Mojok di Kafe, Khalwat atau Mujahirin?

Oleh: Deasy Rosnawati, S.T.P [Pemerhati perempuan Keluarga dan Generasi]

Kholwat adalah berdua-duaan. Seorang sekretaris perempuan, diskusi tentang evaluasi perkembangan usaha, berdua dengan bosnya yang laki-laki; disebut khalwat. Seorang guru laki-laki membimbing murid privatnya yang perempuan dalam latihan soal ujian, berdua; disebut kholwat. Seorang mahasiswa berkonsultasi dengan dosen pembimbingnya yang lawan jenis berdua dalam sebuah ruangan; juga disebut khalwat.

Jadi, khalwat pelakunya tidak harus sepasang kekasih. Siapa pun yang melakukan interaksi berdua dengan lawan jenis, di tempat yang sepi, yang jauh dari keramaian, atau berinteraksi di tempat yang ramai, namun memisahkan diri dari hiruk pikuk keramaian itu; interaksi semacam ini dihukumi khalwat.

Maka guru dan murid bisa berkhalwat. Dosen dan mahasiswa bisa berkhalwat. Pegawai kantor bisa berkhalwat. Karyawan dan majikan bisa berkhalwat. Tukang ojek dan penumpang bisa berkhalwat. Santri dan ustadz bisa berkhalwat. Dst.

Khalwat pun bisa terjadi dimana-mana. Di halaman sekolah, di kantor, di kendaraan, di teras rumah, di teras masjid, di taman, di ruang kelas, di ruang tamu dsb.

Bagaimana hukumnya? Khalwat diharamkan oleh islam, ketika dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang bukan suami istri, juga bukan mahrom. Nabi SAW bersabda, “Janganlah seorang laki-laki berkholwat dengan seorang wanita, kecuali bersama wanita itu mahromnya.” HR Muslim.

Adapun khalwat yang dilakukan sepasang suami isteri, atau dilakukan seorang wanita bersama mahromnya, bila dilakukan di tempat umum hukumnya syubhat (samar). Islam memerintahkan kita meninggalkannya. Atau bila terpaksa melakukan, islam mewajibkan pelakunya, menghilangkan kesyubhatan tersebut, dengan menjelaskan kepada orang-orang yang mereka kenal dan mereka temui, bahwa mereka berdua adalah suami istri atau keduanya memiliki hubungan mahram. Sebagaimana yang dicontohkan nabi SAW.

Dari Ali bin Husain bahwa Shafiyah binti Huyyai, istri nabi SAW mengabarkan kepadanya bahwa ia mendatangi Rasulullah SAW untuk mengunjungi beliau yang tengah beri’tikaf di masjid pada sepuluh terakhir Ramadhan. Lalu ia bercakap-cakap di sisi nabi di waktu isya’. Kemudian, shafiyah berdiri hendak kembali, beliau pun berdiri untuk mengantarkannya, hingga ketika tiba di pintu masjid didekat tempat tinggal ummu salamah istri nabi SAW, ada dua orang Anshor yang melewati keduanya. Lalu kedua orang Anshar itu mengucapkan salam kepada nabi, setelah itu keduanya berlalu. Maka nabi pun bersabda kepada kedua orang Anshar tersebut. “tetaplah di sana kalian berdua, sesungguhnya dia (yang bersamaku) adalah Shafiyah binti huyyai”… Muttafaqun ‘alaih.

Inilah hukum khalwat. Islam melarang sekali perbuatan ini dengan mengharamkannya bagi yang bukan suami istri atau mahram; dan memakruhkan bagi suami istri atau mahram, ketika mereka melakukannya di tempat umum, yang menimbulkan fitnah dan prasangka buruk.

Inilah khalwat yang pada faktanya menjadi pintu pembuka prilaku maksiat. Khalwat bisa mendorong terjadinya perubahan pandangan, dari pandangan biasa menjadi pandangan syahwat. Sekaligus, menjadi kondisi yang kondusif tergelincirnya sang pelaku dalam prilaku maksiat.

Sungguh, dengan hukum ini, islam menjaga ketinggian akhlak dan kesucian masyarakat. Dan islam menjaga masyarakat secara keseluruhan, dari hembusan fitnah. Yang bisa menyibukkan mereka, dalam kesibukan haram yang murahan yaitu gossip (ghibah).

Bila khalwat yang dilarang adalah khalwatnya dua orang yang melakukan kebaikan, maka khalwatnya sepasang kekasih di sudut kafe, di gubuk-gubuk tepi pantai, di taman, di teras rumah, bahkan di teras masjid, yang mereka lakukan bukan sekedar khalwat. Sesungguhnya, mereka adalah pelaku maksiyat yang secara terang-terangan tengah memamerkan maksiat.

Allah memasukkan para pemamer maksiat ini sebagai mujahirin. Mereka termasuk ke dalam golongan yang tidak diberi ampunan oleh Allah.

Dari Salim bin Abdullah, dia berkata,Aku mendengar Abu Hurairah ra bercerita bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa)…” HR Bukhari dan Muslim.

Wallahua’lam

Post a Comment

0 Comments