain sistem tersebut, negara juga menerapkan sanksi yang tegas dan keras terhadap siapa saja yang melakukan kejahatan tersebut.

Inilah solusi hakiki dari persoalan kekerasan seksual,olehnya kembali kepada syariat islam adalah suatu keniscayaan jika kita hendak menyelesaikan persoalan ini. Wallahu a’lam bishawwab.


Post a Comment

0 Comments