Sistem Kapitalistik Tingkatkan Penderita Gangguan Jiwa

Oleh: Eresia Nindia, S.T. (Ibu Rumah Tangga dan Anggota Kesadaran Jiwa Sehat Indonesia)

Bunuh diri dan perilaku impulsif kian marak terjadi akhir-akhir ini. Meritha Vridhawati, seorang pegawai bank, menjemput ajal dengan lompat dari lantai 10 apartemennya di Tanah Abang Jakarta Pusat pada Senin (08/01/2018). Diduga Meritha depresi karena friksi antar-pegawai di kantor ditambah kondisi bayinya yang baru berusia 9 bulan sedang sakit.

Di Jember, seorang istri nekat membakar rumah rumah setelah gugatan cerainya ditolak oleh instansi tempatnya bekerja dan pengadilan agama pada Rabu (10/01/2018). Sang suami mengatakan istrinya depresi berat dan sempat tidak mengakui anak kandungnya sendiri.

Bulan November lalu, Novi, ibu rumahtangga di Kebon Jeruk Jakarta Barat, mengikat kaki dan tangan anaknya GW (5 tahun), lalu disemprot obat nyamuk seluruh badan dan kepalanya ditutup kresek. Melihat GW lemas, Novi membawanya ke Rumah Sakit. Sayang nyawanya tak tertolong. Bocah malang itu tewas pada Sabtu (11/11/2017). Alasan Novi bertindak impulsif karena ia tidak tahan kebiasaan anaknya yang masih sering mengompol.

Sehari sebelumnya, Jumat (11/11/2017), dokter Letty juga dihabisi oleh suaminya sendiri di Az-Zahra Medical Center, Kramat Jati, Jakarta Timur. Suaminya, dr Helmi, juga merupakan seorang dokter.

Helmi mengaku mengalami gangguan psikosis selama 10 tahun terakhir dan mengonsumsi obat psikotropika golongan benzodiazepine. Sebulan sebelum aksi brutalnya, Helmi menyatakan makin sering mengalami delusi dan halusinasi yang berisi ajakan untuk membunuh istrinya sendiri.

Kasus gangguan kejiwaan tidak bisa dianggap remeh. Data WHO menyebutkan, bunuh diri akibat gangguan mental-kejiwaan merupakan penyebab terbesar kedua kematian di kalangan remaja dan dewasa.

Di Indonesia sendiri, ada 5000 kasus bunuh diri pada tahun 2010 dan jumlah ini terus meningkat. Padahal data ini jelas merupakan fenomena gunung es, karena kejadian faktualnya lebih banyak lagi.

WHO juga menyatakan, 1 dari 5 orang di dunia memiliki gangguan mental-emosional, dan kerugian ekonomi global akibat kasus mental disorder mencapai 1 milyar dolar US. Kombinasi faktor biologis (mencakup pola pengasuhan, pola komunikasi, gaya hidup) dan faktor lingkungan adalah penyebab utama gangguan ini.

Anak-anak yang dididik dengan pola pengasuhan traumatis dari orangtua yang memiliki kerentananan emosional, sangat mungkin mengidap gangguan mental-kejiwaan.

Gangguan ini diturunkan secara psikologis. Apalagi pengasuhan merupakan aktivitas intens antara orangtua dan anak dalam institusi yang paling privat dan paling dekat.

Cara-cara orangtua berkomunikasi, merespon sesuatu, mengekspresikan kasih sayang menjadi faktor penentu paling besar dalam membentuk kecerdasan emosional dan kesehatan jiwa anak hingga ia dewasa.

Tidak berhenti di situ, faktor lingkungan juga menjadi penyebab depresi paling besar. Himpitan ekonomi, kebutuhan hidup meningkat, harga semua kebutuhan yang naik drastis, gaya hidup tidak sehat, tingginya individualisme, gaya hidup hedon dan budaya bullying membuat faktor resiko gangguan jiwa meningkat.

Stress dan depresi bisa berkembang menjadi gangguan mental yang sifatnya menetap, seperti gangguan afeksi (bipolar, ASD, dll), gangguan kepribadian (paranoid, histrionic, borderline, dll), psikosis, hingga skizofrenia.

Sama halnya dengan orang yang mengalami serangan jantung, gagal ginjal, maupun diabetes, penderita gangguan kejiwaan berada pada kondisi serupa: MEREKA SAKIT.

Meski tidak nampak secara kasat mata, sebenarnya gangguan jiwa adalah kondisi sakit yang melelahkan. Justru karena tidak nampak secara fisik inilah, orang yang nampak baik-baik saja bisa melakukan tindakan menyakiti diri sendiri atau bahkan bunuh diri tanpa ada orang yang paham apa yang dialami. Seperti yang menimpa Kim Jong Hyun, vokalis boyband Korea Shinee, yang bunuh diri dengan di apartemennya pada Senin (18/12/2017).

Di negara kita, edukasi tentang kesehatan jiwa tidak semarak edukasi tentang resiko penyebab asam urat dan darah tinggi. Penerimaan dan respon masyarakat saat menemui kasus penderita gangguan mentalpun cenderung negatif.

Bagi manusia yang sehat jiwa dan mental, merespon anak yang sakit atau mengompol dengan tindakan menyiksa fisik atau melakukan self-harm tentu dianggap sangat brutal dan sia-sia. Bagi manusia yang sehat jiwa dan mental, membakar rumah ketika keinginan tidak dipenuhi tentunya adalah tindakan yang sangat berlebihan dan menakutkan.

Demikianlah, bagi manusia normal, apa yang dilakukan oleh Meritha, Novi dan dr Helmi adalah tindakan brutal dan sia-sia. Manusia yang memiliki mental health issue memberikan respon yang berbeda terhadap rangsangan dan stress yang mereka terima dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam banyak situasi, mereka kehilangan kontrol dan merespon segala sesuatu dengan spontan, impulsif, dan tanpa melalui proses berfikir matang sehingga tindakan mereka di luar kendali.

Berbicara tentang kesehatan jiwa manusia, maka peran individu, masyarakat, dan negara adalah faktor penting yang bersifat sirkular dan tidak bisa dipisahkan. Faktanya saat ini, negara dengan sifatnya yang kapitalistik telah berlepas tangan atas kebutuhan pendidikan, kesehatan, makanan dan keamanan warganya.

Sistem hidup ini memaksa para ayah bekerja setengah mati dan mendorong ibu untuk bisa diserap juga di dunia kerja. Akhirnya menyisakan kaum ibu dalam kondisi lelah saat bertemu anak-anaknya di rumah.

Peran ayah dan ibu terbengkalai, pengasuhan dijalankan alakadarnya. Tekanan di tempat kerja ditambah konflik rumah tangga membuat ibu dan ayah rentan terkena depresi. Akhirnya mengasuh anak-anak dengan pola pengasuhan auto-pilot yang minim kesadaran.

Hidup berputar pada sumbu cari uang dan memenuhi kebutuhan hidup. Ditambah gaya hidup hedonis, model persahabatan berdasar kepentingan, dan budaya bullying yang menghilangkan sisi manusiawi dari manusia itu sendiri membuat penyebab gangguan jiwa makin menjadi-jadi.

Tujuan penciptaan manusia adalah jelas seperti di Q.S. Adzariyat ayat 54, yang artinya:

”Dan tidaklah Aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku”

Islam telah memberikan aturan yang seimbang antara urusan beribadah pada Allah, urusan pribadi dan urusan muamalah. Sehingga sistem hidup kapitalistik yang hanya berorientasi pada materi jelas bertentangan dengan Islam dan tentu saja tidak manusiawi.

Islam mendorong setiap individu untuk menyadari betul tujuan hidupnya, sehingga setiap manusia selalu bertindak sesuai perintah Allah dan tujuan penciptaannya. Islam juga mendorong masyarakat untuk berserikat dan saling tolong-menolong dengan dasar aqidah bukan semata karena kepentingan.

Negara juga bertanggungjawab penuh atas kebutuhan dasar warganya yakni atas pemeliharaan akal, makanan, kesehatan, pendidikan dan keamanannya. Sehingga kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak dibebankan pada individu, tetapi menjadi tanggungjawab negara.

Adapun sumber pembiayaan untuk kebutuhan primer warganegara bisa didapatkan dari pengelolaan mandiri atas sumber air, sumber energi termasuk di dalamnya aneka bahan tambang, serta hasil hutan dan sumber pangan, sebagaimana hadits: “Kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara yaitu air, rumput liar dan energi api.” [Hr. Ahmad.]

Jika tiga komponen individu, masyarakat, dan negara ini berjalan sebagaimana mestinya, tentu manusia mampu bertindak sesuai perannya masing-masing. Seorang ayah tetap wajib mencari nafkah tapi tanpa mengorbankan kesehatan fisik dan mentalnya. Seorang ibu bisa dengan bahagia menjalankan tugasnya sebagai madrasah al ‘ula anak-anak tanpa pusing memikirkan harus menambah penghasilan dari celah yang mana lagi.

Semua orang tetap bisa khusyuk menjalankan ibadah mahdhah tanpa dikejar deadline pekerjaan yang seolah tanpa henti. Komunikasi antarmasyarakat pun terjalin karena semangat ta’awun (saling tolong-menolong), bukan semata karena kepentingan materi. Wallahua’lam

Post a Comment

0 Comments