No untuk Valentine Day




Oleh : Denik Eka S., S.Si



14 Februari telah diidentikkan oleh sebagian remaja kita sebagai hari kasih sayang. Hari spesial dimana setiap orang akan mengungkapkan perasaan sayangnya terhadap orang yang dikasihi. Tata cara pengungkapannya bervariasi, mulai dari memberi bunga, coklat, bingkisan atau hanya sekedar mengucapkan selamat hari valentine.

Peringatan ini didukung oleh pensuasanaan di pusat perbelanjaan, hotel,ataupun kantor yang mulai memasang pernaik-pernik khas valentine. Mulai dari pita-pita, balon, boneka yang semuanya serba pink.

Peran media massa baik cetak ataupun elektronik juga luar biasa. Segala macam berita dan iklan senantiasa dikaitkan dengan hari valentine. Belum lagi penayangan film-film bergenre romantisme remaja baru-baru ini. Menjadikan valentine semakin melekat di benak kaum remaja dan semakin besar rasa untuk memperingatinya.

Menilik dari segi sejarahnya, hari valentine memiliki versi sejarah yang bermacam-macam. Yang inti semua sejarah tersebut mengarah pada satu hal, yakni bahwa valentine day berasal dari non muslim, tidak diajarkan di dalam Islam dan bertentangan dengan akidah Islam. Salah satu sejarah yang sudah diketahui kebanyakan orang yaitu hari Valentine berasal dari upacara keagamaan Romawi Kuno yang penuh dengan paganisme dan kesyirikan yakni Lupercalia. Upacara Romawi Kuno ini akhirnya dirubah menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day atas inisiatif Paus Gelasius I. Jadi acara valentine menjadi ritual agama Nashrani yang dirubah peringatannya menjadi tanggal 14 Februari, bertepatan dengan matinya St. Valentine. Yang pada perkembangannya hari tersebut disamarkan menjadi hari kasih sayang.

Sebenarnya sudah banyak remaja yang tahu bahwa merayakan Valentine itu dilarang di dalam Islam. Namun tetap saja banyak yang merayakan Valentine. Bisa jadi alasannya adalah takut dibilang kuper karena tidak ikut trend kekinian dan akhirnya ditinggalkan gengnya.

Padahal rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya”. (HR. Abu Daud)

Hadits tersebut telah mengharamkan umat Islam menyerupai kaum kafir dalam hal-hal yang menjadi ciri khas kekafiran mereka, seperti aqidah dan ibadah mereka, hari raya mereka, pakaian khas mereka, cara hidup mereka, dll. Maka perayaan hari Valentine ini termasuk yang terlarang untuk kita rayakan walau hanya sekedar ikut-ikutan saja.

Maka, sebagai seorang muslim wajib bagi kita meninggalkan sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT dan Rasulullah dan kembali pada aturan Islam. Allah SWT telah menurunkan Islam kepada Rasulullah sebagai agama yang sempurna. Islam adalah satu-satunya agama sekaligus sebuah pandangan hidup yang lengkap. Selain memiliki serangkaian tatanan ibadah, Islam juga memiliki solusi-solusi jitu dalam menyelesaikan segala permasalahannya. Mulai dari mengurusi masalah akidah dan ibadah, kehidupan rumah tangga, bertetangga, berekonomi, berpolitik, penyelenggaraan negara, militer, pendidikan, politik luar negri termasuk pengaturan pergaulan laki-laki dan perempuan dalam sistem sosial.

Ini adalah pekerjaan rumah bagi kita semua. Jangan pernah bosan untuk mengingatkan bahwa sebagai muslim, kita harus tegas untuk mengatakan tidak pada hari valentine.

Post a Comment

0 Comments