PENDIDIKAN SEKS DALAM ISLAM?

PERTANYAAN :

Saat ini pergaulan remaja makin bebas. Perzinahan dan penyimpangan prilaku seksual terjadi di mana-mana. Angka bayi yang dibuang juga sangat tinggi, mengalami kenaikan 100 persen dari tahun lalu. Untuk mengatasi hal ini, adakah pendidikan seks dalam Islam?

JAWAB :

Pendidikan seks adalah produk peradaban barat, bukan produk islam. Dan tujuan mereka mengadakan pendidikan seks terhadap remaja, bukan untuk mencegah merebaknya prilaku zina dan penyimpangan seksual. Tetapi memberikan informasi selengkap-lengkapnya mengenai seksual, agar para remaja dan pemuda mampu memutuskan prilaku yang tepat dalam mengelola seksualnya. Yaitu tidak melakukannya atau melakukannya secara aman, dengan berbagai alat kontrasepsi yang disediakan bagi pasangan pra merital.

Termasuk dalam pendidikan seks adalah bagaimana menangani dampak psikologis remaja, ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya kehamilan yang tidak diinginkan, tertular oleh penyakit kelamin dsb. Remaja-remaja galau ini akan diwadahi melalui program konseling.

Peradaban islam bertolak belakang dengan peradaban barat. Dalam islam, zina dipandang sebagai dosa besar/perbuatan yang keji (Fahisyah) dan sebagai jalan yang buruk (sa’a sabila). Hingga seluruh kaum muslimin diperintahkan tidak mendekatinya. Firman Allah dalam surat al-Isra’ (17) ayat 32, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”

Dalam islam tidak ada pendidikan seks baik untuk anak, maupun remaja. Yang ada adalah pengendalian naluri seksual sejak dini. Caranya sebagai berikut. Pertama, islam mewajibkan hadlonah (merawat anak) dan menyerahkan hak hadlonah tersebut pada ibu, dan pada kerabat perempuan terdekat dari jalur ibu, ketika ibu tiada. Mereka yang ada pada jalur hadlonah sajalah, yang berhak menyentuh tubuh anak, termasuk menyentuh kemaluannya. Dengan begitu, akan lebih mudah menanamkan rasa malu pada anak.

Kedua, menanamkan rasa malu sejak dini. Malu memperlihatkan aurat dan malu melihat aurat orang lain. Sejak dini, membiasakan anak melepas pakaian saat mau mandi di kamar mandi, dan menutup auratnya dengan handuk setelah mandi dan tidak membiarkan anak berlari-larian dalam keadaan telanjang meski di dalam rumah.

Ketiga, melarang anak kecil yang belum mengerti aurat, masuk kamar orang dewasa pada tiga waktu aurat. Setelah isya’, sebelum subuh dan siang hari saat tidur sejenak. Tiga waktu tersebut adalah waktu-waktu rawan, dimana orang dewasa pada umumnya berganti pakaian.

Allah berfirman mengenai hal ini dalam surat an Nur (24) ayat 58, “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya'. (Itulah) tiga 'aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu.”

Keempat, di dalam rumah, kaum perempuan wajib mengenakan pakaian rumah (mihnah) yang sopan. Tertutup sampai bawah lutut dan tidak menampakkan ketiak dan pangkal lengan. Batasan ini difahami dari makna mihnah yaitu pakaian kerja wanita di dalam rumah, yang menampakkan anggota tubuh sebatas yang dibutuhkan untuk kemudahan pekerjaan wanita di dalam rumah.

Keenam, terhadap anak-anak yang telah mengerti aurat atau yang telah mumayyiz, yaitu yang telah berumur tujuh tahun, mereka diperlakukan sebagaimana orang dewasa, dalam hal pengaturan ijtima’ (interaksi laki-laki dan perempuan). yaitu larangan menampakkan aurat. Perintahkan anak-anak perempuan kita memakai kerudung saat bermain bersama teman-temannya.  Laranglah mereka melihat aurat, caranya, perintahkan mereka agar meminta izin setiap akan memasuki rumah orang lain, juga meminta izin di setiap waktu ketika ingin memasuki kamar orang tua atau saudara-saudaranya yang serumah. Pada saat yang sama, kaum wanita diperintahkan untuk menjaga aurat dihadapan anak laki-laki mumayyiz. Bila bertamu ke rumah kita anak laki-laki mumayyiz yang bukan mahram, maka wajib bagi kita menutup aurat dihadapannya sebagaimana dalam surat an nur (24) ayat 31.

Selain berkenaan dengan aurat, anak-anak mumayyiz pun wajib kita jaga dari ikhtilat dan kholwat. Ikhtilat adalah pergaulan campur baur laki-laki dan perempuan. Kholwat adalah berdua-duaan laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom. Laranglah mereka bermain bersama dengan lawan jenis, dan laranglah mereka bersikap manja dengan guru yang bukan mahrom, hindarkan mereka diantar jemput ojek yang bukan mahrom dsb.

Ketujuh, di usia sepuluh tahun, mulailah persiapkan anak-anak perempuan kecakapan dalam tata laksana kerumah tangaan. Memasak, mencuci, membereskan rumah. Termasuk keterampilan pengobatan dan menenun. Mengenal berbagai macam tanaman obat, meraciknya, menjadikannya sebagai campuran bumbu masakan dll. Menenun berarti menjahit. Memperbaiki pakaian yang sobek, menambal pakaian yang terkoyak, serta membuat pakaian dll.

Sementara anak laki-laki, di umur sepuluh tahun, mulai dipersiapkan ketrampilan dalam rangka nafkah. Bila orang tua memiliki usaha, jadikanlah mereka pekerja paruh waktu. Ajarkan kepada mereka menejemen usaha tersebut, dst.

Persiapan ini sangat penting kita lakukan, agar anak-anak kita siap memasuki rumah tangga segera setelah mereka baligh. Naluri seksual yang bergejolak di usia baligh, bisa menyeret mereka dalam pergaulan yang salah bila pada saat yang sama mereka belum memiliki kesiapan memasuki kehidupan rumah tangga.

Kedelapan, laki-laki baligh yang telah siap menikah dan tengah berada di gerbang pernikahan, wajib baginya mempelajari hak dan kewajibannya dalam pernikahan. Termasuk mempelajari hal-hal yang dilarang dan hal-hal yang diperintahkan islam dalam mempergauli istri dengan cara yang ma’ruf.

Sementara perempuan, walinya berhak menahannya beberpa waktu setelah akad nikah, sebelum pesta penyambutan mempelai wanita di rumah suaminya (walimatu ursy). Selama rentang waktu itu, para wali berkewajiban mengajari anaknya hak dan kewajibannya sebagai istri, termasuk bagaimana memperlakukan suami dengan baik.

Inilah cara islam mendidik naluri manusia.  Mengendalikannya sejak dini dengan tahapan-tahapan yang runut. Dengan tahapan-tahapan ini, naluri seksual tidak akan mengalami kematangan dini. Apalagi, bila Negara menerapkan penjagaan berupa menghilangkan berbagai fakta pembangkit naluri dalam kehidupan umum.

Dengan demikian, dalam islam, sama sekali tidak dikenal pendidikan seks sebagaimana barat.  Bahkan islam menganggap pendidikan seks ala barat sangat berbahaya.
Wallahua’lam

---
Rubrik Ruang Konsul Muslimah Diasuh oleh Ustadzah Deasy Rosnawati, Komunitas Perempuan Peduli Keluarga. Layangkan pertanyaan Anda seputar muslimah ke Inbox FP Muslimah Cinta Islam. Insya Allah pertanyaan Anda akan kami tanggapi.

Post a Comment

0 Comments